Yang Menunggu Geunteng Timu dan Geunteng Barat Tergerus Abrasi

·
Yang Menunggu Geunteng Timu dan Geunteng Barat Tergerus Abrasi
Rumah warga Gampong Geunteng, Kecamatan Batee, Pidie, yang terkena abrasi. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co--Pada 9 Agustus 2019, bertepatan dengan meugang Hari Raya Idul Adha, Yuspina, 25 tahun, warga Gampong Geunteng Barat, mendapati halaman belakang rumahnya telah terkikis air laut. Sejak saat itu, ia lantas meletakkan ratusan karung berisikan tanah urug di halaman belakang rumahnya tersebut. Selain itu, ia juga menancamkan bilah-bilah bambu di sana.

“Karung-karung ini saya buat sendiri,” kata Yuspina, akhir September 2019 lalu.

Cerita yang lebih miris, dua kuburan warga Gampong Geunteng Timu, Kecamatan Batee, Pidie, telah dipindahkan. Sementara, sejumlah kuburan lainnya di tanah pemakaman umum milik gampong tersebut telah disapu air laut karena abrasi.

“Jangan tanya berapa, karena kuburan lama, yang sudah kena abrasi sekitar 150 meter, mungkin lebih. Awal abrasi setelah dibangun batu gajah ke tengah laut yang di PPI Kuala Pasi Peukan Baro. Karena dibangun sisi sebelah sana sama dengan menghancurkan Geunteng, karena Geunteng Timu dan Geunteng Barat diapit oleh dua Kuala Batee dan Kuala Pasi Peukan Baro,” kata Bukhari, Keuchik Gampong Geunteng Timu, Kecamatan Batee, Pidie, Kamis, 10 Oktober 2019.

Kata dia, sebelum break water di PPI Kuala Pasi Peukan Baro dibangun pada 2006 silam, air laut tidak pernah menjangkau daratan tempat di mana kebun dan rumah-rumah warga berdiri. Akibatnya, break water tersebut, kata dia, menahan gelombang laut sehingga terjadi abrasi di Gampong Geunteng Timu dan Geunteng Barat.

“Kini bibir pantai yang sudah hilang 200 meter. Saya berharap secepatnya pemasangan tanggul di sepanjang  pantai di Gampong Geunteng Timu, Gampong Genteng Barat, dan Gampong Beurandeh,” kata dia.

Keuchik Gampong Geunteng Barat, Saiful Azmi, menguraikan, jumlah rumah warga yang pertama kali diterjang air laut pada 2008 silam. Kata dia, terdapat 5 rumah warga yang terkikis abrasi tahun 2008.

“Rumah Hasyem, rumah Joni, rumah Hasanudin, rumah Mustafa. Satu lagi lupa saya rumah siapa karena data dari keuchik sebelum saya. Pada akhir 2016, jatuh 6 rumah, yaitu rumah milik Hasballah, alm M Yamin Yahya, Muluddin, Nurdin, Reva, dan Adnan,” kata Saiful Azmi, Kamis, 10 Oktober 2019.

Panjang garis pantai di Gampong Geunteng Barat 1,5 km, namun pada 2010, pemerintah hanya membangun tanggul sepanjang 300 meter. Semenjak tanggul sepanjang 300 meter itu dibangun, ia tak menampik banyak rumah warga yang selamat dari abrasi.

“Kami menginginkan seluruh wilayah Geunteng Barat dibangun batu gajah, dengan total 1.500 meter belum termasuk wilayah Geunteng Timur,” kata dia.

Kerugian materil warga gampong tak hanya terjadi per individu tapi juga tanah milik gampong ikut lenyap.

“Bulan Desember puncak pasang air laut. Kami berharap Pemkab Pidie bersedia membangun tanggul darurat dengan pohon kelapa. Perlu eksavator untuk menancapkan batang-batang kelapa. Jika tidak, saat air pasang nanti, akan banyak lagi rumah warga akan hilang,” tutupnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Dewan Ansari mengatakan, pihaknya akan mengkaji terlebih dahulu apakah anggaran untuk menangani abrasi tersebut masuk ke dalam dana tanggap darurat atau regular.

“Kami akan duduk dulu dengan Sekda dan berkoordinasi dulu dengan PU PR Pidie. Kami sudah duduk dengan Sekda dan PU kemarin. Kami akan duduk sekali lagi,” kata Dewan Ansari pada sinarpidie.co, Kamis, 10 Oktober 2019.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pidie Ir Samsul Bahri MSi mengatakan, penanganan hal itu merupakan ranah BPBD.

“Yang ditangani mungkin pembangunan tanggul sementara. Kalau kita pasang batu harus melibatkan Balai Wilayah Sungai Sumatera I. Kami sudah lapor dan telah menyurati balai dan Dinas Perairan Aceh,” kata dia, Kamis, 10 Oktober 2019. []

Loading...