Sejarah

Tabir Mora Ratisa

·
Tabir Mora Ratisa
Ilustrasi istana Raja Aceh. Repro dari Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636).

SULTAN Ala ad-din atau Mansur Syah baru tiba dari Perak ke Bandar Aceh ketika ia dibunuh oleh salah seorang jenderalnya, Mora Ratisa, sekitar tahun 1586. Padahal, saat itu, Sultan Mansur Syah sedang mempersiapkan armada perang dengan 300 kapal layar untuk menyerang Malaka yang bersekutu dengan Portugis.

Raden Hoesein Djajadiningrat dalam Kesultanan Aceh (Suatu Pembahasan tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-Bahan yang Terdapat dalam Karya Melayu) menuliskan Sultan Ala ad-din atau Mansur Syah merupakan sultan kedelapan dalam catatan sejarah Kerajaan Aceh. Ia berasal dari Perak dan memerintah Kerajaan Aceh selama 8 tahun. “Ia (Mansur Syah) merupakan orang asing pertama yang menaiki tahta kerajaan Aceh,” tulis Raden Hoesein Djajadiningrat dalam bukunya Kesultanan Aceh.

Ala ad-din atau Mansur Syah naik tahta lewat tangga yang berdarah-darah. Trah pendiri Kerajaan Aceh, Ali Mughayat Syah, saling membunuh sepeninggalannya pada 7 Agustus 1530. Denys Lombard, dalam Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), menuliskan, “Dalam jangka waktu beberapa bulan saja ada berturut-turut tiga sultan mati terbunuh”.

Menurut Denys Lombard dalam Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), selama menduduki tampuk pimpinan, Ali Mughayat Syah telah menaklukkan Deli, Daya, Pedir, dan Pasai pada 1524. “… pada Mei 1521 ia mengalahkan armada Portugis yang dipimpin oleh Jorge de Brito di laut lepas; pertempuran itu yang pertama dalam perang yang bakal berlangsung selama bangsa Portugis berada di Malaka, yaitu 120 tahun,” tulis Denys Lombard.

Ala ad-din atau Mansur Syah merupakan putra Sultan Perak, Sultan Ahmad. Sang ayah, Sultan Ahmad, tewas terbunuh dalam penyerangan kerajaan Aceh ke sana pada 1577. Mohammad Said, dalam Aceh sepanjang Abad Jilid I, yang mengutip R.O. Winstedt dan R.J. Wilkinson dalam A History of Perak, menyebutkan permaisuri dan 17 anak Sultan Ahmad dibawa ke Aceh.

“Seorang di antara putra laki-laki yang tertua bernama Mansur dinikahkan dengan putri Sultan Aceh bernama Ghana,” sebut Mohammad Said.

Selepas Ala ad-din atau Mansur Syah tewas di tangan jenderalnya sendiri, pucuk pimpinan Kerajaan Aceh diisi oleh Ali Ri’ayat Syah atau Raja Buyung.

Baca juga:

Denys Lombard secara implisit menyimpulkan bahwa sang jenderal yang membunuh Mansur Syah, Mora Ratisa, adalah Sultan Buyung yang kelak naik tahta. “Apakah Mora Ratisa dan Ali Ri’ayat Syah orang yang sama, salah seorang anak raja vassal yang ditawan dalam perang (itulah mungkin sebabnya ia disebut budak)?” tulis Lombard.

Aceh dan Johor memiliki musuh yang sama di Selat Malaka, yakni Portugis. Kendati demikian, Aceh dan Johor tak dapat mengonsolidasikan diri untuk melawan Portugis karena keduanya juga saling sikut-sikutan untuk menjadi penguasa Selat Malaka.

Kelak, Sultan Buyung juga tewas dibunuh. []

Loading...