Subuh Penculikan Nuruzahri

·
Subuh Penculikan Nuruzahri
T Muzammir dan Mudawali. Foto Ist.

Tak mendapatkan jawaban yang ia harapkan, Irwan lantas membuka celana Nuruzahri. Ia juga memelorotkan celana dalam pria malang itu hingga ke lutut seraya berkata, “Kubakar penismu malam ini. Mengapa penis itu jahat sekali?”

sinarpidie.co - Nuruzahri, 20 tahun, warga Gampong Rabo, Kecamatan Tiro/Treuseb, sedang berada di Pasar Rakyat Beureunuen di Gampong Baroh Yaman, Kecamatan Mutiara, Pidie, bersama beberapa temannya pada Jumat, 9 Oktober 2020 dini hari, ketika T Muzammir, 24 tahun, warga Gampong Keumangan Cut, Kecamatan Mutiara, memintanya menghadap pria yang memiliki nama julukan Si Pon, itu.

"Kita pergi ke Lampoh Sawo untuk mengambil mobil saya," kata Si Pon pada Nuruzahri.

Mengendarai sepeda motor Honda CBR 150 merah dengan nomor polisi BL 1999, T Muzammir ternyata membawa Nuruzahri ke rumah Irwan, 45 tahun, di Gampong Jiem, Kecamatan Mutiara Timur.

Irwan, yang baru tiba di rumah, turun dari mobil Toyota Kijang pikap hitam. Terdengar debum pintu ditutup. Dengan tatapan nanar, Irwan mencengkram kerah baju Nuruzahri.

“Ikat dia, Pon!” Irwan memberi perintah.

Nuruzahri, dengan tangan terikat di belakang punggungnya, lalu dibawa ke pinggir sawah di dekat rumah Irwan. Pemuda malang itu kemudian menerima tamparan dan pukulan. Tak hanya itu, ia juga merasakan dinginnya pisau yang digenggam Irwan di lehernya.

Irwan mencecar sejumlah pertanyaan terkait perselingkuhan pemuda itu dengan istri Irwan, Arbaiyah, yang berumur 40 tahun. Pertanyaan-pertanyaannya itu diselingi sejumlah ancaman pembunuhan dan pukulan. “Lillahi ta’ala saya tidak berbuat apa-apa,“  kata Nuruzahri memohon untuk dibebaskan.

Tak mendapatkan jawaban yang ia harapkan, Irwan lantas membuka celana Nuruzahri. Ia juga memelorotkan celana dalam pria malang itu hingga ke lutut seraya berkata, “Kubakar penismu malam ini. Mengapa penis itu jahat sekali?”

Mendengar kata-kata yang menyayat hati itu, T Muzammir menyerahkan korek api pada Irwan. Irwan menyambar korek itu. Ia lalu menyalakan korek api dan mengarahkannya pada sesuatu yang berayun-ayun di selangkangan Nuruzahri.

Irwan menyumpal handuk— entah bersih, entah kotor— ke dalam mulut Nuruzahri. Pemuda itu diberi dua pilihan: jika mengaku bahwa dirinya telah tidur dengan Arbaiyah, maka ia akan dibebaskan. “Tapi jika tidak, kau akan mati di tanganku malam ini,” kata Irwan.

Tak mendapat jawaban karena handuk masih menempel di dalam mulut Nuruzahri, Irwan lantas melepaskan benda itu agar pemuda itu bisa bicara. Yang terjadi kemudian, wajah Nuruzahri menjadi karung tinju atau samsak, karena jawabannya tak memuaskan si penanya. Tak ingin melewatkan kesempatan langka tersebut, T. Muzammir juga melepaskan pukulan ke arah wajah Nuruzahri. Hal itu, setidaknya, baru berhenti pada 05.00 WIB sesaat sebelum azan subuh berkumandang. Nuruzahri pun terpaksa mengaku.

Irwan lantas membawa istrinya ke lokasi pemukulan Nuruzahri. Sang istri membantah pengakuan Nuruzahri. Alih-alih memarahi istrinya karena tidak mengaku, Irwan justru kembali menjadikan wajah Nuruzahri samsak tinju. Lagi-lagi, tak ingin melewatkan kesempatan tersebut, T Muzammir menampar Nuruzahri dengan sendalnya.

Saat azan subuh memecah keheningan, Nuruzahri dimasukkan ke dalam rumah kosong yang bersebelahan dengan rumah Irwan.

Dengan tangan masih terikat dan mulut masih dibekap, Nuruzahri tidur di atas selembar kain yang telah usang, yang dibentangkan di atas lantai. Pada pukul 16.00 WIB, karena Nuruzahri belum makan, Irwan menendang pantatnya agar ia bangun untuk makan.

Sekitar pukul 23.30 WIB, Nuruzahri duduk di belakang sepeda motor yang dikendarai T. Muzammir. Di belakangnya, duduk rekan T Muzammir dan Irwan, Mudawali, 27 tahun, warga Gampong Meunasah Sagoe, Kecamatan Glumpang Baro.

Mereka berkendara menuju Mapolsek Mutiara Timur. Sementara itu, Irwan dan istrinya, Arbaiyah, juga tiba di Mapolsek tersebut belakangan.

Dengan berapi-api, Irwan lantas menceritakan perselingkungan istrinya dengan pemuda yang usianya terpaut 20 tahun lebih muda dari sang istri. Irwan juga menyodorkan bukti rekaman pengakuan pemuda itu pada polisi.

“Namun setelah korban diinterogasi oleh salah seorang petugas kepolisian, korban menceritakan permasalahan dari awal hingga akhir sehingga pihak kepolisian memberikan pendapat bahwa perbuatan Irwan tersebut salah. Dan pada saat itu Irwan menyerahkan handphone milik korban,” kata Kapolres Pidie, AKBP Zulhir Destrian SIK MH, melalui Kasat Reskrim Polres Pidie, Iptu Ferdian Candra, Rabu, 14 Oktober 2020.

Irwan, istrinya Arbaiyah, T Muzammir, dan Mudawali meninggalkan Mapolsek Mutiara Timur, dan Nuruzahri juga meminta izin untuk kembali ke Pasar Rakyat Beureunun.

“Kemudian karena keberatan, korban melaporkan kejadian tersebut ke Polres Pidie. Pertama, kita menangkap Irwan pada Sabtu, 10 Oktober 2020, malam, di rumahnya di Gampong Jiem, Kecamatan Mutiara Timur. T Muzammir  ditangkap pada Selasa, 13 Oktober 2020, di jalan arah Teupin Raya ke Kembang Tanjong. Mudawali ditangkap di rumahnya,” kata Iptu Ferdian Candra. “Untuk perkara penculikan dan penganiyaan terhadap korban sudah lengkap pelakunya sebanyak tiga orang. Ketiganya dipersangkakan dengan pasal 328 subs pasal 333 dan pasal 170 KUHP. Fakta baru yang kita peroleh, selain Nuruzahri, terdapat korban lain yang dianiaya, yakni Andi Rahman. Dia juga sudah membuat laporan polisi.”

Bagi Nuruzahri, rumah Irwan memang tak asing. Saat T Muzammir membawa Nuruzahri meninggalkan Pasar Rakyat Beureunuen menuju ke arah Kota Mini lalu di Simpang Jalan ke arah Kembang Tanjong, mereka berbelok ke Gampong Jiem dan masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah, Nuruzahri berkata, "Ini kan rumah Bang Adek,"

Bang Adek merupakan nama panggilan Irwan. []

Loading...