Laporan mendalam

Yang Mati sebelum Beranak

·
Yang Mati sebelum Beranak
Tempat sapi PO betina dikandangkan di Gampong Rapana, Kecamatan Mutiara, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Pengadaan sapi PO betina untuk peningkatan produksi hasil peternakan atau peningkatan populasi ternak ruminansia tidak diberengi dengan transfer pengetahuan tentang cara penanganan sapi-sapi tersebut pada kelompok tani. Di samping itu, ketiadaan infrastruktur juga menjadi salah satu faktor, sapi mati sebelum beranak-pinak.

sinarpidie.co—Kandang sapi itu tampak sibuk pada Sabtu 6  Januari 2018 sore. Seorang pemuda sedang menaruh pakan sapi pada sebuah tempat yang serupa bak mandi bayi, sementara dua lainnya membersihkan kandang.

Seorang perempuan paruh baya menyalakan api di dekat kandang. Asap perapian menyeruak melalui celah dinding-dinding papan kandang seluas 6 x 20 meter itu. Dua sapi diikat pada satu los.

“Sapi bantuan, sebanyak 40 ekor sapi betina. Sudah mati dua ekor. Tinggal 38 ekor,” kata Hanafiah, 70 tahun, warga Gampong Rapana, Kecamatan Mutiara, di areal kandang tersebut.

Ayah enam anak itu merupakan salah seorang dari 13 anggota kelompok Tabina Bersama, yang memperoleh bantuan pengadaan 40 ekor sapi Peranakan Ongole (PO), yang sumber dananya berasal dari APBA 2017 pada Dinas Peternakan Aceh.

Kata Hanafiah, semula kandang itu dibangun pada 2015 silam dengan dana gampong. "Untuk tempat sapi kurban," ujarnya.

Di lain pihak, Ketua Kelompok Tabina Bersama Muslim, 38 tahun, mengatakan, dua ekor sapi milik kelompoknya mati sekitar tiga minggu yang lalu.

“Sakit di leher. Lain-lain sakitnya. Sapi-sapi (mati-red) itu tidak banyak makan,” kata Muslim, Sabtu 6 Januari 2018.

Sumber terpercaya sinarpidie.co, yang memeriksa kesehatan ke-40 sapi bantuan pemerintah itu mengatakan, matinya dua ekor sapi di sana karena kekurangan gizi.

“Sapi itu, sapi besar (PO-red). Kalau tidak cukup makanan, ya sakit lalu mati. Sistem imunnya sudah tak kuat. Dan mudah terserang penyakit,” kata dia, yang identitasnya enggan dituliskan.

Menurutnya, kapasitas pakan untuk sapi PO adalah 30 sampai 50 kg rumput atau konsentrat per hari. “Empat kali lebih besar kebutuhan pakannya dibandingkan sapi lokal,” kata dia lagi.

Nyatanya, kelompok tani memperlakukan sapi-sapi berumur sekitar 1, 5 tahun itu sama dengan perlakuan terhadap sapi lokal.

Di Gampong Trieng Cudo Tunong, Kecamatan Tiro Trusep, kelompok Barona memperoleh 15 ekor sapi PO betina. Kini, sisa sapi di sana 14 ekor, sebab satu ekor lainnya telah disembelih setelah sebelumnya sapi itu sakit-sakitan.

Amatan sinarpidie.co, kondisi sapi-sapi di sana tidaklah terurus dengan baik. Dua di antaranya dikandangkan di pinggir jalan. Kandang dadakan.

Kandang seekor sapi PO betina di Gampong Trieng Cudo Tunong, Kecamatan Tiro-Truseb, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

“Saat sapi bantuan itu sampai, kami kebetulan sibuk dengan musim ke sawah. Jadi untuk saat ini, sapi-sapi bantuan tersebut dibawa pulang ke rumah anggota masing-masing. Akan disatukan kembali nanti,” kata Ibrahim, 31 tahun, salah seorang anggota kelompok Barona, Minggu, 7 Januari 2018.

Kata dia, kandang untuk sapi-sapi bantuan telah disiapkan dan akan rampung dalam waktu dekat.

“Di atas bukit. Agak jauh,” ungkapnya.

Kandang dan sapi PO betina di Gampong Trieng Cudo, Kecamatan Tiro-Truseb, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

Di Pidie, ada tiga kelompok yang menerima bantuan pengadaan sapi PO. Selain kelompok Barona dan Tabina Bersama, Yayasan Baitul A’la juga memperoleh 13 ekor sapi PO betina.

“Posisi sapinya di Tampieng, Caleue. Pengelolaan di bawah Yayasan. Yayasan memberikan pada kelompok dengan sistem bagi hasil. Ada perjanjiannya. Sistem mawah,” kata ketua Yayasan Baitul A’la Zulkarnain Kamal via telepon selular, Selasa 9 Januari 2018.

Nilai kontrak untuk pengadaan 40 ekor sapi bagi Kelompok Tabina Bersama, Gampong Rapana, Kecamatan Mutiara adalah Rp 574.950.000. Adapun pagu anggaran adalah Rp 600 juta. Pemenang tender proyek pengadaan sapi ini adalah CV Paninsula Surja.

Untuk pengadaan sapi PO betina bagi Kelompok Barona, Gampong Trieng Cudo Tunong, Kecamatan Tiro-Truseb, nilai kontraknya adalah Rp 217. 524. 000. Pagu anggaran adalah Rp 225.000.000.Yang memenangkan tender pengadaan proyek pengadaan sapi di tempat tersebut adalah CV Cahaya Aygib.

Sementara itu, sinarpidie.co tidak memperoleh data menyangkut nilai kontrak pengadaan 13 ekor sapi PO betina untuk Yayasan Baitul A’la.

Namun, pagu anggarannya sama dengan pagu anggaran pengadaan sapi PO betina untuk kelompok Barona, yakni Rp 225.000.000.

Kepala Dinas Peternakan Aceh drh Zulyazaini Yahya MSi pada sinarpidie.co, Selasa 9 Januari 2018, mengatakan, pihaknya akan menelusuri penyebab kematian sapi PO betina di Pidie.

Kepala Dinas Peternakan Aceh drh Zulyazaini Yahya MSi. (sinarpidie.co/Firdaus).

“Jika sapi itu mati dalam masa adaptasi selama tujuh hari, itu menjadi tanggungjawab rekanan. Kalau di atas itu, kita akan evaluasi kembali,” ujarnya.

Tampaknya, kelompok-kelompok tani tersebut tak memperoleh informasi yang cukup terkait tujuan pengadaan sapi PO betina tersebut— untuk peningkatan populasi ternak ruminansia.

Hal ini disimpulkan dari keterangan narasumber yang umumnya tidak mengetahui jenis sapi tersebut dan mengatakan sapi-sapi tersebut untuk sapi potong.

Di samping itu, kelompok-kelompok tani tersebut juga belum memiliki infrastruktur yang memadai untuk mencapai tujuan program peningkatan produksi hasil peternakan.

Rp 6 milliar untuk pengadaan sapi PO di Aceh

Pagu anggaran pengadaan sapi PO betina untuk kelompok-kelompok tani di seluruh Aceh adalah Rp 6 milliar. Sumber dananya berasal dari APBA 2017 dengan satuan kerja Dinas Peternakan Aceh. Kelompok-kelompok tani penerima bantuan sapi PO betina tersebut tersebar di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Bireun, dan Aceh Jaya.

“Ya sekitar itu (Rp 6 milliar-red). Untuk seluruh Aceh,” kata Kepala Dinas Peternakan Aceh drh Zulyazaini Yahya MSi. “Akhir bulan satu ini, tim akan turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi. Yang kedua, untuk melakukan pembinaan. Mereka yang telah menerima bantuan tersebut sudah kita anggap kelompok binaan. Saya bertekad, semua kelompok ini, kita SK-an menjadi kelompok binaan. Kita tidak akan lepas begitu saja.”

Dia juga mengatakan, kegiatan peningkatan populasi ternak ruminansia itu adalah melalui inseminasi buatan (IB) atau lewat kawin suntik.

“Semoga tempat penerima manfaat bisa menjadi pabrik sapi, yang memproduksi sapi setiap tahun. Kalau betina pastikan akan meningkat populasinya. Pada saat sapi-sapi ini birahi kita akan kawin suntikkan. Dengan harapan, akan lahir nantinya sapi-sapi dengan tingkat produktivitas yang lebih bagus,” kata dia, menjelaskan. “Saya berharap bahwa akan ada peningkatan populasi sapi di Aceh. Yang kedua, ke depannya, bobot potong sapi akan meningkat daripada sekarang. Hasil daging yang lebih banyak. Sapi lokal pun sekarang sedang kita tingkatkan kualitas dan bobotnya. Sekarang kita sudah bangun balai inseminasi buatan untuk sapi Aceh.” []

Loading...