Penembakan di Trienggadeng

Sore Terakhir Abu Razak Cs

·
Sore Terakhir Abu Razak Cs
Lokasi penembakan kelompok Abu Razak Cs. Foto direkam Jumat, 20 September 2019. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co--SESAAT sebelum suara tembakan di Keude Trienggadeng, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, pada Kamis, 19 September 2019, terdengar, Irfan, 37 tahun, telah bangkit dari tempat duduknya. Ia meninggalkan kedai Aceh Kupi, yang jaraknya sekitar 150 meter dari jembatan Trienggadeng.

Usai menghidupkan sepeda motor dan mengendarai motor tersebut dari arah Banda Aceh-Medan dan baru sampai ke tengah-tengah jembatan tersebut, ia melihat sebuah mobil tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Penumpang di dalamnya yang belakangan ia ketahui adalah polisi, keluar dari pintu tengah mobil tersebut lalu memuntahkan peluru ke arah mobil Toyota Avanza dengan nomor polisi BL 1342 R, yang belakangan ia juga ketahui ditumpangi kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang dipimpin Tun Muhammad Azrul Mukmin Al Kahar alias Abu Razak. Mobil yang ditumpangi polisi tersebut kemudian melaju agak ke depan dan parkir dengan posisi mobil agak miring.

“Semula tidak ada tanda-tanda ada insiden. Saya pikir ada kecelakaan. Posisi saya di tengah-tengah jembatan. Di samping saya juga ada mobil dum truk kuning. Saya berdiri sekitar 20 meter dari tempat kejadian. Di belakang, ada banyak mobil yang antri karena tak bisa lewat. Pengendara memang dihadang agar tak melintas dulu,” kata Irfan pada sinarpidie.co, Jumat, 20 September 2019 di Trienggadeng, Pidie Jaya.

Kata Irfan lagi, ia juga melihat sejumlah polisi turun dari mobil yang berhenti di belakang mobil yang ditumpangi Abu Razak Cs dan juga menembaki mobil yang ditumpangi Abu Razak Cs tersebut.

“Penumpang di dalamnya sudah roboh. Ketika sudah roboh pun masih ada suara senjata,” cerita Irfan. “Dari dalam mobil Abu Razak tidak ada balasan. Penembakan tak sampai satu menit. Evakuasi yang lama.”

SORE itu mendung dan bergerimis. Rusli Abdurrahman, 50 tahun, warga Gampong Sagoe, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, sedang duduk di Warkop Kurnia di Jalan Banda Aceh-Medan nomor 2, di Keude Tringgadeng, Pidie Jaya. Lokasi tersebut adalah deretan ruko lima pintu dengan luas masing-masing ruko 4 x 6 meter.

Ketika melihat mobil yang ditumpangi Abu Razak Cs berhenti di depan Warkop Kurnia, Rusli semula berpikir seseorang hendak membeli nasi di warkop tersebut.

“Saat pintu tengah mobil dibuka, saya lihat ujung senjata dari bawah pintu mobil. Saya pikir polisi mau beli nasi. Tapi tiba-tiba terdengar tembakan. Saat itu saya tidak lihat lagi karena sudah kocar-kacir. Mungkin senjata KKB itu macet,” kata dia.

DI SALAH satu sudut selasar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teungku Chik di Tiro Sigli, tiga pria duduk di sebuah kursi kayu yang memanjang: Muhammad Isa, 53 tahun, Jafar, 50 tahun, dan Awaludin Ansari, 42 tahun. Muhammad Isa dan Jafar merupakan dua saudara kandung Tun Muhammad Azrul Mukmin Al Kahar alias Abu Razak, 51 tahun, pimpinan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang tewas ditembak polisi, Kamis, 19 September 2019 kemarin. Sementara, Awaludin Ansari merupakan adik sepupu Abu Razak. 

Kedatangan ketiganya ke RSUD Teungku Chik di Tiro, Jumat, 20 September 2019 ialah untuk memulangkan jenazah Abu Razak ke rumah duka. Abu Razak akan dimakamkan di tempat kelahirannya di Gampong Blang Ara, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara.

"Sebelum dibawa pulang ke Aceh Utara, singgah di Bireun dulu untuk dipertemukan dengan keluarga almarhum di Gampong Cot Trieng, Kecamatan Jeumpa, Bireuen," kata Awaludin.

"Semalam, sekitar pukul tiga pagi saya tiba di RSUD Sigli. Kabar ini juga sudah diketahui dari istri almarhum," kata Awaludin.

Salah seorang saudara kandung Abu Razak, Jafar, 50 tahun, mengatakan, dirinya berangkat dari Nagan Raya begitu mengetahui Abu Razak telah meninggal dunia.  

"Setelah mendapat kabar dari istrinya, kak Nidar, dari Nagan Raya, langsung menuju ke RSUD Sigli untuk melihatnya," kata Jafar. "Selama ini saya jarang komunikasi dengan almarhum. Posisi kami sama-sama dalam perantauan. Paling sesekali sama istrinya ada komunikasi, menanyakan keadaan anak almarhum di Bireun.”

Abu Razak memiliki 8 saudara kandung dan mempunyai seorang istri di Gampong Cot Trieng, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, Nidar. Pasangan Abu Razak-Nidar ini memiliki dua anak.

“Satu laki dan satu perempuan,” kata Awaludin.

Menurut penuturan Awaludin, Abu Razak merupakan eks-kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“Tapi dia tidak sepakat dengan perdamaian antara RI dan GAM 15 Agustus 2015 lalu,” kata dia.

Apa yang dikatakan Awaludin setidaknya dapat dirujuk dari keterlibatan Abu Razak dalam kelompok bersenjata Din Minimi. Kelompok bersenjata ini disebut-sebut tidak puas dengan kondisi perdamaian Aceh hari ini karena ketimpangan ekonomi yang masih tajam. Namun, kelompok ini belakangan meletakkan senjata setelah mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Sutiyoso,‎ ‎menjemput langsung Din Minimi beserta anggotanya di hutan Aceh Timur.

Karena keterlibatannya dengan kelompok Din Minimi, Abu Razak divonis 5 tahun 6 bulan penjara pada 2015 lalu dan sempat menjalani hukuman di Rutan Lhoksukon sebelum akhirnya dipindahkan ke Lapas Kelas IIA Lhokseumawe.

Belum selesai menjalani masa tahanan, Abu Razak kabur dari Lapas Kelas IIA Lhokseumawe pada Senin sore, 18 September 2017.

Berdasarkan catatan polisi, pada 12 September 2019, Abu Razak melakukan aksi kriminal di Gampong Ie Rhob Timur, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen, dengan memeras pemilik kebun sawit, Baital bin Umar sebesar Rp30 juta.

 Baca juga:

Berdasarkan informasi yang diperoleh sinarpidie.co, dua jenazah anggota KKB yang berada di kamar mayat RSUD Tgk Chik Di Tiro Sigli telah dipulangkan baik oleh keluarga Abu Razak maupun keluarga Zulfikar Ben Husen.

Dihubungi sinarpidie.co via telepon selular, sepupu Abu Razak, Awaludin, mengatakan, dirinya menemukan luka tembak pada leher, pinggang, dan lengan pada jenazah Abu Razak.

“Luka tembak kalau kena berondong masuk besar keluar pun besar. Ini kecil dan tembus. Luka tembak ini kemungkinan jarak dekat. Saya menolak bila Abu Razak disebut perampok. Dia tidak merampok,” kata Awaludin.

Informasi yang dihimpun, tiga anggota kelompok tersebut tewas saat kejadian, satu orang  kritis, dan satu lainnya selamat dan saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Mapolres Bireun.[]

Reporter: Candra Saymima dan Diky Zulkarnen

Komentar

Loading...