Tika Seuke yang Diukur dengan Tapak Kaki

·
Tika Seuke yang Diukur dengan Tapak Kaki
Halimah, 70 tahun (tengah), meluruskan daun pandan untuk tika seuke. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co--Halimah, 70 tahun, warga Gampong Geunteng Barat, Kecamatan Batee, Pidie, sudah sejak kecil melakoni profesi sebagai penganyam tika seuke atau tikar pandan. Sehari-hari, ia bekerjasama dengan adiknya, Rosnawati, 55 tahun. Pekerjaan itu mereka lakoni secara turun temurun di dalam keluarga besar mereka.

Halimah menyebutkan, jenis-jenis tikar yang ia anyam dalam bahasa Aceh, yaitu tika 15, tika 12, tika 9, tika 8, dan tika musala. Ukuran tika 15 diukur berdasarkan 15 telapak kaki dan lebar 13 tapak kaki. Selain ukuran, harga tika 15 ditentukan oleh lapisan tikar tersebut.

“Kalau dua lapis Rp 1,5 juta. Waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya 2 minggu.  Kalau selapis Rp 500 ribu. Kalau pakai bingkai kain tambah Rp 100 ribu,” kata Halimah pada sinarpidie.co pekan lalu.

Lalu, kata Halimah lagi, ukuran tika 12, yakni  12 x 10 telapak kaki seharga Rp 700 ribu untuk dua lapisan tikar. Sedangkan tika 12 dengan satu lapisan Rp 350 ribu.

“Untuk dua lapis menghabiskan waktu 10 hari. Kalau satu lapis Rp 350 ribu. Kalau pakai bingkai kain tambah Rp 100 ribu,” kata dia lagi. “Tika 9, tikar ranjang kalau sudah ada bingkai Rp 250 ribu. Jika tidak ada kain di samping, Rp 200 ribu untuk dua lapis. Kalau satu lapis Rp 100 ribu. Ukurannya 9 x 5 tapak kaki," sebut Halimah.

Ia melanjutkan, tika 8 berukuran 8 x 5 tapak kaki. Harga tikar tersebut hanya memiliki satu lapisan tanpa warna seharga Rp 70 ribu.

Tika musala dua lapis setelah dibingkai harga Rp 60 ribu. Kalau dibuat dua hari selesai. kalau tikar duduk jarang saya buat, karena harus ada yang pesan dulu,” sebutnya.

Bahan baku tikar-tikar tersebut ialah daun pandan. Halimah dan Rosnawati memetik daun pandan yang tumbuh secara alami di gampong setempat.  Setelah membuang duri-duri pada daun tersebut, Halimah dan Rosnawati menjemur mereka selama 15 menit. Satu lembar daun pandan bisa dibelah menjadi enam hingga 12 lembar.

"Setelah kita iris-iris baru kita luruskan agar daun pandan itu bisa kita anyam. Setelah itu kita rendam dua malam kemudian direbus 20 menit  agar daun pandan tidak bau, berwarna putih dan tidak pudar. Selanjutnya, dijemur lagi biar kering. Untuk mewarnai, kami masukan daun pandan tersebut dalam pewarna (malo) yang dicampur dalam air mendidih lalu dijemur hingga kering. Tikar kami ada yang dibawa ke Banda Aceh untuk dipasarkan. Kami cuma menganyam tikar tapi tidak kami bawa untuk dijual keliling,” tutup Halimah.[]

Komentar

Loading...