Hari anak nasional

Syam, Sang Predator Anak

·
Syam, Sang Predator Anak
Gedung pusat pelayanan bagi korban KDRT dan anak korban kekerasaan seksual, yang terletak di samping kanan Kantor Dinas Kesehatan Pidie, terbengkalai. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Halimah, 45 tahun, bukan nama sebenarnya, duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu, di depan rumahnya, di salah satu gampong di Kecamatan Grong-Grong, Kamis, 23 juli 2020 pagi. Dia sedang menyapih anak bungsunya yang berumur dua tahun.

Rumah itu adalah rumah Aceh. Dinding-dinding rumah yang memiliki ukuran 4 x 5 meter itu terbuat dari anyaman bambu. Di bawah rumah Aceh yang bentuknya sudah menyerupai rumah panggung itu, sebuah ruangan digunakan sebagai ruang tamu, dapur, dan kamar tidur sekaligus. “Tidak ada kamar tidur. Kami semua tidur di bawah di atas tikar. Lantai atas kosong. Tidak kami pergunakan,” kata Halimah,

Halimah memiliki tiga anak dari pernikahannya dengan Syamsuddin, 50 tahun, pria yang berasal dari Gampong Rambong Cot Iju, Kecamatan Peusangan, Bireun. Halimah merupakan istri kesembilan pria yang memiliki usaha percetakan batu bata di Rambong Cot Iju itu.

Pada Rabu, 24 Juni 2020, majelis hakim Pengadilan Negeri Sigli menjatuhi Syamsuddin hukuman penjara selama 18  tahun dan denda sebesar Rp 100 juta subsider 6 bulan penjara karena Syamsuddin terbukti melakukan kekerasan seksual terhadap anaknya sendiri, — anak dari pernikahannya dengan Halimah— Sinta, bukan nama sebenarnya.

Pria yang memiliki perut buncit dan berkulit gelap itu dijerat pasal 76 D jo pasal 81 ayat satu dan ayat tiga UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

18 tahun silam, Halimah berkenalan dengan Syamsuddin ketika perempuan itu masih bekerja di sebuah rumah makan di Grong-Grong.

“Istri saya sudah tidak bisa memberikan anak lagi kepada saya. Saya hendak mencari Istri baru,” kata Halimah, menirukan ucapan Saymsuddin padanya kala itu.

Belakangan Halimah mendapati hal itu adalah sebuah kebohongan. Ternyata ia adalah istri kesembilan Syamsuddin. “Saya tahu dia banyak istri kemudian hari. Tapi total istrinya sembilan, saya baru tahu berdasarkan informasi dari polisi saat menangani kasus itu,” kata Halimah.

Syam semula tak pernah pulang lagi ke rumah Halimah semenjak Halimah mengandung anak kedua mereka. Enam tahun setelah Halimah melahirkan anak kedua, Syam baru kembali lagi tanpa perasaan bersalah sedikit pun. “Saya menerima kembali dia pulang setelah enam tahun dia tidak pulang ke tempat saya kala itu. Saat itu Sinta duduk di kelas tiga SD,” kata Halimah.

Sewaktu ditinggal pergi Syam tanpa kabar dan tentu saja tanpa kiriman uang sepeser pun, Halimah bekerja sebagai buruh cuci pakaian dan buruh di kebun orang.

Saat Syam kembali, Halimah bekerja pada Syam: menurunkan batu bata pada toko-toko bangunan. “Syam punya empat dapur percetakan batu bata di Cot Iju, Bireun. Dua dapur percetakan milik istri pertama dan dua milik istri keduanya di sana,” tutur Halimah.

Tangan kanan Halimah menggenggam nasi putih tanpa lauk. Nasi itu ia ambil dari piring plastik yang dipegang dengan tangan kiri, lalu tangan kanannya itu disodorkan ke mulut putra bungsunya.

“Setiap sekali menurunkan batu bata, Syam akan memberikan uang Rp 50 ribu untuk belanja keperluan dapur di rumah. Rp 50 ribu itu sudah termasuk rokok untuk dia. Kalau saya atau anak-anak tidak ikut menurunkan batu bata, dia tidak pernah memberikan kami uang belanja,” sebutnya.

Saat-saat menjalani pekerjaan tersebut, setelah Syam pulang pada 2012 silam, Sinta saat itu berumur 9 tahun. Satu tahun kemudian, saat Sinta berumur 10 tahun, ia mulai ikut menurunkan batu bata di toko-toko bangunan.

Pertama kali Syamsuddin memperkosa Sinta saat ia, sang ayah, dan adik lelakinya yang umurnya tiga tahun lebih muda dari Sinta,  pergi menurunkan batu bata di sebuah toko bangunan di Geumpang, Pidie.

Kala itu, Sinta masih duduk di bangku kelas lima SD.  Pada malam kejadian tersebut, mereka tidur di toko bangunan di Geumpang karena malam sudah larut. Sinta sempat melawan, tapi Syamsuddin terlalu bejat dan kuat bagi seorang anak yang saat itu masih berumur 11 tahun.

Halimah semula tak percaya dengan kejadian memilukan yang dialami anaknya meski Sinta beberapa kali meyakinkannya. “Saat itu saya berpikir tidak mungkin seorang ayah melakukan perbuatan sekeji itu pada anak kandungnya sendiri,” tutur Halimah.

Akhirnya, pada 2017, saat Halimah sedang mengandung putra bungsunya, ia memergoki Syam sedang mengelus dan meraba-raba paha  Sinta saat Sinta sedang tidur. Itu terjadi di siang bolong. “Syam langsung pindah karena tahu saya sedang mengintip. Kemudian saya disuruh ke pasar untuk membeli daging ayam,” kata Halimah.

Halimah, yang sudah tahu perbuatan bejat suaminya kala itu, masih memilih menahan diri, mengingat saat itu dirinya sedang hamil.

Setelah dia melahirkan putra bungsunya, Halimah membawa Sinta ke Puskesmas Grong-Grong untuk divisum. “Saat itu berbarengan dengan laporan pada polisi,” katanya. "Visum kemudian dilakukan di RSUD Teungku Chik Di Tiro Sigli."

Laporannya pada polisi tercatat:  LP-B/ 297 / X/ RES.1.24/ 2018/ SPKT. Pidie, tertanggal 5 Oktober 2018.

“Syamsuddin kabur. Sebelum kabur, dia sempat mengatakan kalau memang Sinta sudah tidak perawan akan saya ganti uang sebanyak Rp 10 juta,” kata Halimah.

Polisi akhirnya membekuk Syamsuddin di sebuah warung kopi di Gampong Rambong Cot iju, Kecamatan Peusangan, Bireun, pada Selasa, 25 Februari 2020 atau dua tahun setelah Halimah membuat laporan polisi. “Syam menyuruh saya merekayasa kalau Sinta disetubuhi oleh pacarnya. Bukan oleh Syam,” sebut Halimah.

Kini Sinta tak lagi melanjutkan sekolah. Ia malu dan kerap memperoleh cemoohan di sekolah. Ia kini membantu memasak di sebuah rumah makan di Grong-Grong.

Fenomena gunung es

Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie mencatat jumlah pengaduan pelecehan seksual terhadap anak hingga Juni 2020 sebanyak sebelas kasus, dengan rincian: satu kasus kekerasan seksual terhadap anak, satu kasus pemerkosaan anak, dan sembilan kasus pencabulan terhadap anak.

Hal tersebut menunjukkan angka kekerasaan seksual terhadap anak di Pidie meningkat dibandingkan dengan 2019, di mana DP3AKB Pidie pada 2019 lalu mencatat lima kasus pencabulan terhadap anak, delapan kasus kekerasan seksual anak, dan lima kasus pemerkosaan anak.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pada DP3AKB Pidie Zubaidah SAg mengatakan kebanyakan pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah orang terdekat dari korban. “Hanya beberapa kasus pelecehan yang terjadi karena suka sama suka,” kata Zubaidah.

Kata dia, kasus yang tidak dilaporkan sebenarnya lebih tinggi karena hal itu seumpama fenomena gunung es. “Ada pula kasus di mana korban menarik laporan karena pelaku ingin menikahi korban,” katanya.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) pada DP3AKB Pidie Zubaidah SAg. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Apa yang dikatakan Zubaidah SAg setidaknya dapat dirujuk dari jumlah perkara yang bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Sigli.

Per Juli 2020, PN Sigli telah memutuskan enam kasus tindak pidana dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak melakukan persetubuhan. Lalu, tiga kasus serupa masih dalam proses persidangan. Padahal, DP3AKB Pidie menerima 13 kasus tersebut per Juni 2020.

DP3AKB Pidie juga kekurangan tenaga fasilitator, konselor, mediator, advokator, baik untuk penyembuhan trauma pada korban maupun untuk mendampingi korban saat proses hukum bergulir.

“Ada empat konselor, dua konselor anak dan dua konselor untuk perempuan. PPA satu dari provinsi. Psikolog dari BNNK Pidie. Mereka semua itu di luar ASN,” kata Zubaidah  SAg.

Panitia Khusus (Pansus) XIV DPRK Pidie juga melaporkan bahwa gedung pusat pelayanan bagi korban KDRT dan anak korban kekerasaan seksual yang terletak di samping kanan Kantor Dinas Kesehatan Pidie terbengkalai dan tak difungsikan sebagaimana fungsi bangunan tersebut.

“Itu gedung untuk Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak atau TP2A karena  rencana kita akan kita bentuk UPTD. Saat ini UPTD tersebut dibahas dan dirancang. Bangunan sudah ada, tapi kami perlu budget. Tahun depan mungkin akan digunakan,” tutup Zubaidah SAg.

Putusan pada pelaku kejahatan seksual terhadap anak pada PN Sigli per Juli 2020:

  • Zulbahri dijatuhi pidana penjara selama 13 tahun dan denda sebesar Rp 100 juta subsider 2 bulan penjara (putusan Senin, 16 Maret 2020);
  • Junaidi dijatuhi pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 1 miliar subsider 2 bulan penjara (putusan Selasa, 12 Mei 2020);
  • Syamsuddin dijatuhi pidana penjara selama 18 tahun dan denda sebesar Rp 100 juta subsider 6 bulan penjara (putusan Rabu, 24 Juni 2020);
  • Azhari dijatuhi pidana penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp 100 juta subsider 1 bulan penjara (putusan Selasa, 16 Juni 2020);
  • Mustafa dijatuhi pidana penjara selama selama 13 tahun dan denda sejumlah Rp100 juta subsider 3 bulan penjara (putusan Kamis, 2 Juli 2020);
  • Bustami dijatuhi pidana penjara selama 8 tahun dan denda sejumlah Rp300 juta subsider 3 bulan penjara (putusan Kamis, 9 Juli 2020).[]
Loading...