Tak kerja kalau tidak ada honor dan SPPD

Tak Becus Tangani Korban KDRT Berat, Kadis DP3AKB Pidie Pelintir Informasi

·
Tak Becus Tangani Korban KDRT Berat, Kadis DP3AKB Pidie Pelintir Informasi
Kantor Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

"Mereka tidak kerja kalau tidak ada honor dan SPPD. Mereka seharusnya hadir di rumah sakit saat korban divisum, dirontgen, dan memastikan bentuk pelayanan rumah sakit terhadap korban. Apakah dilayani dengan baik, apakah dioperasi dengan benar. Kelalaian penanganan pada korban ada dua. Pertama di pendampingan, kedua di rumah sakit."

sinarpidie.co- Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie Ir Ainul Mardhiyah berang karena pihaknya disebut tak mendampingi korban KDRT berat Azizah, 42 tahun, warga Gampong Meunasah Lhee, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, pasca-kejadian penusukan oleh suaminya Zaini, 50 tahun, Sabtu, 18 April 2020 di Pasar Terpadu Pante Teungoh Kota Sigli.

"Siapa bilang, saat hari pertama kita ada di rumah sakit dan tadi juga kita ada berkunjung ke rumah duka. Puasa-puasa kok fitnah orang," kata Ir Ainul Mardhiyah, Senin, 4 Mei 2020. "Kami tidak ekspos karena kami kerja ikhlas. Tidak perlu pamer saya rasa."

Kata mantan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pidie ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh saat korban dirujuk ke RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh. "Orang Banda Aceh langsung turun dan waktu almarhumah meninggal Satgas kita yang dampingi di rumah duka," katanya.

Namun Ainal menolak merinci apa saja yang telah pihaknya lakukan pasca-kejadian tersebut, selain membesuk korban dan melimpahkan penanganan kasus ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh. "Sudahlah, sudah kalian tulis ya sudah," kata dia lewat pesan WhatsApp.

Kakak kandung korban, Nurhayati, 52 tahun, mengatakan DP3AKB Pidie mengunjungi Azizah di RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli pada Senin, 20 April 2020, saat Azizah hendak dirujuk ke RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh. “Hari ketiga setelah kejadian baru mereka datang ke rumah sakit,” kata Nurhayati, Senin, 4 Mei 2020.

Sumber sinarpidie.co pada Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie, yang identitasnya enggan dituliskan, mengatakan pasca-Azizah, 42 tahun, ditikam suaminya, Zaini, 50 tahun, Sabtu, 18 April 2020 pagi sekira pukul 7.00 WIB di Pasar Terpadu Pante Teungoh Kota Sigli, informasi tentang KDRT berat tersebut telah diterima oleh Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie pada pukul 11.00 WIB. "Kadis dan Kabid tidak merespon karena hari itu hari Sabtu," kata sumber sinarpidie.co tersebut. "Mereka baru menjenguk korban setelah tahu bahwa korban akan dirujuk ke RSUDZA pada Senin 20 April 2020, tiga hari setelah kejadian. Kronologis kejadian dan pengabaian dari dinas pasca-KDRT berat itu sudah kita laporkan ke provinsi dan provinsi tahu bagaimana kelalaian itu sejak awal."

Baca juga:

Seharusnya, kata dia, DP3AKB Pidie mendampingi korban paling telat satu kali 24 jam setelah kejadian KDRT berat tersebut terjadi. "Mereka tidak kerja kalau tidak ada honor dan SPPD. Mereka seharusnya hadir di rumah sakit saat korban divisum, dirontgen, dan memastikan bentuk pelayanan rumah sakit terhadap korban. Apakah dilayani dengan baik, apakah dioperasi dengan benar. Kelalaian penanganan pada korban ada dua. Pertama di pendampingan, kedua di rumah sakit," ungkapnya.

Diberitakan sebelumnya, Azizah dioperasi pada hari kejadian tersebut, Sabtu, 18 April 2020, di RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli pada pukul 12.00 WIB dan selesai pada pukul 16.00 WIB.

Dua hari setelah menjalani operasi, tepatnya pada Senin 20 April 2020, perut Azizah membengkak karena ternyata tiga tusukan menembus usus Azizah tapi tidak dijahit pada saat operasi pertama. Azizah dirujuk ke RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh pada Senin, 20 April 2020.

Setelah sepuluh hari menjalani perawatan di RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh, perut Azizah semakin membengkak sehingga pada Rabu, 29 April 2020, dokter memutuskan untuk membuka jahitan di perut Azizah bagian kanan.

Azizah kembali dioperasi untuk kedua kalinya pada Rabu, 29 April 2020. Operasi itu berjalan selama lima jam lebih, sejak 20.30 WIB hingga Kamis, 30 April pukul 02.08 WIB.

Setelah operasi tersebut, Azizah tak sadarkan diri hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhir pada Sabtu, 3 Mei 2020 pukul 04.45 WIB. []

Reporter: Diky Zulkarnen, Firdaus

Loading...