Investigasi

Tumbal Sang Juragan Sabu

·
Tumbal Sang Juragan Sabu
Ilustrasi Rosmiyadi.

Rosmiyadi alias Adi, 45 tahun, warga Gampong Mesjid Guci Rompong, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, masuk dalam DPO Polisi. Tiga pemuda yang pernah menjadi kurir dan pengedar sabunya ditangkap polisi, sedangkan Rosmiyadi tetap bebas menjalankan bisnis narkotika jenis sabu. sinarpidie.co memergokinya mengantar sabu untuk 'pasien'-nya.

sinarpidie.co--SAR, ibu enam anak, baru bisa menjalani hari-harinya dengan tenang saat putra sulungnya, FER, 29 tahun, tak lagi menjadi kaki tangan Rosmiyadi alias Adi, 41 tahun, warga Gampong Mesjid Guci Rompong, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh. “Mengapa si Adi tidak ditangkap?” tanya SAR, sinis.

SAR masih ingat, bagaimana putranya, FER, memasukkan bebatuan yang ia pungut di halaman rumah ke dalam sebuah teko. Di bawah pengaruh sabu, FER saat itu berkata pada SAR bahwa batu-batu tersebut akan berubah menjadi emas. Saat-saat itu, SAR juga sering mendapati FER memukuli adik-adiknya karena persoalan yang remeh-temeh.

Minggu, 19 Januari 2020, SAR sedang duduk di dipan di pekarangan rumah panggungnya yang bercat hijau di Gampong Mesjid Guci Rompong, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh. Di halaman rumah itu, pohon mangga, melinjo, dan pohon belimbing wuluh tumbuh berdekatan. Jarak antara rumah SAR dan rumah Rosmiyadi hanya sekira 20 langkah kaki.

Waktu tempuh dari Kota Sigli, ibukota Kabupaten Pidie, Aceh, ke gampong ini sekitar 15 menit berkendara.

Kata SAR, aparat kepolisian beberapa kali mendatangi dan menggeledah rumah Rosmiyadi alias Adi. Suara letusan senjata, sebut SAR, sering terdengar saat penggerebekan rumah Adi dilakukan aparat kepolisian. Namun, Rosmiyadi tak jua ditangkap dan semua kembali seperti semula. Setelah menghilang kira-kira selama sepekan, Adi kembali melanjutkan bisnis narkoba jenis sabu.

“Yang jadi korban anak-anak orang miskin, seperti anak saya. Mereka cuma cari uang Rp 10 ribu dari situ,” kata SAR, jengkel.

Suatu hari, SAR menyetop sepeda motor yang dikendarai Rosmiyadi di lorong di depan rumahnya. Seraya mencegat Rosmiyadi, SAR berkata, “Adi, kalau kamu sayang pada anak saya, jangan berikan lagi barang (sabu-red) pada anak saya. Jika dia ditangkap, jangankan uang untuk tebus, uang untuk ongkos labi-labi saat saya ingin menjenguk dia nanti di penjara saja saya tidak punya.”

“Baik, Kak. Saya titip sabu ke dia (FER-red) karena dia jujur,” kata SAR, menirukan ucapan Rosmiyadi padanya saat itu. 

Perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini mencegat Rosmiyadi karena ia mendapat kabar, FER hendak dijadikan tumbal untuk ditangkap.

SAR menitikkan air mata saat ia menceritakan kisah putranya, FER, yang pernah menjadi kurir dan pengedar sabu Rosmiyadi kurang lebih selama tiga tahun. FER kini bekerja di sebuah bengkel sepeda motor di Pasar Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, Aceh.

FER bertubuh agak jangkung. Kulitnya sawo matang. Dalam nada bicara yang agak tersendat, Senin, 27 Januari 2020, ia berkata, “Saat saya masih menjalankan bisnis sabu Bang Adi, saya stress dan tidak tidur berhari-hari."

“Saya berhenti pada 2013,” kata FER lagi.

Pada 2013 silam, FER masih berumur 22 tahun.

Kata dia, Rosmiyadi menitipkan sabu padanya secara cuma-cuma di awal lalu meminta bayaran di akhir, saat sabu yang Adi serahkan telah laku. “Paket Rp 1 juta, misalnya, saya kemas dalam beberapa paket kecil. Lalu saya jual lagi. Dari hasil penjualan, saya hanya kembalikan uang Rp 1 juta pada Bang Adi dan selebihnya untuk saya,” kata FER.

Saat masih terlibat dalam bisnis haram tersebut, rumah SAR juga beberapa kali digerebek aparat kepolisian. Terlebih adik FER, GUN juga pernah terlibat dalam bisnis narkoba yang dijalankan Rosmiyadi. “Saya setahun kerja pada Bang Adi,” kata GUN, yang lahir pada 1995, itu. “Tahun 2017 terakhir saya kerja dengan dia.”

Sumber sinarpidie.co menyebutkan kurir Rosmiyadi yang terakhir ditangkap dalam dua tahun belakangan ialah AFDL ZKR, 19 tahun, warga Gampong Mesjid Guci Rompong, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh. AFDL ZKR ditangkap di depan pabrik rotan modern di Gampong Bambi Peunayong, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, pada akhir Mei 2019. Ia tertangkap tangan mengantarkan sabu milik Rosmiyadi. Beberapa hari kemudian, pada awal Juni 2019, AFDL dibebaskan.

Adi dapat dikategorikan sebagai bandar menengah dan kadang justru menjadi pengedar serta kurir sekaligus. Pemuda-pemuda asal Gampong Mesjid Guci Rompong yang bekerja padanya rata-rata juga menjadi pengedar dan kurir pada waktu yang sama. Ada yang memperoleh sabu dari Adi tanpa harus membayar di muka lalu memecah sabu tersebut dalam sejumlah paket yang lebih kecil dan mengedarkannya langsung ke para ‘pasien’, sebutan bagi para pemakai. Setelah sabu habis terjual, kaki tangan Adi ini harus membayar harga modal sabu yang telah habis terjual.

Ada yang bertugas untuk mengutip uang dari para pengedar sabu milik Adi. Ada yang hanya sekadar menjadi kurir baik untuk mengantar sabu pada para pengedar maupun pada para ‘pasien’.

Pekerjaan Adi sebagai bandar sabu sudah menjadi rahasia umum bagi warga Gampong Mesjid Guci Rumpong. Pemuda yang menjadi kaki tangan Rosmiyadi umumnya terlebih dahulu menjadi pecandu narkoba. Karena berasal dari keluarga pas-pasan, mereka secara sukarela mau bekerja pada Rosmiyadi.

Sebagian sumber sinarpidie.co menyebutkan sabu yang dikuasai Rosmiyadi dipasok dari Peureulak, Aceh Timur dan Bireun. Biasanya, saat Adi pulang dari Peureulak, Aceh Timur, ia juga ikut membawa pulang minyak tanah.

Informasi tentang dari mana Rosmiyadi memperoleh sabu belum bisa diverifikasi kebenarannya.

***

SUN berumur 22 tahun saat ia ditangkap aparat kepolisian dari Satuan Reserse Narkoba Polres Pidie, Senin, 3 Juni 2013 sore di Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh. “Anak saya yang pertama baru berumur enam bulan saat itu,” kata SUN, Sabtu, 25 januari 2020.

SUN sebenarnya saat itu bekerja sebagai buruh bangunan. Alasannya mengantarkan sabu milik Rosmiyadi, kata SUN, untuk mencari tambahan penghasilan. Ayah dua anak ini diberi imbalan Rp 20 ribu dalam setiap sabu paket Rp 100 ribu milik Rosmiyadi yang ia antar. “Saya cuma siang di Guci Rompong. Kerja bangunan. Malam saya pulang ke rumah istri,” kata SUN.

SUN menetap di rumah istrinya di Gampong Teubeng Jawa, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, Aceh. Ia berasal dari Gampong Mesjid Guci Rompong, Kecamatan Peukan Baro. Rumah orangtuanya di Gampong Guci Rompong bersebelahan dengan rumah Rosmiyadi.

Kata SUN, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) polisi ia menyebutkan sabu yang ia peroleh berasal dari “Si Lem, Gampong Blang Mangki”.

“Si Lem dan saya sama-sama orang yang mengantar barang Bang Adi,” kata SUN.

SUN mendaku, ia hanya tiga bulan menjadi kurir sabu Rosmiyadi. Seingat SUN, Rosmiyadi telah menjadi juragan sabu sejak 2011. Sumber lainnya menyebutkan, Rosmiyadi telah memulai aktivitas jual-beli sabu sejak 2006 silam.

SUN dihukum penjara selama lima tahun tiga bulan. Ia menjalani hukuman di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas III B Sigli. Sejak bebas pada 2017, ia tak lagi bicara dengan Rosmiyadi sepatah kata pun. “Kalau berpas-pasan pun, saya akan menghindar, apalagi sejak Adik saya juga ditangkap karena Bang Adi,” kisah SUN.

Dalam salinan putusan Pengadilan Negeri (PN) Sigli Nomor: 263/Pid.B/2013/PN. SGI, tertera: Bripka Abdul Hamid—saat itu berpangkat Briptu—menelpon SUN untuk membeli sabu. Oleh pria kelahiran 4 Mei 1990, itu, Bripka Abdul Hamid diminta untuk datang ke Gampong Mesjid Rompong. Usai Bripka Abdul Hamid menerima dua paket sabu, Bripka Afdarul Akbar dan Bripka T Julheri menghampiri Bripka Abdul Hamid dan SUN. Mendapati gelagat aneh tersebut, SUN mengebut sepeda motornya ke arah Gampong Waido, Kecamatan Peukan Baro. Ia ditangkap di Gampong Waido.

Dok. sinarpidie.co.

Satu tahun menjelang bebasnya SUN, adik kandungnya, IRWAN, dibekuk Satuan Reserse Kriminal Narkoba Polres Pidie pada Rabu, 13 April 2016 di Gampong Mesjid Guci Rompong, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh. IRWAN, yang sempat menggigit tangan seorang polisi, ditembak di kaki kanan.

IRWAN menyebut nama Adi dalam BAP Polisi. Dan dalam putusan yang diputuskan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sigli Selasa, 23 Agustus 2016, nama Adi juga tertera di dalamnya.

Meski IRWAN—saat itu berumur 22 tahun—divonis penjara selama tujuh tahun tiga bulan, Rosmiyadi alias Adi tetap bebas menjalankan bisnis haramnya itu hingga kini. Saat ini, IRWAN masih menjalani hukuman di Rumah Tahanan (Rutan) Lameulo, Kabupaten Pidie, Aceh.

Ayah SUN dan IRWAN, RUS, bekerja sebagai tukang ojek; ayah FER dan GUN bekerja sebagai buruh tani.

Selain dalam kasus yang menjerat kakak beradik SUN dan IRWAN, dalam kasus yang menjerat BAN, yang divonis majelis hakim PN Sigli empat tahun tiga bulan penjara pada Selasa, 28 November 2017, nama Rosmiyadi alias Adi juga ikut terseret di dalamnya.

***

Senin, 27 Januari 2020, pukul 15.27 WIB, sinarpidie.co memergoki Rosmiyadi alias Adi sedang menjual sabu dagangannya di Jalan Bambi-Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, tepatnya di Gampong Bambi Cempala Kuneng. Adi, yang mengenakan kaus cokelat dan jins biru, mengendarai sepeda motor Honda Scoopy hitam berpadu merah dengan nomor polisi BL 4283 PA.

Rosmiyadi (kiri) saat mengantar sabu Senin, 27 Januari 2020, pukul 15.27 WIB di Gampong Bambi Cempala Kuneng. Dok. sinarpidie.co.

“Dalam sepekan ini Bang Adi antar sendiri barangnya. Tidak lagi dia titip sama orang lain karena dia bilang dia DPO,” kata sumber tepercaya sinarpidie.co, Senin, 27 Januari 2020.

Transaksi hanya berlangsung beberapa detik. Sejak beberapa meter sebelum sampai ke titik lokasi transaksi, di atas sepeda motor yang masih melaju di jalan, Rosmiyadi telah mengeluarkan dan memegang sabu paket Rp 150 ribu. Adi bahkan tidak mematikan mesin sepeda motornya saat transaksi berlangsung. Setelah menyerahkan sabu, Rosmiyadi berkata pada ‘pasien’-nya, itu, “Hati-hati, ya.”

Sejumlah lokasi tempat Adi—lewat pengedar dan kurirnya—menjual sabu di Kabupaten Pidie, Aceh, yang dihimpun sinarpidie.co, ialah di sebuah bengkel sepeda motor di Jalan Banda Aceh-Medan, di perbatasan Caleue (Indrajaya)-Lampoih Saka (Peukan Baro) dan di sebuah kedai kecil di Rambayan, Kecamatan Mutiara.

Masuk dalam DPO

Kapolres Pidie AKBP Andy NS Siregar SIK, melalui Kasat Resnarkoba Polres Pidie, Iptu Yusra Aprilla SH MH mengatakan dalam berkas perkara SUN, IRWAN, dan BAN yang telah berkekuatan hukum tetap, tidak ada satu pun dari mereka yang menyebutkan DPO atas nama Rosmiyadi.

“Yang ada hanya nama Adi muncul sebanyak dua kali dengan umur dan alamat yang berbeda,” kata Kasat Resnarkoba Polres Pidie Iptu Yusra Aprilla SH MH, Selasa, 28 Januari 2020.

Baca juga:

Kata Yusra lagi, petugas kepolisian dari Satuan Resnarkoba Polres Pidie mendatangi dan mencari Rosmiyadi alias Adi di Gampong Mesjid Guci Rumpong, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, sebanyak  dua kali.

“Pada tahun 2016, sehubungan dengan perkara tindak pidana penyalahgunaan narkotika jenis sabu yang dilakukan oleh Tersangka Irwandi. Namun saat itu Rosmiyadi alias Adi tidak berada di rumah. Menurut keterangan isterinya, Rosmiyadi alias Adi sedang pergi ke Kabupaten Aceh Timur. Pada tahun 2017, sehubungan dengan perkara tindak pidana penyalahgunaan narkotika jenis sabu yang dilakukan oleh Tersangka Banta Rizal. Namun saat itu Rosmiyadi alias Adi tidak berada di rumah dan menurut keterangan isterinya Rosmiyadi sedang keluar,” kata Iptu Yusra SH MH.

Bang Adi (nama panggilan) yang berlamat di Gampong Mesjid Rumpong Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, dalam berkas perkara IRWAN, sebut Iptu Yusra SH MH, telah dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Nomor : DPO/35/IV/2016/Sat Resnarkoba tanggal 13 April 2016.

Sebelumnya, Waka Polres Pidie Kompol Iskandar SE Ak mengatakan pihaknya akan menindak tegas setiap personil di jajarannya yang terlibat narkoba. “Untuk kasus narkoba, jangankan masyarakat umum, anggota kita yang terlibat tetap kita proses,” kata Kompol Iskandar SE Ak, Senin, 20 Januari 2020 di Mapolres Pidie. “Tidak ada istilahnya yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Tidak ada yang kita tutup-tutupi.” []

Komentar

Loading...