Sejarah

Si Bambu Gila Tannamal

·
Si Bambu Gila Tannamal
Makam Belanda di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co--Sebagai anggota Volksraad atau anggota DPR Hindia-Belanda dari Aceh, Tuanku Mahmud, diminta untuk menyuarakan kegelisahan masyarakat Aceh tentang tindak-tanduk serdadu Belanda yang kerap meresahkan masyarakat, di dalam sidang-sidang parlemen di Gedung Pejambon, Batavia (Jakarta), agar suaranya itu dapat mempengaruhi kebijakan Gubernemen Belanda terhadap Aceh.

Tuanku Mahmud adalah keturunan Sultan Aceh yang mendapat pendidikan pegawai Pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Ia juga pernah mendapat tugas belajar ke Belanda selama sembilan bulan. Sebelum menjadi anggota Volksraad pada 1931, ia pernah berdinas di Sulawesi, demikian ditulis Anthony Reid dalam Sumatera Revolusi dan Elite Tradisional.

“Disebabkan kemerdekaan jang loeas dalam doenia pelatjuran di Sigli pada masa jang achir2 ini, maka kelihatan oleh jang berwadjib, sekalian soldaten apalagi jang ladjang2 telah kian tambah beraninja oentoek melakoekan perboeatan2 rahasia, sehingga boekan sadja perempoean jang bersahadja, malahan dengan djalan masoek ke kampoeng2 ditempat2 tinggal orang2 jang sopan dan baik2 oentoek menggangoe roemah tangga pendoedoek dan gadis2 orang kampoeng,” tulis Kantjan Mara dalam surat kabar mingguan Seroean Kita edisi 7 Juni 1939, menggambarkan bagaimana serdadu Belanda yang Ambon kerap keluar dari tangsi militer pada malam hari lalu keluyuran ke kampung-kampung.

Dalam artikel yang berjudul Militaire Affaire di Sigli, itu, Kantjan Mara menuliskan, serdadu Ambon, Tannamal, tewas pada Kamis, 31 Mei 1939. “Dimalam terdjadinja pemboenoehan itoe, boekan sadja sangat menarik perhatian kita terhadap perboeatan2 jang tak lajak dari Mil. Ambon jang telah moerka pada pihak sipemboenoeh Hasan dan Djohan…,” tulis Kantjan Mara.

Seorang masyarakat biasa yang kebetulan lewat di depan tangsi mereka dihajar hingga babak belur dan ditebas dengan kelewang meskipun warga nahas itu kelak selamat. Tak berhenti di situ, serdadu-serdadu tersebut kemudian keluar dari tangsi mereka dengan membawa serta kelewang dan karabin. Mereka melampiaskan kematian Tannamal alias Si Bambu Gila pada tiap warga yang mereka temui di jalan. “Politie sendiri tidak berani, sebab seorang reserse, seorang Commandant dan seorang Agent hampir siap djiwanja dipanggal dengan sabel,” tulis Kantjan Mara.

Baca juga:

Meski Pemerintah Hindia Belanda pada waktu-waktu itu telah menjalankan pemerintahan sipil di Aceh, polisi tak dapat mencegah kekacauan-kekacauan yang disebabkan pasukan elite, yang sebagaimana dituliskan Paul Van ‘t Veer dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje  dibentuk pada  1889 itu. "Korps Marsose memiliki persenjataan sebaik-baik persenjataan pada masa itulah: karaben pendek, bukan senapan panjang-panjang, kelewang dan rencong, sepatu dan pembalut kaki untuk semua anggota dan segera juga topi anyaman pengganti helm yang tidak praktis,” tulis  Paul Van ‘t Veer dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje.

H.C Zentgraaff menuliskan dalam bukunya Aceh bahwa, semangat dalam pasukan ini “telah ditanamkan oleh para lelaki seperti Van Heusz dan Van Daalen…”

Tangsi militer dan rumah sakit yang dibangun Pemerintah Hindia-Belanda—kini Gampong Benteng, Kecamatan Kota Sigli—telah menjadi asrama TNI. Di gampong itu juga berdiri sebuah penjara yang dibangun oleh Hindia-Belanda, yang kini menjadi Rutan Klas II B Sigli. Sementara, pemakaman militer Belanda, tempat di mana si Bambu Gila juga dikuburkan, agak menjorok ke dalam, di Gampong Blang Paseh, sama sekali tak terurus.

Gampong tempat di mana Si Bambu Gila dibunuh dan dikuburkan dulunya berada dalam Landschap Pineung di bawah pimpinan uleebalang Bentara Pineung.

Usman Ben, 92 tahun, warga Gampong Blang Paseh, Sabtu, 6 Juli 2019 lalu, berkisah tentang si Bambu Gila, yang tewas dibunuh kakak-beradik Johan Mahmud dan Hasan Mahmud. Kecuali tanggal peristiwa yang agak meleset dan nama asli si Bambu Gila yang tak diketahuinya, Usman Ben menuturkan kisah yang sama sebagaimana diberitakan dalam surat kabar Seroean Kita edisi 7 Juni 1939.

Usman Ben, pria kelahiran 1 Januari 1928, salah seorang yang terdaftar sebagai pejuang veteran. Ia pernah berdinas sebagai tentara ketika Indonesia telah merdeka, tapi belakangan ia memilih untuk bekerja sebagai staf sipil militer sampai pensiun

Johan Mahmud, seorang pemuda yang saat itu dikenal sebagai jagoan di Gampong Weue Tumpok Sigeutep (Bagian dari Gampong Blang Paseh) dan sekitarnya, tutur Usman, memiliki saudara kandung perempuan yang diganggu si Bambu Gila.

Tak terima saudara perempuannya dilecehkan, Johan, bersama 3 saudara kandung laki-lakinya, menghajar Bambu Gila yang juga datang bergerombol bersama pasukan Mersose lainnya. Ditebas dengan parang, kisah Usman Ben, Si Bambu Gila tidak mempan. Si Bambu Gila baru tamat setelah dihajar dengan rotan dan ditikam dengan bambu.

“Salah seorang saudara Johan Mahmud, Hasan Mahmud, dihukum dan dipenjara di  Jakarta. Saat Belanda hengkang, ia dibebaskan dan kembali ke kampung halaman,” tutur Usman Ben.

Dalam otobiografinya, Mr Teuku Moehammad Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa, putra Bentara Pineung itu menuliskan, di Blang Paseh, sang ayah membuka kebun kelapa, tambak ikan, memelihara kambing, dan sapi benggala.  Untuk sapi benggala, sebut TM Hasan, “Kandangnya terletak di kampung Terendam, dekat rumah tahanan Sigli.”

“Sebagai pengawasnya ayah menunjuk krani Baha. Tiap hari sapi itu diperah. Hasilnya dijual ke rumah sakit Sigli,” tulis TM Hasan.

Jika krani Baha mengurusi sapi Bengala, krani Ali, tulis TM Hasan, mengurusi lancang garam Bentara Pineung. Selain itu, Bentara Pineung juga mendirikan kedai-kedai yang kemudian disewakan. Terakhir, sebuah rumah potong di Blang Paseh juga ikut didirikan.

Menurut Mr TM Hasan, sang ayah, Teuku Bentara Pineung, mewakafkan sebidang tanah dan kolam ikan untuk mendirikan sekolah agama Diniyah di Blang Paseh. “Pada mulanya, ayah meminjamkan tanah di kebun Mon Bumba Blang Paseh untuk didirikan asrama siswa,” demikian Mr Teuku Moehammad Hasan dari Aceh ke Pemersatu Bangsa. []

Komentar

Loading...