Suara-Suara Mesin Bordir di Gampong Ulee Tutue Raya

·
Suara-Suara Mesin Bordir di Gampong Ulee Tutue Raya
Erna Yatim, 62 tahun, seorang penjahit bordir di Gampong Ulee tutue Raya. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Suara mesin bordir terdengar saling bersahutan di beberapa rumah di Gampong Ulee Tutue Raya, Kecamatan Delima, Pidie, Sabtu, 17 April 2021. Dari salah satu jendela berterali besi di rumah yang berwarna merah muda, terlihat seorang perempuan paruh baya sedang mengoperasikan mesin bordir Brother B735 miliknya dengan cekatan. Dia adalah Erna Yatim, 62 tahun, seorang penjahit bordir di Gampong Ulee tutue Raya.

Motif bunga telah terbordir rapi di sehelai kain katun putih. “Kain ini akan dijahit menjadi sebuah mukena,” katanya, Sabtu, 17 April 2021.

Membordir dan menjahit mukena serta kain sarung telah dilakoni ibu dua anak ini semenjak puluhan tahun silam. "Awal mula saya membordir dan menjahit sekitar tahun 1995,” tuturnya.

Ongkos membordir dan menjahit mukena—kain disediakan oleh pemesan—antara Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu per mukena, sedangkan untuk menjahit satu kain sarung bordir, dia mendapatkan bayaran Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu.

"Harga berdasarkan ukuran bordir. Rata-rata, untuk mukena seharga Rp 120 ribu,” tuturnya lagi.

Proses awal pembordiran mukena diawali dengan menggambar pola. Pola pada mukena biasanya berbentuk bunga. "Lazimnya pola-pola pada mukena atas permintaan pemilik kain,” katanya lagi.

Setelah semua pola tergambar, kain tersebut dibordir menggunakan mesin bordir. Kemudian, kain tersebut disolder mengunakan solder listrik lalu dijahit menjadi mukena. Proses pembordiran kain dan menjahit mukena dan sarung memakan waktu antara 3 hingga 7 hari.

Erna Yatim, 62 tahun, seorang penjahit bordir di Gampong Ulee tutue Raya, menunjukkan hasil bordir di sehelai kain putih. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

“Untuk sarung, motif bordir yang biasa digunakan adalah motif Pinto Aceh dan motif Aceh lainnya,” tuturnya.

Kebanyakan perempuan di Kemukiman Aree memiliki mesin bordir di rumah mereka. Selain menerima pesanan perorangan, produk-produk para perempuan di kemukiman ini juga dipasarkan di Pasar Grong-Grong, Pasar Garot, dan Pasar Kota Sigli.

Baca juga:

Fatimah Husen, 55 tahun, warga Gampong Ulee Tutue Raya, Kecamatan Delima, Pidie, adalah salah seorang pelaku usaha rumah tangga untuk kegiatan ekonomi tersebut. "Dulunya saya punya karyawan. Namun  sekarang, saya hanya memesan pada beberapa teman yang ada di sekitar rumah,” tuturnya.

Alasannya tidak lagi mempekerjakan karyawan dikarenakan permintaan mukena dan sarung bordir mengalami penurunan setiap tahunnya. "Paling laris biasanya bulan Ramadhan," sebutnya.

Fatimah Husen menitipkan mukena dan kain sarung hasil bordir dan jahitan perempuan di Kemukiman Aree di toko-toko di Pasar Garot, Sigli, dan Grong-Grong seharga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu untuk satu mukena, dan Rp 140 ribu untuk satu kain sarung bordir. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Dia menitipkan mukena-mukena tersebut di toko-toko di tiga pasar tersebut di atas seharga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu untuk satu mukena, dan Rp 140 ribu untuk satu kain sarung bordir. "Saya hanya menitipkan. Jika terjual saya akan ambil uangnya sesuai kesepakatan,” kata dia.

Saat ini, Fatimah Husen juga menjajaki pemasaran produk-produk tersebut melalui media sosial. "Alhamdulilah, selama Ramadhan, sudah ada beberapa pesanan dari luar Aceh,” tutupnya. []

Loading...