Terorisme, Aksi Balasan, dan Terorisme Internasional

·
Terorisme, Aksi Balasan, dan Terorisme Internasional
Sabtu, 15 Mei 2021, rudal Israel meratakan Gedung al-Jalaa di Kota Gaza dengan tanah. Di gedung ini, terdapat kantor biro media bereputasi internasional, yaitu Associated Press (AP) dan Al Jazeera. Sumber foto: AFP via medcom.id.

Di Jalur Gaza, Palestina, di era konvergensi media, hujan rudal yang menghantam apartemen, jalan, dan rumah, dapat berlangsung berhari-hari.

Konten-konten berita tentang hujan rudal yang disalurkan melalui pengintegrasian atau penggabungan konten berita radio, televisi, surat kabar dan majalah, melalui teknologi digital ternyata tak begitu dipandang mendesak oleh Dewan Keamanaan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sehingga rapat darurat DK PBB untuk membahas perseteruan antara Israel dan Palestina dijadwalkan akan digelar pada Jumat, 14 Mei 2021, empat hari setelah pertempuran udara yang tak imbang tersebut berlangsung pada Senin, 10 Mei 2021. Namun, rapat tersebut konon harus diundur pada Minggu, 16 Mei 2021 karena Amerika Serikat memblokir rapat itu.

Di satu pihak, per Sabtu, 15 Mei 2021, tercatat 147 warga Palestina meninggal dunia dan sebanyak 1.122 lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran serangan sejak 10 Mei itu. Di lain pihak, terdapat 9 warga Israel meninggal dunia. Yang menjadi dasar moral pembunuhan brutal ini adalah aksi balasan yang dilakukan Israel setelah Hamas, organisasi Islam Palestina yang bermarkas di Jalur Gaza, meluncurkan ratusan roket ke Tel Aviv, Israel. Aksi saling serang ini dipicu oleh pasukan dan pemukim Israel yang menyerang warga Palestina di Sheikh Jarrah yang sedang beribadah di Masjid al-Aqsa.

Pertempuran udara yang tidak seimbang juga pernah terjadi pada 2014 lalu. Sedikitnya, 2.100 orang warga sipil Palestina meninggal dunia. Di pihak Israel, disebutkan terdapat 73 tentara yang tewas.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, terkait pertempuran udara yang tidak imbang ini sama sekali tak mengejutkan. Ia membenarkan dan memberikan lampu hijau bagi Israel untuk bertindak brutal sedemikian rupa atas dasar pembelaan diri.

Noam Chomsky, dalam bukunya yang berjudul Pirates and Emperors, menyatakan bahwa praktik pembalasan Israel yang disokong Amerika Serikat, sejak Israel berdiri sebagai sebuah negara, dilakukan “terhadap mereka yang rentan, bukan pelaku kekejaman”.

Profesor linguistik Institut Teknologi Massachusetts ini juga memberikan contoh propaganda dalam kampanye teroris internasional yang dilancarkan Amerika Serikat pada masa Pemerintahan Presiden Reagan yang menginginkan penggunaan kekerasaan mendapat legitimasi atau sah untuk dilakukan.

“Sebagaimana para pendahulu mereka dan contoh-contoh lain yang tersebar di dunia, mereka paham betul bahwa kemenangan-kemenangan biasa atas musuh-musuh yang lemah dan tidak berdaya bisa dimanipulasi untuk membangkitkan sentimen jingoisme dan semangat yang meluas di dalam negeri, jika warga bisa ditakuti dengan ancaman-ancaman mengerikan terhadap keberlangsungan hidupnya,” tulisnya.

Chomsky mengutip kata-kata Walter Lippmann, wartawan politik berkebangsaan Amerika Serikat terkait “opini publik”, untuk memperjelas tujuan Amerika Serikat melakukan rekayasa persetujuan dan membuat publik di dalam negerinya patuh. Kelompok elite, tulis Chomsky, harus memastikan persetujuan tersebut berpihak pada kepentingan mereka.

Akan ada tiga kata yang bergulir: terorisme dan aksi balasan. Terorisme ditabalkan pada tindakan "bajak laut".

“Sedangkan tindakan terorisme oleh kaisar dan sekutunya disebut aksi balasan atau mungkin serangan pendahuluan yang sah untuk mencegah terorisme,” tulisnya.

Bagi Amerika Serikat, Israel adalah negara sekutu yang setia dan sangat berguna di Timur Tengah. Israel, bagi Amerika Serikat, juga merupakan tentara-tentara bayaran yang terlatih dan memiliki peralatan yang canggih untuk menjalankan tugas-tugas pembantaian seperti di Guatemala. Tentara-tentara bayaran Israel ini akan menjalankan tugas mereka dengan senang hati ketika Pemerintah Amerika Serikat dihalang oleh Kongres untuk terlibat lebih jauh dan lebih brutal di satu-satu tempat tertentu.

Sabtu, 15 Mei 2021, rudal Israel meratakan Gedung al-Jalaa di Kota Gaza dengan tanah. Di gedung ini, terdapat kantor biro media bereputasi internasional, yaitu Associated Press (AP) dan Al Jazeera. Apa yang ditakutkan oleh Israel dan Amerika Serikat, sebagaimana diutarakan Chomsky, adalah pers-pers yang  berada di Palestina lalu menuangkan perspektif mereka dalam berita-berita yang mereka produksi. Israel akan lebih senang jika pers berada di kota-kota di Israel karena informasi yang telah dimanipulasi dapat didistribusikan dengan mudah dan tak ada yang akan mempertentangkan bias-bias dalam pemberitaan lebih lanjut karena Gaza tak bisa lagi diakses.

“Propaganda Israel mendapat banyak keuntungan dari kenyataan bahwa media sangat mengandalkan koresponden yang berbasis di Israel. Ini menghasilkan dua keuntungan penting; pertama, berita disajikan ke penonton Amerika melalui mata resmi Israel; kedua, pada kesempatan langka ketika koresponden AS melakukan penyelidikan independen, alih-alih hanya mengandalkan kerjasama tuan rumah, sistem propaganda Israel dan kelompok pendukungnya di AS mengeluhkan diabaikannya kejahatan orang Arab, sementara Israel dihukum dengan pemeriksaan yang rinci…,” tulis Chomsky, dengan merujuk peristiwa-peristiwa di Lebanon pada awal 1980-an.

Cara Israel dan Amerika menggunakan kata teroris dan aksi balasan masih belum berubah dari tahun ke tahun.

Seorang bajak laut yang ditangkap Alexander Agung menjawab pertanyaan Alexander tentang mengapa si bajak laut berani menganggu keamanan laut: “Karena hanya menyerang dengan kapal kecil saya disebut pencuri; sementara kamu, menyerbu dengan armada laut yang hebat, tetapi disebut kaisar.” Nukilan tersebut termaktub di dalam kata pengantar buku Chomsky: Pirates and Emperors. []

Loading...