WALHI Sorot Anggaran Rp 160 M Perlindungan Satwa di Aceh

·
WALHI Sorot Anggaran Rp 160 M Perlindungan Satwa di Aceh
Seekor orangutan Sumatera terisolasi. Ia bertahan hidup di sisa petak hutan yang terfragmentasi akibat jalan yang baru saja dibuka oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Nia Yulided, di Aceh Timur Oktober 2020. Dok. RAN.

sinarpidie.co -  Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh menyorot kinerja lembaga Konsorsium Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-Sumatera) yang mengelola anggaran Rp 160 miliar untuk perlindungan satwa di Aceh, tapi kasus konflik satwa dan kematian satwa terus terjadi.

Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur, Rabu, 3 November 2021, menuturkan sejak 2012 hingga 2021 anggaran yang digelontorkan oleh TFCA-Sumatera untuk 12 lembaga konsorsium mencapai Rp 160 miliar lebih. "Jika dibagi per tahun sekitar Rp 17,7 miliar. Tapi fakta di lapangan, kerusakan hutan, kematian satwa, konflik, dan perburuan terhadap satwa lindung terus terjadi. Dampak perlindungan tidak sebanding dengan anggaran yang dihabiskan,” kata Nur dalam keterangan tertulis yang diterima sinarpidie.co, Rabu, 3 November 2021.

Nur menyebutkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan Walhi Aceh, sejak 2016 hingga 2021 terdapat 46 individu gajah mati, sebagian besar karena konflik dan sisanya karena perburuan dan kematian alami.  "Kasus perdagangan kulit harimau juga terjadi. Konflik gajah juga masih masif terjadi. Artinya uang besar yang dihamburkan TFCA tidak  menyelesaikan persoalan konflik satwa-manusia,” kata Muhammad Nur lagi.

Menurut Walhi Aceh, sebut M Nur, konflik gajah bukan hanya berdampak pada keberlangsungan hidup satwa, melainkan juga memberikan dampak kerugian ekonomi pada warga. “Namun, warga yang terdampak tidak pernah diberi ganti rugi dan minim dilibatkan. Mereka hanya jadi objek atas program perlindungan satwa,” sebut M Nur. "Semestinya dengan anggaran sebesar itu warga yang berada di kawasan hutan dapat dilibatkan penuh sebagai komunitas perlindungan satwa digaris utama."

Program Aksi nyata Konservasi Hutan Tropis Sumatera merupakan satu skema pengalihan utang untuk lingkungan (debt-for-nature swap) oleh Pemerintah Amerika Serikat dengan Pemerintah Indonesia yang ditujukan untuk melestarikan kawasan hutan tropis di Sumatera. 

Kesepakatan antara kedua negara dan para pihak yang terlibat (Yayasan KEHATI dan Conservation International Indonesia) ditandatangani pada tanggal 30 Juni 2009 bertempat di Manggala Wanabhakti, Jakarta.

Di Aceh anggaran program TFCA-Sumatera dikelola oleh konsorsium, yakni Konsorsium Orangutan Information Center, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Konsorsium Jantho Lestari, Konsorsium Suar Galang Keadilan, CRU Aceh, Forum Konservasi Leuser, Yayasan Leuser International (YLI), Yayasan Orangutan Sumatra Lestari (YOSL), North Sumatra Rhino Consorsium, dan Veterinary Society For Sumatra Wildlife (Vesswic). []

Loading...