Sudut pandang

Social Distancing Vs Sosial Dipancing

·
Social Distancing Vs Sosial Dipancing
dr M Iqbal Rasyidin.

Oleh dr M Iqbal Rasyidin*

Social distancing merupakan salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi virus Corona atau Covid-19 dengan menganjurkan orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan melakukan kontak langsung dengan orang lain. Kini, istilah social distancing sudah diganti dengan physical distancing oleh pemerintah.

Ketika menerapkan social distancing, seseorang tidak diperkenankan untuk berjabat tangan serta menjaga jarak setidaknya satu meter saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang sedang sakit atau berisiko tinggi menderita Covid-19.

Ada beberapa contoh penerapan social distancing yang umum dilakukan, yaitu bekerja dari rumah (work from home), belajar di rumah secara online bagi siswa sekolah dan mahasiswa, menunda pertemuan atau acara yang dihadiri orang banyak (seperti konferensi, seminar, dan rapat, atau melakukannya secara online lewat konferensi video atau teleconference), dan tidak mengunjungi orang yang sedang sakit tapi cukup melalui telepon atau video call.

Selain social distancing, ada pula istilah lain yang berkaitan dengan upaya pencegahan infeksi Covid-19, yaitu self-quarantine (karantina) dan self-isolation (isolasi).

Self-quarantine

Self-quarantine atau karantina mandiri ditujukan kepada orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus Corona, misalnya orang pernah melakukan kontak dengan penderita Covid-19 tetapi belum menunjukkan gejala. Orang yang menjalani self-quarantine harus mengarantinakan diri sendiri dengan tetap berada di rumah selama 14 hari.

Dalam masa ini, orang yang menjalani self-quarantine diminta untuk tidak menerima tamu, tidak berbagi penggunaan alat makan, dan alat-alat pribadi dengan orang lain, menjaga jarak setidaknya satu meter dengan orang yang tinggal serumah, mengenakan masker saat berinteraksi dengan orang lain, serta selalu menjaga kebersihan diri dan sering mencuci tangan.

Self-isolation

Self-isolation atau isolasi diri diberlakukan pada orang yang sudah terbukti positif menderita penyakit Covid-19. Biasanya, self-isolation merupakan upaya penanganan alternatif ketika rumah sakit tidak mampu lagi menampung pasien Covid-19. Menerapkan self-isolation tidak bisa sembarangan dan harus dengan arahan dokter.

Dalam prosesnya, penderita Covid-19 harus mengisolasi dirinya sendiri di ruangan atau kamar khusus di rumah dan tidak diperkenankan keluar agar tidak menularkan virus Corona kepada orang lain.

Siapa pun yang ingin berinteraksi langsung dengan penderita hanya diperkenankan selama 15 menit dan harus mengenakan masker atau alat pelindung diri, serta menjaga jarak sejauh satu meter.

Barang yang digunakan penderita, mulai dari sikat gigi hingga piring, harus dibedakan dengan barang yang digunakan oleh orang lain yang tinggal serumah dengannya. Penderita pun wajib untuk selalu mengenakan masker, terutama saat berinteraksi dengan orang lain.

Sosial dipancing

Setelah semua urusan diatur sedemikian rupa dengan upaya-upaya pencegahan lewat social distancing, masyarakat pada akhirnya akan berbenturan dengan berbagai fenomena sosial yang memancing individu untuk tetap berkumpul. Bisa jadi ini adalah sebuah pancingan sosial yang susah dihindarkan, atau ini adalah bukti kelengahan masyarakat untuk tetap menjaga interaksi sosialnya. Berbagai fenomena sosial yang sering dilakukan, yaitu berjabat tangan, aktivitas jual beli di pasar tradisional, berkumpul di kedai kopi, dan menjalankan aktivitas keagamaan.

Berjabat tangan adalah salah satu ciri khas bangsa ini yang menunjukkan betapa ikatan sosial itu masih kuat (strong social ties). Dalam aktivitas keseharian mulai dari tempat kerja, aktivitas sosial, aktivitas ibadah di rumah ibadah, berjabat tangan sambil mengucapkan salam, menjadi simbol nilai persaudaraan (value of brotherhood) komunitas masyarakat.

Di pasar tradisional,  penjual dan pembeli melakukan  transaksi dan biasanya diselingi proses tawar-menawar. Bangunan di sana biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Ini merupakan fenomena sosial yang lazim dilakukan masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar rumah tangganya. Hal yang tak jauh berbeda terjadi pada kedai kopi. Kedai kopi hampir bisa kita temui di setiap tempat. Dalam beberapa tahun belakangan, bermunculan kafe-kafe dengan berbagai konsep yang menarik dan didukung sajian minuman dan makanan membuat eksistensi kafe semakin digemari oleh para remaja. Ini adalah fenomena sosial yang cendrung lebih digandrungi anak-anak muda. Apalagi mereka berpikir usia muda jauh lebih tidak rentan terjangkit infeksi dibanding mereka yang berusia tua.

Selanjutnya adalah aktivitas keagamaan. Agama mempunyai peran yang cukup penting dalam menghadapi segala aspek kehidupan. Dalam situasi apapun, kegiatan keagamaan menjadi wujud dari eksistensi komunitasnya.

Jamaah Tabligh menggelar acara Ijtima Ulama Dunia Zona Asia (19-22 Maret 2020) di Pakatto, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Pesertanya berasal dari 48 negara. Tak kurang dari 8.000 jamaah hadir di acara tersebut. Padahal saat ini Indonesia sedang berupaya mencegah penyebaran Covid-19 yang sudah menjadi pandemi ini.

Jamaah yang mengikutinya merupakan kelompok yang tidak jauh berbeda dengan perkumpulan yang diadakan di Malaysia pada 1 bulan lalu. Mereka telah menginfeksi Covid-19 kepada lebih dari 500 orang, termasuk warga Brunei sebanyak puluhan orang dan Indonesia sebanyak 696 orang.

Seperti inilah perseteruan yang tak habisnya, antara social distancing dan sosial dipancing. Kembali pada logika dan alur berpikir kita, apakah kita akan tetap disiplin menerapkan social distancing atau akan ikut dalam fenomena sosial yang mudah terpancing tersebut. []

Penulis adalah seorang dokter, anggota FAMe Pidie, dan Ketua Forum Pemuda Pidie

Loading...