Kuliner

Yang Menjadi Lauk di Rumah Duka

·
Yang Menjadi Lauk di Rumah Duka
Boh Meu U. (sinarpidie.co/Ayu Muliana).

sinarpidie.co—Darmi, 52 tahun, warga Gampong  Pulo Seunong, Kecamatan Tangse, Pidie, tengah mengaduk kelapa yang telah diparut bersama rempah-rempah—bawang merah, bawang putih, daun serai, lada, dan cabai rawit—yang telah digiling di halaman belakang sebuah rumah duka di gampong setempat, awal pekan lalu.

"Ini boh meu u," kata Darmi, menyebut nama makanan yang menyerupai perkedel kelapa itu.

Darmi membubuhi garam dalam adonan campuran kelapa yang telah diparut dan bumbu-bumbu yang telah giling. Setelah adonan teraduk rata, perempuan berkulit sawo matang itu membuat adonan bola-bola.

“Kocokan telur sebagai perekat kelapa juga sangat penting,” kata dia.

Setelah semua adonan dibentuk bulat-bulat, minyak makan mulai dipanaskan. Sejurus kemudian, boh meu u mulai digoreng hingga mereka berwarna keemasan.

Boh meu u terasa gurih dengan aroma rempah-rempah yang khas.

Menurut Darmi, boh meu u merupakan menu wajib ketika tahlillan orang meninggal digelar, sebagai lauk, selain daging dan ikan.

Irmayanti Meliono-Budianto, dalam hasil penelitiannya yang dimuat pada jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 8, No. 2, Agustus 2004, menuliskan, ekspresi simbolik pada makanan “muncul ketika makanan itu disajikan pada berbagai peristiwa yang dialami oleh individu maupun masyarakat”.

“Kebersamaan menjadi inti dari keterikatan masyarakat ketika makan bersama pada ritual tersebut,” tulisnya. []

Loading...