Vonis Ringan untuk Tiga Oknum Polisi Penadah AC

·
Vonis Ringan untuk Tiga Oknum Polisi Penadah AC
Gedung PN Sigli. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co — Proses persidangan tiga oknum polisi, — Bripka Afdarul Akbar, Brigadir Mahrizal, dan Brigadir Muammar Hafiz—yang menjadi terdakwa penadahan pendingin ruangan atau AC, dinilai janggal.  

Ketiganya divonis satu bulan penjara Selasa, 16 Februari 2021. Kejanggalan dimulai dari tuntutan ringan jaksa penuntut umum atau JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Pidie. Ketiganya dituntut dua bulan penjara.

Kasi Pidum pada Kejari Pidie, Dahnir SH, mengatakan tuntutan ringan terhadap tiga oknum polisi tersebut karena telah tercapainya perdamaian antara terdakwa dan korban pencurian. “Sudah damai. Tidak ada banding lagi,” kata Dahnir SH pada sinarpidie.co Selasa, 16 Februari 2021.

Proses kesepakatan damai ini dilakukan atas anjuran Ketua Majelis Hakim, Dahniel Saputra SH MH, dan hakim anggota Adji Ahdillah SH dan Erwin Susilo SH, yang menangani perkara ini. “Sudah ada surat damai,” kata Dahnir.

“Proses perdamaian dilangsungkan di Kantor Kejari Pidie,” kata Keuchik Puuk, Mahdi Muhammad, Selasa, 16 Februari 2021.

Ironisnya, terdakwa pencurian tiga AC yang ditadah oknum polisi yang sebelumnya bertugas di Satresnarkoba Polres Pidie ini, Mexzal Habibi, 35 tahun, dituntut satu tahun penjara dan vonis terhadapnya belum dijatuhkan.

Mexzal mencuri AC di tempat service AC di Gampong Tungkop, Kecamatan Indra Jaya dan di Kantor Keuchik Gampong Puuk, Kecamatan Kembang Tanjong, atas permintaan tiga oknum polisi ini.

Karena diduga memiliki hubungan baik dengan Mexzal dan istrinya, Irene Fransisca Regalado alias Ririn Fransisca, 38 tahun, ketiga oknum polisi ini menemui Mexzal di Kompleks Terminal Bus Sigli, tempat di mana kasus prostitusi anak terjadi dan telah diungkap oleh polisi tahun lalu.

Bripka Afdarul Akbar menemui Irene Fransisca Regalado alias Ririn Fransica di Kompleks Terminal Bus Sigli dan menyerahkan uang sebesar Rp 250.000, lalu Mexzal mengantar AC curian di Gampong Tungkop, Kecamatan Indrajaya, ke rumah Afdarul Akbar di Gampong Paya, Kecamatan Pidie, Pidie. Hal yang sama juga dilakukan Brigadir Mahrizal dan Brigadir Muamar Hafiz. Keduanya menemui Mexzal di Kompleks Terminal Bus Kota Sigli.

Kini, Ririn Fransisca telah divonis 6 tahun 6 bulan penjara, dan suaminya, Mexzal, juga telah divonis pidana penjara satu tahun empat bulan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sigli, pada Kamis, 26 November 2020, karena kasus pencurian lainnya, yakni pencurian kambing.

Baik Mexzal maupun Ririn diduga merupakan informan polisi dalam kasus-kasus tindak pidana narkotika. “Sekitar Mei 2018, Mexal Habibi ditahan di dalam sel Polres selama tiga hari. Dia satu sel dengan saya. Setelah itu, dia dilepas,” kata Raju Gunawan, 24 tahun, narapidana kasus narkotika, yang ditemui di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Sigli, Jumat, 11 Desember 2020. “Habibi ditahan karena pencurian sepeda motor. Di dalam sel, Habibi dipukul oleh sesama tahanan karena dia cuak atau aneuk itek. Di dalam sel, kami saling bertanya antara sesama tahanan terkait kasus kami masing-masing.”

Ririn juga tercatat sebagai DPO dalam kasus-kasus narkotika. Namanya sebagai DPO, antara lain tertera dalam putusan PN Sigli nomor 124/Pid.Sus/2020/PN Sgi dengan Afrizal, 34 tahun, warga Gampong Dayah Teubeng, Kecamatan Pidie, Pidie, sebagai terdakwa; dan dalam putusan PN Sigli nomor 215/Pid.Sus/2020/PN Sgi, dengan Yusrizal, 42 tahun, warga Gampong Meurah, Kecamatan Samalanga, Bireun, sebagai terdakwa.

Baca juga:

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Syahrul SH MH, mengatakan bahwa kasus pencurian dan penadahan bukanlah delik aduan melainkan delik formil yang kasus tindak pidananya tetap harus diproses meskipun telah tercapainya kesepakatan perdamaian. “Kami menilai aneh jika jaksa dan hakim menyarankan korban dan terdakwa penadahan ini berdamai di Kantor Jaksa. Bahkan seharusnya, jikapun terjadi perdamaian, surat perdamaian dalam kasus penadahan ini tidak bisa dijadikan sebagai pertimbangan yang meringankan. Apalagi, pelakunya adalah mereka yang sadar hukum, yaitu polisi,” katanya, Selasa, 16 Februari 2021.

Dalam aspek sosial, kata Syahrul, hukuman ringan yang dijatuhkan pada oknum polisi ini menjadi bukti bahwa hukum itu kebal bagi mereka yang berseragam. “Dan ini berbanding terbalik dengan vonis terhadap warga biasa,” tuturnya. “Seharusnya kasus ini menjadi upaya pendidikan bagi publik untuk membersihkan nama baik institusi aparat penegak hukum.” []

Loading...