Xarim MS dan Para Koresponden Penjedar

·
Xarim MS dan Para Koresponden Penjedar
Capture Penjedar yang memuat iklan novel Xarim MS. Sumber: Perpustakaan Nasional.

sinarpidie.co--Majalah Penjedar merupakan salah satu surat kabar mingguan yang paling banyak dibaca oleh masyarakat Aceh pada tahun-tahun 1930-an. Loper yang menyebarkan majalah ini di Aceh, yang juga menjadi koresponden majalah Penjedar adalah Hasan Aly, Peutua Husen, dan Djohan Ahmad. Selain Penjedar, belakangan, ketiganya juga menjadi loper dan koresponden pada surat kabar mingguan Seruan Kita. Baik Penjedar maupun Seruan Kita merupakan surat kabar yang berkantor pusat di Medan.

Adalah pada 1938, empat tahun sebelum Belanda meninggalkan Aceh, tulisan-tulisan yang mengkritik tabiat uleebalang dalam memerintah membanjiri halaman majalah Penjedar.

Kritikan tersebut ditanggapi Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda secara serius. Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, misalnya, memberhentikan Teuku Umar Keumangan sebagai Uleebalang Keumangan karena ia kerap melakukan peyimpangan dan penyalahgunaan jabatan.

Salah satu tulisan pada surat kabar Penjedar yang disebut-sebut sempat membuat publik di Aceh terkagum-kagum berjudul Atjeh Problemen. Artikel tersebut ditulis oleh HM Zainuddin, yang menggunakan nama pena Atjeher. HM Zainuddin, yang merupakan seorang sarjana pertanian yang memilih menekuni profesi sebagai wartawan, berasal dari Njong. Ia penulis buku sejarah, novel, dan artikel jurnalistik.  Novel H.M Zainuddin—Jeumpa Atjeh— diterbitkan penerbit Balai Pustaka pada 1928. Tahun itu, Balai Pustaka juga menerbitkan novel Salah Asuhan (Abdul Muis), Asmara Jaya (Adinegoro), dan Salah Pilih (Nur Sutan Iskandar).

Atjeh Problemen yang dimuat Penjedar “No. 21 ddo. 25 Desember 1938” menguliti praktik penyalahgunaan jabatan yang dilakukan uleebalang-uleebalang di Pidie.

Artikel tersebut memancing kemarahan uleebalang di Pidie. Artikel sanggahan atau artikel yang isinya membantah isi artikel Atjeh Problemen pun ikut dimuat di Penjedar.

Daya rusak Atjeh Problemen

Penulis dengan nama pena AML, dalam artikel Atjeh Problem dan Residen Pauw dengan Politiek Atjeh, menyebut tulisan Atjeher (HM Zainuddin) sebagai produk pers yang tidak bermutu, yang direspon oleh redaksi Penjedar: “Samboetan toean A.M.L. kita terima dengan segala senang hati, menandakan Atjeh Problemen itoe tjoekoep dapat perhatian, dan menerbitkan konkloesi pada redaksi bahwa tentang Atjeh Prolemen orang tidak satoe pendapat. Redaksi Penjedar bersedia memboeka koloman seloeas2nja spesial terhadap discussie ini.”

Pada bagian selanjutnya, Penjedar menekankan: “Pada awal artikel Atjeh Problemen kita soedah memberi kata pengantar bahwa maksoed kita dengan menempatkan toelisan itoe ialah oentoek kritik jang opbowwend. Kita menjeroekan soepaja djangan diambil djahatnya, tapi ambillah faedahnya…”

Djohan Ahmad, dalam rubrik surat pembaca Penjedar (Gelanggang Pembatja), menuliskan dukungannya pada Atjeher dan artikel Atjeh Problemen. Dalam tulisan yang yang berjudul Rajat Atjeh Bersenang Hati dan Bergembira Oetjapan Terima Kasih akan Madjallah Penjedar, Djohan Ahmad menuliskan: “Artikel jang nilaian emas itoe, rajat tak dapat meloepai akan penoelisnja dan oetjapan selamat dan bahagia padanya,  bersama2 dengan Madjallah Penjedar jang mementingkan akan rajat Atjeh salah satoe rajat yang masih sangat tertinggal dalam kemadjoean masjarakatnja, jang semata2 boekan dari sebab lalainja dan mandjanja, sehingga sekalian rampasan atas dirinya, hinaan jang tak pada tempatnja menjadi koeda beban setiap hari dan waktoe...”

Anthony Reid, dalam bukunya Sumatera Revolusi dan Elite Tradisional, menuliskan Peutua Husen, Hasan Aly, dan Djohan  Ahmad  pernah didakwa melawan gubernemen karena aktivitas tulis-menulis mereka di media massa. “Ketiadaan bukti akhirnya membuat Hasan Aly dan Djohan Ahmad dibebaskan kembali,” tulis Reid.

Penjedar didirikan oleh Abdul  Xarim M.S, sastrawan kiri, aktivis pergerakan nasional, dan anggota Partai Komunis. Pemimpin redaksi Penjedar kemudian beralih pada Mohammad Said. Pada 1939, Mohammad Said meninggalkan Penjedar dan mendirikan Seruan Kita.

Anthony Reid, dalam bukunya Sumatera Revolusi dan Elite Tradisional menyebutkan pemodal Seruan Kita ialah Teuku Laksamana Husen Njong, Sekretaris II Perkumpulan Jamiatu’ddiniah yang dipimpin Daud Beureueh. Menurut Reid, pengalihan pimpinan redaksi dari Xarim ke Said semata-mata karena alasan yang bersifat taktis. Di samping itu, tujuan dan dasar penerbitan Seruan Kita juga sama dengan tujuan dan dasar penerbitan Penjedar.

Pada 11 Januari 1947, Mohammad Said mendirikan surat kabar harian Waspada. Penulis buku Aceh Sepanjang Abad ini meninggal di Medan, 26 April 1995, dalam usia 89 tahun.

Kemelut dalam revolusi fisik

Xarim, yang bernama lengkap Abdul Karim bin Moehamad Soetan, lahir di Idi, Aceh Timur, pada 18 Juni 1901. Sebelum memimpin redaksi Penjedar, Xarim juga pernah memimpin redaksi Hindia Sepakat (Sibolga) dan Oetoesan Rak’jat (Langsa). Pada Desember 1945, Xarim menerbitkan majalah mingguan Pandoe Merah. Di samping memimpin redaksi sejumlah surat kabar, Xarim merupakan komisaris CC-PKI untuk Sumatera.

Jika Hasan Aly, dalam Revolusi Fisik (1945-1950), setidaknya pernah menjabat sebagai Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI) Cabang Sigli, —PRI sebelumnya bernama Barisan Pemuda Indonesia (BPI)/condong ke PUSA dan PRI pada 10 Desember 1945 menyatakan diri sebagai bagian dari Pesindo—Peutua Husin tewas saat menghadang pasukang Jepang di Alur Merbau, Langsa pada 24 Desember 1945, dan Djohan Ahmad juga tewas dibunuh.

Baca juga:

Pada 16 Desember 1945, tentara Jepang bergerak dari Pangkalan Brandan ke Kuala Simpang lalu ke Langsa. “Tentara Jepang menjadi marah karena rakyat Langsa telah merampas alat senjata Jepang di sana dan barang-barang lainnya,” tulis Mr Teuku Moehammad Hasan dalam bukunya Dari Aceh ke Pemersatu Bangsa.

Pada awal-awal Revolusi Fisik, Xarim menjadi penasehat politik dan Asisten Gubernur Sumatera, Mr Teuku Moehammad Hasan. Beberapa hari sebelum meletusnya Perang Cumbok, Mr Hasan dan Xarim sempat berkunjung ke Pidie untuk meredakan suasana.

Nazaruddin Sjamsuddin, dalam Revolusi di Serambi Mekkah, menuliskan saat Mr Hasan kembali ke Medan, Xarim memilih menetap di Sigli selama beberapa hari. Di Sigli, Xarim mencoba membangun antagonisme antara ulama dan uleebalang agar semakin meruncing, terlebih dalam hal memperebutkan senjata Jepang. “Namun Xarim segera kembali ke Medan ketika suasana di Sigli kembali memanas, sekalipun hal ini tidak berarti bahwa kegiatannya pun berhenti,” tulis Nazaruddin Sjamsuddin.

Xarim, menurut Nazaruddin Sjamsuddin, memerintahkan Djohan Ahmad, yang pernah menjadi koresponden Penjedar dan Seruan Kita, untuk mempertajam pertentangan antara kelompok ulama dan uleebalang. “Pada 23 Desember, Djohan Ahmad menyampaikan pada pihak uleebalang salinan telegram yang dikirimkan Pesindo (PRI) di Sigli kepada Residen Aceh dan Xarim MS,” sebut Nazaruddin Sjamsuddin.

Isi telegram tersebut ialah tentang kekejaman, teror, dan perampokkan yang dilakukan pasukan uleebalang. Di lain sisi, Djohan menceritakan pada kelompok PUSA dan PRI bahwa uleebalang terus berusaha memperoleh senjata Jepang.

Djohan Ahmad dibunuh oleh pemuda PRI/Pesindo menjelang meletusnya Perang Cumbok. Kedekatannya dengan uleebalang saat ia melakukan infiltrasi ke kelompok tersebut telah salah dipahami oleh PRI/Pesindo.  Sementara, Xarim meninggal dunia pada 21 Oktober 1960, delapan tahun setelah ia keluar dari PKI. []

Komentar

Loading...