Tanpa Tanggul, Puluhan M Pembangunan Jembatan Jeumerang seperti Dibuang ke Laut

·
Tanpa Tanggul, Puluhan M Pembangunan Jembatan Jeumerang seperti Dibuang ke Laut
Pemandangan jembatan Pasi Jeumerang-Pusong dari Gampong Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie. Dok. sinarpidie.co.

Jika tanggul tidak segera dibangun, biaya untuk merampungkan jembatan tersebut akan bertambah karena oprit terkena longsor perlahan-lahan.

sinarpidie.co - Kondisi oprit Jembatan Jeumeurang – Pusong, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, mulai longsor perlahan-lahan karena tembok penahan di sisi jalan tak kunjung dibangun. Selain itu, tanah timbunan dalam oprit tersebut juga mulai tergerus oleh ombak laut. Padahal harga oprit atau timbunan pekerjaan oprit ini adalah Rp269.476.975, dari total nilai kontrak untuk pekerjaan jembatan tersebut pada tahun anggaran 2018 senilai Rp 30,6 miliar dengan realisasi keuangan terserap 100 persen. Pada tahun tersebut, anggaran pembanguan jembatan yang dikerjakan PT Putra Nanggroe Aceh ini bersumber dari dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca-bencana pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie.

Pekerjaan oprit ini pun tidak sesuai dengan kontrak, di mana di dalam kontrak, pengerjaan oprit ini menggunakan alat berat yang terdiri dari dump truck, excavator, motor grader, vibro roller maupun water tank truck. Namun, dalam pelaksanaannya, hanya dump truck yang digunakan untuk pemadatan dengan bergerak maju mundur untuk menggilas bahan timbunan. Tak hanya itu, lebar lantai jembatan— beton mutu sedang fc’30 Mpa— yang tertuang dalam kontrak adalah 9 meter, tapi di lapangan dikerjakan 8,8 meter.

Celakanya lagi, jembatan senilai puluhan miliar ini kini ditelantarkan karena tak kunjung dilanjutkan pengerjaannya sehingga benar-benar bisa berfungsi dan dilintasi warga. Akibatnya, sebagaimana tanah timbunan oprit yang mulai menyusut, nilai jembatan ini juga dipastikan akan menyusut. Dengan kata lain, ratusan juta uang untuk oprit tersebut terkesan semata-mata untuk dilemparkan ke laut.

Baca juga:

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pidie Ir Samsul Bahri MSi mengatakan tahun ini seharusnya pembangunan jembatan tersebut dilanjutkan dengan anggaran Rp 5,8 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Bidang Infrastruktur. “Namun karena proyek yang bersumber dari DAK diminta untuk ditunda hingga waktu yang belum ditentukan akibatnya jembatan tersebut tidak dilanjutkan pembangunannya tahun ini. Perkiraan kita, dengan Rp 5,8 miliar jembatan tersebut sudah bisa dilalui,” katanya, Jumat, 5 Juni 2020 lalu.

Anggaran Rp 5,8 miliar tersebut, kata Samsul, semula akan digunakan untuk membangun tanggul, penimbunan, dan pengaspalan jalan. “Jika tanggul tidak segera dibangun, biaya untuk merampungkan jembatan tersebut akan bertambah karena akan terkena longsor perlahan-lahan,” sebut Samsul.

Pada tahun anggaran 2021, Dinas PUPR Pidie akan mengusulkan anggaran lanjutan pengerjaan jembatan tersebut. “Yang kita utamakan oprit dan jalan. Karena kalau tidak ada oprit kan tidak akan fungsional,” katanya, Kamis, 12 November 2020.

Status jembatan ini semula dicatat sebagai aset BPBD Pidie dan diserahkan ke Dinas PUPR  Pidie pada 2019. []

Loading...