Tak Tersentuh Revitalisasi, Tambak Udang dan Bandeng di Pidie Beralih Fungsi

·
Tak Tersentuh Revitalisasi, Tambak Udang dan Bandeng di Pidie Beralih Fungsi
Tambak ikan tradisional di Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Jumlah petani tambak disebut-sebut mengalami penyusutan dan tambak-tambak tradisional banyak yang telah beralih fungsi.

sinarpidie.co—Usaha budidaya udang dan bandeng di tambak-tambak tradisional di Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, pernah mencapai puncaknya pada penghujung tahun 1970-an.

Zakaria Ibrahim, warga Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, yang berprofesi sebagai petani tambak, mengenang, pada masa-masa 1970-1980-an, keuntungan secara ekonomi dari usaha budidaya udang dan bandeng mendorong masyarakat untuk mengalihfungsikan sawah-sawah mereka yang tidak produktif menjadi tambak-tambak udang dan bandeng.

“Pada tahun 1978 saat itu, sangat makmur. Hasil udang banyak. Banyak yang menjadi sumber penghasilan, dari orang membuat pematang tambak, keumukup, menaruh bubeei, semua ada penghasilan. Termasuk ada yang menyewakan pada orang lain untuk dikelola. Sekarang udang sudah terserang penyakit, umur sebulan terserang penyakit,  jadi merah satu tambak dan mati semua udangnya,” kata Zakaria, Jumat, 13 September 2019. “Sekarang bertani tambak sudah banyak ditinggalkan, masyarakat lebih memeilih bekerja pada profesi lain.”

Kata dia lagi, kebanyakan petani tambak di gampongnya rencananya akan menimbun tambak mereka untuk pembangunan kios agar bisa disewakan. 

“Penyakit yang menyerang udang itu telah ada kurang lebih 15 tahun yang lalu. Sekitar 1996-1998. Cuma tidak seberapa, tidak merata seperti sekarang. Tambak milik gampong kami udang tidak jadi (gagal panen-red). Kalau bandeng keuntungannya sangat tipis,” sebutnya.

Hal yang sama diungkapkan Jamalluddin, warga Gampong Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie.

“Kami membutuhkan alat berat untuk meninggikan pematang tambak. Pematang tambak yang rendah kalau ada air pasang, langsung jebol. Pernah saya buat pakai tangan secara manual pematang tambak, tapi kala air pasang langsung jebol,” kata Jamalluddin, Jumat, 13 September 2019.

Kata dia lagi, pihaknya tidak membutuhkan bantuan bibit ikan, pupuk dan lain-lain. Sebab, sebutnya lagi, bibit-bibit ikan dan udang tersebut  kala dilepaskan ke tambak dan saat air pasang tak akan ada gunanya.

“Belum lagi kalau kena penyakit. Bukan kami tidak mau kalau diberi bibit dan pupuk, kami terima. Tapi itu tidak ada arti, percuma ke laut semua lepasnya. Tapi kalau pematang sudah tinggi walau kami tidak pelihara udang karena takut terserang penyakit, paling kami pelihara bandeng walau penghasilannya sangat sedikit. Kami lepaskan biar besar sendirinya,” sebutnya.

Zulkifli, petani tambak ikan di Gampong Cot Jaja, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, juga mengatakan hal yang sama. Virus yang menyebabkan penyakit pada udang vandame adalah masalah bagi dirinya yang berprofesi sebagai petani tambak, di samping pematang tambak yang rendah.

“Penyakit udang itu pernah di atasi oleh dinas, tapi tidak berhasil juga masih ada sampai sekarang,” kata Zulkifli. “Pematang tambak tetap yang paling pertama kami butuhkan, buat apa tanaman kalau tak ada pagar?”

Untuk membuat pematang tambak yang ideal, kata dia, membutuhkan eksavator. Menggunakan tangan untuk membuat pematang tidaklah efektif, karena pematang yang dibutuhkan tingginya 2 meter.

“Sewa eksavator mahal. Saya punya 5 hektare tambak. Saya pelihara udang dan bandeng. Untung-untungan. Kadang udang mati terserang penyakit. Bandeng panen tujuh bulan, udang dua bulan. Kalau bandeng dengan kondisi pematang tambak seperti sekarang pun banyak tidak selamat. Banyak yang berangkat ke laut. Udang peliharaan saya sering terserang tapi apa boleh buat tetap saya bertambak untung-untungan karena itu memang sudah profesi saya dari kecil,” sebut Zulkifli.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pidie Ir Tarmizi mengatakan, air pasang yang biasanya terjadi pada saat bulan terang (purnama) merupakan fenomena alam. “Biasanya masyarakat menyampaikan laporan pada dinas dan kita teruskan ke dinas provinsi. Tingkat kerusakannya juga bervariasi,” kata Ir Tarmizi, Sabtu, 14 September 2019, melalui telepon selular. “Ketika turun bantuan, kita rehab tambak-tambak yang rusak tersebut.”

Mengenai virus udang, pihaknya sudah berkonsultasi ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (DKP) dan belum ditemukan cara penganan yang efektif untuk membasmi virus tersebut.

“Luasan tambak dan petani tambak di Pidie juga semakin menyusut. Alih fungsi tambak dilakukan untuk membangun perumahan di Sigli seharusnya juga mengacu pada RT RW Pidie. Apakah kemudian alihfungsi tersebut telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan akan kita kaji kembali,” kata Tarmizi. "Tentunya dengan melibatkan tim, seperti Dinas PU PR, Perkim, DKP, dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu."

Dikutip dari Kajian Lingkungan Hidup Strategis RPJMD Kabupaten Pidie tahun 2017-2022, yang diterbitkan Bappeda Pidie pada Desember 2017 lalu, kawasan perikanan budidaya tambak seluas 3.193,42 hektare tersebar di Kecamatan Batee, Pidie, Simpang Tiga, Muara Tiga, Kota Sigli, Glumpang Baro, dan Kembang Tanjong. []

Komentar

Loading...