[Editorial]

Si Puntong Meurumpok Pha di RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli

·
Si Puntong Meurumpok Pha di RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli
RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli. Dok. sinarpidie.co.

Dalam peribahasa Aceh atau hadih maja, terdapat satu kalimat yang digunakan untuk menggambarkan peranggai "kemaruk" seseorang yang mendapat jabatan yang mentereng secara mendadak dan menduduki posisi yang “basah” secara mendadak: lagee si puntong meurumpok pha (seperti lelaki yang buntung kaki mendapatkan kembali kakinya). Si puntong ini, begitu memperoleh kakinya lagi, akan melompat-lompat kegirangan tanpa sadar kaki yang kini menempel padanya hanyalah kaki kayu yang rapuh alias kaki palsu, yang serapuh kekuasaan yang akan berakhir dalam satu tahun ke depan.

Begitu kaki palsu itu patah, tak ada jaminan bahwa rayap takkan melumat kaki beserta usus dan jantung si puntong tersebut. Memang akhir-akhir ini, ada banyak orang kaya mendadak karena melakoni profesi sebagai bandar sabu. Tak jarang kita dengar desas-desus ada banyak politisi mendapat dukungan uang dari bandar sabu, dan mungkin tak sedikit juga pejabat yang mendapat suntikan uang haram tersebut untuk membeli jabatan mentereng di pelbagai institusi pemerintah.

Baca juga:

Tapi tulisan ini tidak mengulas si puntong yang kaya mendadak karena sabu, menumbalkan orang lain untuk ditangkap, dan kini justru kaki palsu atau kaki kayunya telah patah karena sekarang dia sudah berada di balik jeruji besi. Bukan itu.

Tamsil di atas mungkin tepat untuk menggambarkan bagaimana Azhar SKM alias si Har, Kassubag Umum pada RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli diduga bertindak di luar kewenangannya, bahkan melampaui kewenangan seorang Kabag Umum sekalipun: ia diduga menjual baterai mobil bekas hingga menggelapkan limbah B3 berupa jiregen bekas cuci darah pasien. Ada-ada saja memang.

Beberapa supir ambulans dan satpam di rumah sakit tersebut memang mengeluhkan perangai si puntong ini. Namun, desas-desus ini harus dibuktikan secara hukum agar tidak menjadi fitnah bagi si puntong. Tahun ini, berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli, anggaran yang diperuntukkan program pelayanan administrasi perkantoran ialah sebesar Rp 1.628.654.575. Untuk sevice 20 unit personal komputer, anggaran yang dianggarkan Rp 14 juta, service 20 unit printer Rp 13 juta, dan service 35 unit AC Rp 21 juta dll.

Baca juga:

Memang jika dilihat sekilas, nampak biasa-biasa saja, tapi bila didalami dugaan penyimpangan mekanisme pencairan anggaran yang tidak diamprah melalui bendahara ataupun keuangan rumah sakit, tapi justru diamprah pada istri si pejabat di rumah sakit lalu dimark-up di keuangan, jangankan jerigen bekas pasien, baterai mobil bekas, atau jok mobil, batu nisan nenek moyang kita salah-salah juga akan dijualnya atau digadaikan di Bank 47 alias rentenir. Jika harga dan bon spare part kendaraan dinas dan bon bengkel patut diduga bisa disulap, tak ada jaminan biaya service-service lainnya, bahkan biaya untuk lips service, juga dimark-up.

Baca juga:

Padahal, kas pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie terdiri dari Kas di Kas Daerah, Kas pada Bendahara JKN, Kas di Bendahara Pengeluaran, Kas di Bendahara Penerimaan dan Kas di BLUD. Nah, praktik dugaan penyalahgunaan wewenang dengan membelanjakan uang istri sang pejabat di rumah sakit untuk belanja-belanja operasional pegawai dan belanja operasional rumah sakit jelas-jelas bertentangan dengan dengan apa yang telah ditetapkan sebagai PPK-BLUD, berdasarkan Keputusan Bupati Pidie Nomor 546 Tahun 2012 tanggal 17 Oktober 2012 tentang Penetapan Pola Pengelolaan Keuangan pada Rumah Sakit. Dan rekening BLUD ini: Bank Aceh 080.01.02.630039-2.

Karena RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli tidak dibangun dengan harta warisan nenek kita, dan tentu saja tidak ada boinah nenek si puntong di dalamnya, wajar jika sopir ambulans marah ketika si sopir itu diminta si puntong pha untuk kembali ke rumah sakit tatkala si supir telah mengendarai ambulans hingga ke Pasar Beureunuen untuk menjemput pasien. Alasannya: ambulans yang harus dibawa keluar adalah ambulans yang sesuai dengan selera si puntong.

RSUD Teungku Chik di Tiro Sigli ini milik Pemkab Pidie, bukan milik swasta. Bedanya, jika SKPK menyusun RKA, BLUD membuat Rincian Bisnis Anggaran (RBA). BLUD RSUD Tgk Chik di Tiro Sigli ini toh juga masih menggunakan anggaran dari APBK Pidie, selain menggunakan dana yang dikelola sendiri secara fleksibilitas yang berasal dari jasa pelayanan kesehatan (BPJS kita disubsidi pemerintah) atau dari pendapatan operasional BLUD.

Nah, sistem pengadaan barang dan jasa pada BLUD juga berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2018 tentang Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), di mana berdasarkan ketentuan pasal 76 dan pasal 77 menyatakan bahwa pengadaan barang/ jasa diselenggarakan berdasarkan ketentuan pengadaan barang/ jasa dan jenjang nilai yang diatur dengan peraturan kepala daerah.

Anggaran 2020 memang masih tersisa sebelum tutup buku tahunan, tapi tidak ada salahnya jika dugaan-dugaan penyimpangan yang disebutkan di atas diselidiki sejak saat ini. []

Loading...