Tabuhan Rapa’i Para Penadah Air Hujan

·
Tabuhan Rapa’i Para Penadah Air Hujan
Kondisi jalan menuju ke Gampong Pulo Bungong, Kecamatan Batee, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co—Jalan selebar dua meter, yang penuh dengan kerikil, menjadi satu-satunya jalan menuju ke Gampong Pulo Bungong, Kecamatan Batee, Pidie. Gampong itu terletak di sebelah timur Keude Batee. Untuk sampai ke gampong tersebut, kita terlebih dahulu harus melewati Gampong Bintang Hu. Setiap kendaraan yang melintasi jalan tersebut akan meninggalkan kepulan debu di belakang.

Dari atas Jembatan Pulo Bungong yang dibangun tahun 2017 dengan dana Otsus sebesar Rp 2,5 miliar dengan Dinas Pekerjaan umum dan Penataan Ruang Pidie sebagai satuan kerja, rumah-rumah warga di gampong itu seakan dikepung tambak ikan.

Rata-rata, rumah penduduk Gampong Pulo Bungong adalah rumah bantuan pascatsunami. Meskipun seluruh rumah bantuan tersebut memiliki WC, dari 205 KK hanya 10 persen di antaranya yang menggunakan WC di dalam rumah. Lainnya membuang hajat di sungai, tambak ikan dan tiga WC umum milik gampong.

“Kita punya tiga sumur bor milik gampong. Airnya untuk mandi saja, tidak bisa diminum. WC pribadi banyak yang tidak digunakan karena di setiap rumah tidak ada air. Mereka harus mengangkut air dari sumur bor gampong. Kami minum air hujan. Kami selalu menadah air hujan dalam jumlah yang sangat banyak. Hanya ketika musim kemarau saja kami beli air dari sumur bor dari Gampong Pulo Pande," kata M Jafar, 44 tahun, Keuchik Gampong Pulo Bungong.

Jumat, 21 Februari 2020 pagi, di warung kopi selebar 6 x 4 meter yang dikelilingi oleh rumah warga di sisi utara dan selatan, dayah di sebelah barat dan tambak ikan di sebelah timur, anak-anak sekolah SMP asyik bermain. Mereka tak pergi ke sekolah hari itu karena becak yang biasa mengantar mereka ke sekolah yang jauhnya tujuh kilometer ke Blang Kula, Kecamatan Grong-Grong, dengan ongkos Rp 2 ribu, tidak mengantar mereka. Becak tersebut mengantar ikan ke Pasar Pante Teungoh Kota Sigli.

"Hanya ada satu sekolah dasar di gampong kami. Kebanyakan warga hanya lulusan SMP. Ojek sudah tak ada yang masuk ke sini. Kalau tak ada becak yang mengantar 40 anak SMP ke sekolah mereka sudah tentu mereka tidak bersekolah di hari itu karena sepeda motor masih menjadi barang yang mahal untuk warga kami," kata Jafar lagi. "Mayoritas warga adalah nelayan tambak dan nelayan. Tak ada satu pun pegawai negeri."

Dalam wajah kemiskinan yang menampakkan wujudnya dalam bentuk yang paling sempurna, gampong ini memiliki satu kebanggaan, yaitu tradisi Piasan dengan rapa’i. Bunga Desa adalah nama kelompok kesenian di Gampong Pulo Bungong, yang saat ini dipimpin oleh Tgk Syarbaini, 46 tahun, Abdur Rahman, 70 tahun, dan Muhammad Kasem, 70 tahun.

Mereka adalah para syeh dalam pertunjukkan rapa’i. "Dulu hampir semua gampong di Kecamatan Batee punya kelompok rapa'i. Sekarang hanya tersisa tiga lagi, selain gampong kami, di Gampong Pulo Tukok dan Gampong Geuleumpang Lhee," kata Muhammad Kasem.

Pertunjukkan rapai’i dipimpin oleh dua syeh dan 15 penabuh rapa'i. Syair-syair yang dibawakan merupakan syair-syair yang telah ada selama turun temurun.

"Saat ada yang meminta kami tampil maka kami akan latihan dulu selama dua atau tiga hari. Selebihnya kesibukan kami mencari baju untuk tampil, maklum peralatan kami terbatas," kata Muhammad Kasem. []

Loading...