Tak Ada Gapura di Gampong Mee Krueng Seumideun

·
Tak Ada Gapura di Gampong Mee Krueng Seumideun
Kondisi rumah salah seorang warga Gampong Mee Krueng Seumideun, Kecamatan Peukan Baro, Pidie. Dok. sinarpidie.co.

sinarpidie.co - Ada pemandangan yang tak biasa pada Gampong Mee Krueng Seumideun, Kecamatan Peukan Baro, Pidie, di tengah kucuran Dana Desa (DD) tahun ini yang mencapai Rp 689.333.000 dan Alokasi Dana Desa (ADD) Rp 232.011.120, dengan jumlah penduduk hanya 112 jiwa.

Tak ada gapura sebagai penanda bahwa Anda telah memasuki gampong yang dihuni oleh sekitar 60 KK tersebut. Jalan utama menuju ke gampong yang dipimpin oleh Keuchik Irwan ini adalah jalan rabat beton yang telah tergelupas sana-sini, melendut, dan bopeng seperti bekas jerawat di wajah. Hal berbeda akan Anda temui jika Anda melintas hingga ke jalan Gampong Meunasah Jurong yang telah teraspal dengan dibiayai Dana Desa (DD) gampong tersebut. Jalan rabat beton dengan lebar tiga meter dan panjang sekitar 500 meter tersebut menghubungkan Gampong Mee Kreung Seumiduen dengan Gampong Meunasah Jurong, Kecamatan Peukan Baro.

Pagar meunasah atau surau gampong ini masih telanjang. Masuk lebih jauh ke dalam, Anda akan mendapati sejumlah rumah doyong dan reot, yang dihuni warga di gampong tersebut. Sebuah rumah layak huni teronggok di sebelah kiri atau di depan sebuah balai yang dibangun oleh para pemuda gampong setempat secara swadaya.

Kondisi jalan utama Gampong Mee Krueng Seumideun. Dok. sinarpidie.co.

Gampong ini merupakan salah satu gampong tertinggal berdasarkan pengelompokkan Indeks Desa Membangun (IDM) di Pidie meski letak gampong ini hanya 8 kilometer dari Kota Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie.

Keuchik Gampong Mee Krueng Seumideun, Kecamatan Peukan Baro, Pidie, Irwan, mengatakan jalan utama gampong tersebut akan diaspal tahun ini. Kendati demikian, belum ada tanda-tanda jalan utama di gampong itu akan diaspal meski sisa waktu tahun anggaran 2020 hanya dua bulan lagi.

“Untuk rumah layak huni, ketika masyarakat saya tidak ada rumah, saya kasih rumah itu,” kata Irwan, Selasa, 20 Oktober 2020 lalu.

Kondisi rumah milik Mustafa, 50 tahun, warga Mee Krueng Seumideun. Dok. sinarpidie.co.

Anggaran pembangunan satu unit rumah layak huni tersebut ialah Rp 105.750.000, yang bersumber dari APBG gampong tersebut tahun anggaran 2019. Informasi yang dihimpun sinarpidie.co, rumah tersebut tidak dihibahkan pada warga yang layak menerima, tapi disewakan kepada perangkat desa. “Saya belum tahu lagi berapa harga sewanya. Sekarang lagi disapu-sapu,” sebutnya. “Rencananya warga yang tidak memiliki rumah yang akan menghuni rumah tersebut untuk sementara.”

Rumah layak huni yang disewakan pada perangkat gampong. Anggaran pembangunan satu unit rumah layak huni tersebut ialah Rp 105.750.000, yang bersumber dari APBG gampong tersebut tahun anggaran 2019. Dok. sinarpidie.co.

Kata dia,  jalan, pagar meunasah, dan fasilitas umum di gampong setempat, termasuk gapura, tidak dibangun meski ia sudah menjabat sebagai Keuchik Gampong Mee Krueng Seumideun, selama 3 tahun 10 bulan, karena pihaknya lebih memprioritaskan pembangunan lainnya, seperti tempat wudu. "Tempat wudu kan penting itu. Di sini banyak orang Islam," katanya.

“Tempat wudu itu diborong oleh tukang yang keuchik cari. Rp 11 juta. Bukan warga di sini yang kerja. Pada RAB, Rp 13 juta,” kata warga gampong setempat, yang identitasnya enggan dituliskan. "Setiap akhir tahun, sisa kas selalu nol!"

Selain jalan rabat beton utama yang menghubungkan Gampong Mee Krueng Seumideun dengan Gampong Meunasah Jurong, Kecamatan Peukan Baro, hanya ada tiga lorong lainnya di gampong tersebut. Kondisi mereka nyaris sama: bopeng! Tahun ini, sisa kas gampong ini hanya sekitar Rp 50 juta.[]

Loading...