Sejarah

Wabah di Tengah Perang Aceh

·
Wabah di Tengah Perang Aceh
Rumah Sakit Militer Pante Perak di Kuta Raja atau Banda Aceh. Rumah sakit ini selesai dibangun pada 1880. Sumber foto: Tropen Museum.

TENDA-TENDA darurat didirikan di tepi sungai Peunayong.  Tempat tidur di dalam tenda tersebut hanyalah jerami basah karena hujan setiap hari mengguyur Banda Aceh pada Desember 1873, beberapa bulan setelah pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal J. Van Swieten melancarkan ekspedisi militer Belanda yang kedua kalinya ke Aceh setelah ekspedisi yang pertama di bawah pimpinan J.H.R Kohler pada April tahun yang sama gagal, dan sang mayor jenderal yang memimpin ekspedisi itu tewas tertembak.

Pada akhir Desember 1873, 150 orang yang dirawat di dalam tenda-tenda darurat itu telah meninggal dunia karena kolera, sementara jumlah yang dirawat tak kurang dari lima ratus pasien di tengah-tengah luapan Kreung Aceh itu.

Paul Van’t Veer dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985) merinci jumlah personil yang dikirim ke Aceh dalam ekspedisi yang kedua ini hampir tiga belas ribu orang: 389 perwira, 8.156 bawahan, 1.037 pelayan perwira, 3.280 narapidana, dan 243 perempuan.  Menurut Paul Van’t Veer, sejak di dalam kapal saat menuju ke Aceh tak kurang 60 orang meninggal karena terpapar kolera. Wabah ini telah merebak di Batavia atau Jakarta pada tahun-tahun sebelumnya.

Angka kekuatan personil militer ini jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah personil pada ekspedisi pertama, yakni tiga ribu orang yang terdiri dari sekitar seribu tamtama dan bintara Eropa, 118 perwira, seribu pekerja paksa atau narapidana, dan 220 perempuan.

Letnan Jenderal J. Van Swieten sebenarnya sudah pensiun saat itu, tetapi ia diaktifkan kembali untuk memimpin ekspedisi tersebut.

Bagi militer Hindia-Belanda, kolera, disenteri, dan tifus, telah menjadi pembunuh paling mematikan selama awal-awal pendudukan Aceh. Pada 1876, 1.400 orang meninggal karena penyakit tersebut.

Mohammad Said, dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad Jilid II (1985), menuliskan bahwa militer Belanda dalam ekspedisi kedua di bawah pimpinan Letnan Jenderal J. Van Swieten membuang mayat Nino Bixio, nakhoda kapal pengangkut Maddaloni, ke daratan Aceh.

“Orang Aceh yang mengetahui bahwa Nino sengaja diantarkan ke darat untuk mengembangkan kolera yang ada di tubuhnya, buru-buru memindahkan orang ini dan lekas-lekas menanamkannya ke tempat yang terasing. Namun demikian, karena mayat Nino sempat berada di luar beberapa waktu sebelum diangkut, wabah kolera sudah sempat menjalari badannya, dan itu pulalah yang menyebabkan wabah kolera turut mendarat bersama-sama dengan mendaratnya tentara agresi Belanda sendiri pada waktu itu,” tulis Mohammad Said dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad Jilid II.

Menurut Said, di dalam pekarangan istana Sultan Aceh, beberapa hari sebelum istana tersebut jatuh ke tangan Belanda, terdapat 150 korban yang meninggal karena kolera setiap harinya. “Demikianlah dapat diperkirakan, bahwa pihak Aceh tidak akan keluar dari Dalam (Kraton) andai kata kolera tidak turut menyusup,” tulis Mohammad Said.

Baca juga:

Karena wabah kolera, menurut Mohammad Said, Sultan Alauddin Mahmud Syah diungsikan lagi Pagar Aye, “agak ke hulu di tepi sungai Aceh. Antara Leung-bata dengan Dalam sama jauhnya dengan antara Leung-bata dengan Pagar Aye. Sebagai Leung-bata, Pagar Aye termasuk salah satu mukim, yang bukan wilayah Tiga Sagi. Di Pagar Aye nyawa sultan yang sudah diserang hebat oleh kolera tidak dapat diselamatkan lagi”.

Beri-beri

Wabah kolera mereda di Aceh pada 1880. Enam tahun selanjutnya, pada 1886, Paul Van’t Veer dalam Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985), menyebutkan lebih dari enam ribu pasien beri-beri tercatat dirawat di rumah sakit Pante Perak yang selesai dibangun Belanda di Kuta Raja atau Banda Aceh pada 1880. Delapan ratus di antaranya meninggal dunia.

Dedi Arsa, dalam Penyebaran Wabah dan Tindakan Antisipatif Pemerintah Kolonial di Sumatra’s Westkust (1873-1939), yang mengutip H. A. A. Niclou dalam laporannya Beri-beri te Atjeh (1887), menyebutkan bahwa epidemi beri-beri pertama dan paling parah dialami oleh Aceh.

H. A. A. Niclou  mencatat, pada 1886, jumlah tentara Belanda yang meninggal sebanyak 618 tentara, dan 303 orang di antaranya disebabkan oleh beri-beri. Ia juga menerangkan bahwa banyak penderita beri-beri di Aceh dirujuk ke rumah sakit di Fort de Kock di daratan tinggi Sumatera Barat.

Dedi Arsa, dalam Penyebaran Wabah dan Tindakan Antisipatif Pemerintah Kolonial di Sumatra’s Westkust (1873-1939), menuliskan bahwa pada tahun yang sama, yakni 1886, Belanda mengirimkan ilmuwan ke Aceh “untuk mengkaji beri-beri dan menyampaikan pandangan serta saran mengenai cara penanganan penyakit misterius tersebut”.

“Ilmuwan didatangkan ke Aceh untuk mengamati sendiri keadaan beri-beri di lapangan,” tulis Dedi Arsa.

Angka beri-beri ini menurun dan hampir hilang pada 1914 yang hanya terdapat 4 kasus. Penurunan angka penderita penyakit tersebut— lewat kajian para ilmuwan Belanda— tak berhasil dalam sekali pukul.

“Laporan yang dibuat oleh Pekelharing pada tahun 1888 memuat diagnosa yang salah, juga obat yang salah sama sekali. Baru pada tahun 1896 asistennya, dr. C. Eykman, yang kemudian menjadi guru besar dan pemegang hadiah Nobel, menemukan bahwa penyakit itu toh berhubungan dengan makanan. Berdasarkan percobaan yang dilakukannya pada ayam, terbukti bahwa makan beras giling terus-menerus menimbulkan beri-beri. Rupanya, kulit ari beras mengandung "zat hidup" tertentu (yang kemudian secara romantis disebut "vitamin"), yang mutlak dibutuhkan oleh manusia dan hewan. Ketika pada ransum di Aceh ditambahkan lagi beras yang tidak digiling, maka beri-beri pun lenyap,” tulis Paul Van’t Veer dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje (1985). "Para perwira tidak begitu terkena 'infeksi', bukanlah karena mereka lebih banyak membersihkan diri daripada para serdadu, tetapi kerena makanan mereka cukup banyak variasinya, untuk mengimbangi kekurangan vitamin B-1 dalam beras giling.” []

 

Loading...