Liputan Khusus 14 Tahun Tsunami

Yang Pergi dengan Kebaya Kuning

·
Yang Pergi dengan Kebaya Kuning
Kedua putri Maryam Husen: Khairatul Muna dan Putri Sari. (Repro: sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.coDUDUK BERSIMPUH di lantai semen Rumoh Aceh, Safiah, 75 tahun, warga Gampong Masjid Tungue Ulee Jurong Baroh, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, memukul-pukul pahanya. Mulutnya komat-kamit. Air mata membikin pipinya basah dan mengucur deras tatkala ia menceritakan kembali jenazah putri semata wayangnya, Maryam Husen, yang telah ditemukan setelah 14 tahun tak diketahui keberadaannya.

“Kami kebumikan dia di samping rumah,” kata Safiah pada sinarpidie.co, Sabtu, 23 Desember 2018 di kediamannya.

Safiah, 75 tahun, warga Gampong Masjid Tungue Ulee Jurong Baroh, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Ibu Maryam Husen. (sinarpidie.co/Firdaus).

Di tempat terpisah, di Kajhu, Aceh Besar, Egi Juliansyah, 22 tahun, mengisahkan awal mula ia menemukan kantong jenazah korban tsunami.

Senin, 17 Desember 2018, hujan mengguyur Kajhu, Aceh Besar, sejak pagi hingga petang. Sekira pukul 17.00 WIB, saat hujan telah reda, Egi Juliansyah, salah seorang pekerja bangunan yang sedang membangun sebuah perumahan di sana, menggali lubang untuk septic tank.

“Seharusnya bukan saya yang gali tapi teman satu lagi. Setelah menggali, baru 50 sentimeter, saya temukan bungkusan plastik warna biru,” kata dia, Senin, 24 Desember 2018 pada sinarpidie.co.

Penasaran dengan isi kantong, Egi membukanya dan menemukan banyak tulang-belulang. Ia terperanjat.  Egi dan pekerja lainnya lantas memanggil pengurus masjid gampong setempat.

Egi Juliansyah, 22 tahun (kiri) menunjukkan lokasi penemuan kantong jenazah. (sinarpidie.co/Syahrul).

“Ditutup kembali. Keesokan hari baru dilakukan pembongkaran. Dilakukan dengan perangkat desa, polisi, dan TNI. Secara manual. Ternyata masih banyak. Maka, kami gunakan eksavator. Alhasil, ditemukan 46 enam kantong jenazah. Satu kantong berisikan kayu,” kata dia.

Dari 45 kantong jenazah, hanya empat korban yang terindentifikasi, yakni Sri Yunita, Faizal Reza, Burhanuddin, dan Maryam Husen.

JUMAT, 24 DESEMBER 2004, sebuah mobil bak terbuka disesaki warga Gampong Masjid Tungue Ulee Jurong Baroh, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Mobil itu hendak menuju ke salah satu rumah di Kajhu, Aceh Besar.

Maryam Husen, yang hari itu mengenakan setelan kebaya kuning, juga duduk berdesakan bersama warga lainnya pada bak terbuka mobil tersebut.

KTP Merah Putih milik Maryam Husen. KTP ini berlaku saat pemberlakuan Darurat Militer di Aceh. (sinarpidie.co/Firdaus).

Mereka, umumnya perempuan paruh baya di gampong setempat, hendak menghadiri Kenduri Sunat Rasul (khitan) kedua putra Burhan, bukan nama sebenarnya, seorang dosen di salah satu universitas di Banda Aceh, pada Minggu, 26 Desember 2004 silam.

Kelak, Burhan, istrinya yang saat itu tengah mengandung, dan putra bungsunya, meninggal dunia dalam bencana itu. Sementara dua putranya yang hari itu duduk di pelaminan kecil, Andi dan Budi—bukan nama sebenarnya— selamat setelah sang ayah meletakkan tangga di salah satu dinding di rumah itu dan meminta keduanya bergegas naik ke loteng.

Bertolak dari gampong sejak Jumat lantaran para perempuan itu hendak membantu memasak, cuci piring, dan membantu kesiapan kenduri di rumah Burhan, yang tak lain merupakan warga Gampong Masjid Tungue Ulee Jurong Baroh, yang menetap di Kajhu, Aceh Besar.

Maryam Husen dikebumikan di kediamannya di Gampong Masjid Tungue Ulee Jurong Baroh, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Di Gampong Tungue, sedikitnya 30 warga (sebagian warga mengatakan 70 warga) yang berangkat ke Kajhu, Aceh Besar. Dari 30 tersebut, lima di antaranya selamat dari terjangan tsunami, yang jumlah korban tewas di Aceh disebut-sebut sekitar 170.000 orang.

Selain Mariam, jenazah Muhammad Saleh ditemukan pada 2007 silam. Hanya dua warga di gampong itu yang jenazahnya ditemukan.

sinarpidie.co hendak mewawancarai dua di antara lima warga yang selamat tersebut, yang masih menetap di Gampong Tungue (tiga lainnya telah merantau). Namun, keduanya menolak untuk diwawancarai.

SUATU HARI DI TAHUN 2003, Abdurrahman, 52 tahun, suami Maryam Husen, memboncengi dua pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan sepeda motornya. Nahas, motor yang dikendarainya berpas-passan dengan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sempat terjadi kontak senjata. Dua anggota GAM tersebut belakangan tewas. Tindakan itu ternyata berbuntut panjang. Abdurrahman dipukuli, diperiksa, dan sempat di penjara. Bebas dari penjara, ia pergi meninggalkan kampung dan Maryam Husen, yang saat itu masih menggandung Putri Sari, ke Jawa Timur.

Pada 19 Mei 2003, Pemerintah Pusat melancarkan operasi militer di Aceh dengan mengirimkan lebih dari 30.000 serdadu dan 12.000 polisi. 

Abdurrahman baru pulang ke Gampong Tungue, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, pada 2016, saat Khairatul Muna, putri sulungnya menikah. Kini, Abdurrahman telah menikah lagi.

Pasangan Abdurrahman dan Maryam Husen, perempuan kelahiran 1970, itu, memiliki dua putri: Khairatul Muna dan Putri Sari.

Putri Sari, 17 tahun, yang kini duduk di bangku kelas satu Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kembang Tanjong, tak lagi melanjutkan sekolah karena sejak sang nenek mengalami patah kaki, tak lagi ada yang membiayai sekolahnya.

Sebelumnya, sang nenek, bekerja sebagai buruh tani (sawah orang lain).

“Sejak saya patah kaki, jangankan sekolahkan dia (Putri Sari-red), untuk makan saja susah,” kata dia.

“Sudah enam bulan saya tidak masuk sekolah,” kata Putri Sari. []

Reporter: Syahrul dan Firdaus

Komentar

Loading...