Yang Terbuang di Langsa dan Ditolak Keluarga di Pidie

·
Yang Terbuang di Langsa dan Ditolak Keluarga di Pidie
M Jamil, warga asal Pidie yang terlantar di Kota Langsa, meninggal dunia dalam perjalanan dari Langsa ke Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co — Mobil ambulans Pukesmas Keliling Kota Langsa dengan nomor polisi BL 134 F parkir di depan pintu masuk ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teungku Chik di Tiro, Kamis, 15 Oktober 2020, pukul 15.30 WIB.

Mobil tersebut disopiri oleh Ridwan. Dewi, salah satu staf Dinas Sosial Kota Langsa, duduk di sebelah Ridwan. Di belakang mereka, di ruang kabin pasien, Muhammad Jamil, 56 tahun, telah terbujur kaku.

Ambulans tersebut berangkat dari Kota Langsa pada Kamis, 15 Oktober 2020, pukul 09.30 WIB. Di belakangnya, melaju mobil double cabin dengan nomor polisi BL 8019 AJ, yang ditumpangi Kabid Rehabilitasi dan Perlindungan Jaminan Sosial Dinsos Kota Langsa, Kamalul Rusdi SST Pi.

Dua perawat, satu lelaki dan satu perempuan, tanpa menurunkan Muhammad Jamil dari dalam ambulans, menyatakan bahwa pria itu telah meninggal dunia setelah mereka memeriksanya.

Rencananya, Dinsos Kota Langsa hendak memulangkan M Jamil, yang terlantar di Kota Langsa, pada keluarganya di Gampong Keutapang Aree, Kecamatan Delima, Pidie.

Di Kota Langsa, M Jamil tercatat sebagai warga Blok C, Gampong Peukan Langsa. “Di Geureugok, kita berikan makan dan minum, tapi pak Jamil memuntahkannya. Di Batee Iliek, kami juga menawarkan minum pada Pak Jamil, tapi beliau menolak. Di SPBU Bambi, ketika kami hendak mengisi bensin, kami kembali menawarkan minum pada Pak Jamil, tapi beliau tak memberi jawaban,” kata Kamalul Rusdi, yang ditemui sinarpidie.co di RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli.

Selama tiga tahun, M Jamil tercatat sebagai orang terlantar dampingan Dinsos Kota Langsa. Telah berulang kali pula Dinsos Kota Langsa hendak membawa pulang M Jamil ke Pidie, tempat di mana sanak-saudaranya berada, namun M Jamil selalu menolak.

“Dua bulan yang lalu kami juga mengajak beliau pulang, tapi beliau menolak. Katanya ingin pulang sendiri ke Pidie setelah mengambil Bantuan Langsung Tunai atau BST di Kantor POS dua kali lagi,” kata Kamalul Rusdi lagi.

Lima hari yang lalu, Dinsos Kota Langsa mendapat kabar bahwa M Jamil sakit parah. Dinsos Kota Langsa awalnya hendak membawanya ke rumah sakit. Namun hal itu terhalang oleh M Jamil sendiri.

“Saya tidak mau berobat lagi. Saya ingin pulang saja,” kata Kamalul Rusdi, menirukan ucapan M Jamil padanya.

Pemulangan M Jamil juga semula memperoleh penolakan dari keluarga di Pidie. “Alasan keluarga, mereka membutuhkan waktu selama seminggu untuk menyiapkan gubuk tempat tinggal M Jamil,” sebut Kamalul Rusdi. “Kepala Dinas Sosial Pidie, Pak Muslim, memaksa kami untuk segera membawa pulang M Jamil pada Kamis. Ini karena desakan Pak Muslim untuk membawa Pak Jamil pulang. Jika Pak Jamil meninggal di Langsa tentu kita tidak akan antarkan lagi ke Sigli. Biasanya, Dinas Sosial mengantar orang terlantar menggunakan bus, tapi kali ini kita gunakan ambulans karena memang kondisi kesehatan Pak Jamil sangat buruk.”

M Jamil kerap memperoleh bantuan sembako dan sejumlah bantuan sosial lainnya dari Dinsos Kota Langsa. “Di sana Pak Jamil tinggal di ruko milik warga setempat. Sehari-hari, warga gampong setempat yang mengurus beliau,” sebut Kamalul Rusdi.

Sekitar 35 tahun yang lalu, M jamil muda meninggalkan kampung halamannya di Gampong Keutapang Aree, untuk merantau ke Kota Langsa. Di kota itu, M Jamil semula bekerja di toko baju hingga akhirnya ia memiliki modal lalu membuka toko baju sendiri dengan menyewa sebuah ruko dua lantai di Jalan Pasar Baru Blok C, Gampong Peukan Langsa, Kecamatan Kota Langsa, sekaligus menjadikan ruko tersebut sebagai tempat tinggalnya.

“Saya dua puluh tahun sudah berada di pajak (pasar-red). Mungkin Pak Jamil 15 tahun lebih awal dari saya,” kata Lizam, Kepala Dusun Blok C, Gampong Peukan Langsa, Kamis, 16 Oktober 2020.

M jamil menikahi istrinya, Syaribanun, yang tercatat sebagai Warga Gampong Meutia, Kecamatan Kota Langsa, sekitar 20 tahun yang lalu. Karena tidak memiliki anak, pasangan suami-istri ini mengangkat dua anak dari sepupu istrinya: M Danil dan Nabila Syakira. Empat tahun silam, pasangan ini bercerai. Usaha yang dirintis M Jamil puluhan tahun yang lalu lepas dari tangannya. Sejak saat itu, ia tercatat sebagai orang terlantar di Kota Langsa.

“Almarhum dimakamkan di samping rumah keluarganya di Gampong Keutapang Aree, Kecamatan Delima. Saya menerima perintah Bupati Pidie Roni Ahmad untuk segera memulangkannya ke kampung halamannya di Pidie,” kata Kepala Dinas Sosial Pidie, Drs Muslim, Kamis, 16 Oktober, di RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli. []

Loading...