Tangga Bambu di Jembatan Pusong

·
Tangga Bambu di Jembatan Pusong
Marzuki berdiri di oprit Jembatan Pusong-Jeumarang dengan menenteng kaleng cat bekas. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Memanjat tangga bambu setinggi tiga meter yang disandarkan pada abutmen sebelah tenggara Jembatan Pusong-Pasi Jeumeurang, Marzuki, 45 tahun, juga menenteng kaleng cat bekas 25 kilogram yang masih kosong. Marzuki, yang berasal dari Gampong Pusong, hendak melaut, Senin, 1 Februari 2021 pagi.

Pria yang bekerja sebagai nelayan ini memanjat tangga tersebut agar ia bisa melintasi jembatan rangka baja yang menghubungkan gampong tempat ia tinggal dan Gampong Pasi Jeumerang, Kecamatan Kembang Tanjong. Setelah berjalanan kaki sejauh 100 meter di atas lantai jembatan yang masih telanjang, dan begitu tiba di depan abutmen di sebelah barat laut, ia melompat dari ketinggian sekitar satu meter. Begitu menjejakkan kaki di atas pasir, Marzuki kembali harus memanjat gundukan sisa-sisa pasir timbunan oprit jembatan setinggi 50 sentimeter.

Marzuki tentu tidak tahu bahwa gundukan pasir yang ia pijak merupakan timbunan pekerjaan oprit senilai Rp 269.476.975, dari total nilai kontrak untuk pekerjaan jembatan tersebut pada tahun anggaran 2018 yang nilainya mencapai Rp 30,6 miliar. Karena tak ditahan oleh dinding oprit, pasir-pasir oprit tersebut telah tergerus ombak.

Marzuki melanjutkan perjalanan menuju ke PPI Kuala Tari, yang terletak di Gampong Jeumeurang, yang jauhnya sekitar 400 meter dari jembatan mangkrak tersebut. Ia merupakan salah seorang awak kapal pada Kapal Motor (KM) Nabawi.

"Siang atau sore hari ini melaut, kembali ke darat pada Kamis," katanya, Senin, 1 Februari 2021.

Pria dengan tinggi semampai dan berkulit gelap ini harus menyeberangi Kuala Tari dengan cara demikian karena Jembatan Pusong-Pasi Jeumerang tak kunjung selesai dibangun dan berfungsi. Jika tak memanjat demikian, Marzuki harus melewati jalan memutar dari Gampong Baroh Lancok, Gampong Mayang, Gampong Tutong, dan Gampong Siren, Kecamatan Bandar Baru, hingga mencapai  Keude Lueng Putu, pusat Kecamatan Bandar baru, Pidie Jaya, untuk bisa sampai ke Kuala Tari, Kembang Tanjong.

Dibangun selama tiga tahun berturut secara bertahap sejak 2014 hingga 2016, jembatan ini keburu ambruk sebelum sempat dilintasi warga karena diguncang gempa 6,5 SR, yang berpusat di Pidie Jaya, pada 7 Desember 2016 lalu. Dua tahun setelahnya, pembangunan jembatan ini kembali dilanjutkan dengan nilai pekerjaan Rp 30,6 miliar: tanpa dinding penahan oprit.

"Jembatan tersebut sekarang hanyalah tempat berteduh para pemancing ikan dari sinar matahati," kata Marzuki.

Baca juga:

Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pidie, Ir Samsul Bahri MSi, sebelumnya mengatakan seharusnya timbunan oprit, dinding penahan oprit, dan pengaspalan, telah terealisasi pada tahun anggaran 2020 lalu dengan pagu anggaran Rp 5,8 miliar. Namun karena bersumber dari Dana Alokasi Khusus atau DAK bidang infrastruktur, dan DAK mengalami pemangkasan akibat wabah Covid-19, pembangunan lanjutan jembatan ini pada 2020 tak bisa dikerjakan. "Perkiraan kita, dengan Rp 5,8 miliar, jembatan tersebut sudah bisa dilalui,” katanya, Jumat, 5 Juni 2020 lalu.

Plt Kepala Dinas PUPR Pidie Buchari AP MSi mengatakan dalam Qanun APBK Pidie 2021 yang baru-baru ini disahkan, lanjutan pembangunan jembatan tersebut tidak terakomodir. "Akan kita usahakan di anggaran perubahan," tuturnya. []

Loading...