Sepi Sendiri Dua Pasar Rakyat di Pidie

·
Sepi Sendiri Dua Pasar Rakyat di Pidie
Pasar Rakyat Beureunuen. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

sinarpidie.co--Cat di dinding bangunan itu sudah tergelupas di beberapa bagian. Di bawah kanopi gedung itu,  beberapa rak milik penjaja makanan malam berjajar. Di belakangnya, beberapa mainan mobil-mobilan anak-anak tampak dibaluti dengan kain dan terpal plastik. Di dalam gedung, hampir semua toko tidak terbuka. Hanya ada dua-tiga orang yang terlihat.

Selasa, 26 Maret 2019, sinarpidie.co menyambangi pasar itu. Di tengah-tengah suara deru kipas angin, Mariani, 40 tahun dan Siti Wahidah, 42 tahun, saling bertukar cerita tentang pengalamannya berdagang di sana.

“Cuma ada empat toko,” ungkap Mariani. Ia juga menyebutkan satu persatu toko yang masih dihuni penjualnya.

Mariani dan Siti merupakan pedagang di Pasar Rakyat Beureunuen yang terletak di Pusat Perbelanjaan Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Pidie.

Mereka telah berjualan di sana sejak Mei 2018.

Pembangunan Pasar Rakyat Beureunuen itu menelan biaya sebesar Rp 4,6 miliar yang dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN).

“Dulu, saat pertama buka ramai,” ungkap Mariani seraya menunjukkan hampir semua toko di dalam gedung itu tertempel plang nama, “tapi sekarang sudah banyak yang pindah.”

“Kalau sekarang ini, hari apa saja sama saja, jangankan pembeli, lalat aja tidak ada,” sambung Siti.

Biaya sewa toko yang berukuran kurang lebih 4x3 meter itu sebesar Rp 8 juta per tahun. Sedangkan untuk lapak biaya sewa per tahunnya Rp 4 juta.

“Kalau listrik Rp 60 ribu, untuk dua lampu dan satu kipas angin,” kata Mariani.

Kondisi di dalam Pasar Rakyat Beureunuen. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Selama ini mereka hanya membuka toko dan lapak mereka dari jam sebelas siang sampai jam lima sore. Kadang mereka bisa menutupnya lebih cepat dari jadwal biasanya.

“Bulan empat ini mungkin saya tidak lagi di sini, daripada duduk kayak gini, enggak ada satu pun yang datang, untuk apa di sini, rugi waktu,” keluh Siti.

Selama ini, Mariani hanya mampu menjual barang dengan jumlah Rp 1 juta.

“Tapi itu tidak sepenuhnya dijual di toko, saya jualan online,” kata dia.

BANGUNAN PASAR RAKYAT PADANG TIJI terlihat lebih besar dari bangunan Pasar Rakyat Beureunuen. Lebih kurang, ada delapan puluh gerai di dalamnya. Namun, hanya beberapa gerai yang terlihat dihuni oleh pemiliknya. Tidak sampai sebagian.

Pasar Rakyat Padang Tiji. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Selembar informasi pengumuman tertempel di salah satu tiang gedung itu. Isinya tentang seruan untuk segera membuka gerai-gerai itu. Rentang waktunya sejak 22 Februari hingga 1 April 2019. Hanya sisa beberapa hari lagi, tapi tidak ada tanda-tanda gerai-gerai itu akan dibuka. Sarang laba-laba tampak menempel beberapa sudut dinding. Atap gedung mulai ada yang bocor. Di depan beberapa gerai, terlihat beberapa tumpukan sisa pembakaran sampah.

Maimun, 31 tahun, sedang duduk di depan toko sambil memegang sebuah tablet. Di depan gerainya dan juga gerai yang lain, lantainya masih dipenuhi debu. “Tidak sesuai dengan gambar, banyak sekali debu, saya dengar bulan empat ini mau dikeramik, tapi belum ada tanda-tanda,” kata dia, Rabu, 27 Maret 2019.

Memang selama hampir empat bulan ia menempati gerai, belum ada kewajiban untuk membayar sewa. Hanya saja ia merasa aneh dengan beban biaya listrik. “Sudah tiga kali saya bayar lima puluh ribu, mahal ini, saya harus ke sana untuk tanya, kenapa saya cuma pakai dua lampu bayar lima puluh ribu, sementara ada yang pakai lima lampu, tapi cuma bayar tiga puluh tujuh ribu,” ungkapnya.  

Kata dia lagi, durasi membuka gerai sejak jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Ia tidak bisa memprediksi berapa pemasukannya per bulan. “Tidak ramai pembeli, kadang ada laku seratus ribu, kadang ada juga gak laku dari pagi sampai sore, kadang dalam seminggu gak laku,” keluhnya.

Proyek pembangunan Pasar Padang Tiji dikerjakan oleh perusahaan PT Araz Mulia Mandiri dengan dengan nilai kontrak Rp 5,9 miliar pada tahun anggaran 2017.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop dan UKM Pidie, Idham, mengatakan, pasar rakyat Beureunuen telah menyumbang PAD Pidie.

“Sudah ada pengelola pasar. Disewa pengelola Rp 63 juta per tahun. Kendala tidak banyak pedagang di pasar tersebut karena menurut pedagang ukuran tempatnya agak kecil,” kata dia, Kamis, 28 Maret 2019.

Kondisi di dalam Pasar Rakyat Padang Tiji. (sinarpidie.co/Wahyu Puasana).

Untuk Pasar Padang Tiji, kata Idham lagi, sebelum gedung dibangun, para pedagang berjualan di sana, namun dalam proses dan pasca-dibangun, pedagang pergi ke tempat lain, sehingga saat ini bangunan belum ditempati.

“Namun sudah diserahkan ke pengelola pasar, tapi belum diserahkan ke Pemda. Sudah ditempelkan pengumunan yang berbunyi: kepada siapa saja yang ingin menyewa silahkan menyewanya,” kata dia. "Pasar tersebut pada tahun ini masih ada yang direhab seperti saluran, jalan dan halaman. Ditargetkan tahun depan sudah berfungsi." []

Komentar

Loading...