Sejarah

Sepatu Teungku Mahyeddin di Tiro

·
Sepatu Teungku Mahyeddin di Tiro
Gerilyawan Aceh di Pidie. Sumber foto: KITLV.

sinarpidie.co--Bekas tapak sepatu menuntun Kopral Nussy, seorang Mersose yang ahli melacak jejak, menemukan keberadaan Teungku Mahyeddin di Tiro, putra Teungku Chik di Tiro yang menjadi pemimpin perang gerilya terakhir dari trah Teungku Tiro, dalam Perang Aceh-Belanda.

Operasi ini dipimpin oleh Letnan H.J Schmidt. Dalam buku Aceh, H.C Zentgraff menuliskan, kekuatan pasukan tersebut terdiri dari seorang Letnan Satu, dua serdadu Eropa, satu serdadu Ambon, satu serdadu pribumi, satu kopral Ambon dan satu kopral pribumi, 17 mersose Ambon, 17 mersose pribumi, satu kopral perawat, seorang mandor, dan 24 kuli kerja paksa.

Selain Teungku Mahyeddin, operasi yang dimulai pada 28 Februari 1910, itu, juga menyasar Teungku Dagang Blang Jeurat alias Teungku di Tangse, Teungku di Bukit, dan Peutua Gam Masen, seorang pawang harimau yang punya ilmu kebal.

Teungku Chik di Tiro, tulis Paul Van’t Veer dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje, mempunyai lima orang putra, yang kesemuanya gugur di medan perang.

Anaknya yang pertama, Muhammad Amin “gugur pada tahun 1896 pada aksi-aksi besar pertama sesudah 'pengkhianatan' Teuku Umar. Empat orang putra lainnya dan dua orang cucu semuanya gugur dalam perlawanan antara tahun 1904 dan 1911”.

Teungku Chik di Tiro meninggal dunia pada 25 Januari 1891. Ismail Jakub dalam bukunya yang berjudul Tengku Tjhik di Tiro Hidup dan Perdjuangannya menuliskan Teungku Chik di Tiro meninggal diracun oleh Nyak Ubit.

"Njak Ubit datang membawa kenduri dalam satu hidangan makanan jang tertutup baik dengan sange daja (penutup hidangan makanan bikinan anak negeri). Ratjun itu dimasukkan kedalam daging burung berkik,” tulis Ismail Jakub.

Dari nama-nama yang masuk ke dalam daftar operasi yang dipimpin Letnan H J Schmidt, Petua Gam Masen, pria bertubuh tinggi besar dan berjenggot hitam, merupakan target operasi yang pertama tewas. “… walaupun kena peluru-peluru, masih dapat bergerak, tetapi seorang marosose menebasnya dengan kelewang sehingga rebah ke tanah,” tulis H.C Zentgraff.

Hari nahas bagi sang pawang harimau itu, 2 Mei 1910.

Operasi kembali berlanjut. Kelak, kontak antara pasukan H J Schmidt dan gerilyawan bermula saat mereka beristirahat setelah menyusuri Krueng Tangse, Alue Do-Do, dan Alueseukeue, lalu ke Blang Malo dan Pucok Alue Seupot. Serdadu Belanda berpas-pasan dengan para pengangkut perbekalan dari kampung-kampung untuk kebutuhan logistik perang bagi para gerilyawan. “Ada sejumlah enam orang Aceh, bersenjatakan klewang, dan masing-masing di sampingnya terdapat sekarung beras,” tulis H.C Zentgraff dalam bukunya Aceh.

Keenamnya belakangan melompat ke jurang. Yakin bahwa tempat persembunyian Teungku Mahyeddin sudah dekat, serdadu Belanda mengepung tempat itu dan menemukan empat orang Aceh yang bersenjata sedang mencari kayu bakar. Dua di antaranya tewas dalam pertempuran jarak dekat, sedangkan dua lainnya menghilang di balik hutan yang lebat. Saat mengejar dua gerilyawan Aceh tersebut, serdadu Belanda disambut peluru.

“Peluru-peluru mendesing menyongsong pasukan kita, dan di bawah lengkingan terompet yang ditiup dengan penuh keyakinan oleh tukang terompet memberi perintah serbu, para mersose menyerang sambil memekikkan teriakan seperti gila. Setelah tembak-menembak berhenti, kini tiba giliran kelewang bicara, dan bicara tegas itu mengakhiri adegan tersebut dalam waktu setengah jam,” tulis H.C Zentgraff.

Tempat persembunyian para gerilyawan Aceh di dalam hutan itu memiliki pos penjagaan yang berlapis. Dua belas gerilyawan Aceh tewas dalam pertempuran tersebut, termasuk Teungku di Bukit atau Ubaidillah, salah seorang putra Teungku Chik di Tiro. Selain Teungku di Bukit, tulis H.C Zentgraff, pentolan gerilyawan yang tewas ialah “Teungku Cek Harun, Teungku Muda Syam, Teungku Syekh Samin, dan Habib Cut, putera dari Habib Teupin Wan”.

Baca juga:

Sementara, Teungku Mahyeddin di Tiro berhasil meloloskan diri. Dalam pencarian Teungku Mahyeddin, pada 22 Mei 1910, pasukan di bawah komando Sersan Mollier menyisir hingga ke celah-celah jurang dan menemukan empat gerilyawan Aceh. Tiga di antaranya tewas ditembak, sedangkan seorang lainnya, anak lelaki berusia sekira enam tahun dengan kareben di tangannya, di angkat ke atas. Ia adalah anak Teungku Mahyeddin di Tiro. “Anak ini berbicara dengan sikapnya yang polos, dan yang diceritakannya banyak soal-soal penting untuk diketahui pasukan patroli, dan tanpa menyadari bahwa dengan cerita-ceritanya itu tambah mendekatkan ayahandanya kepada kematian,” sebut H.C Zentgraff dalam bukunya Aceh.

Anak itu menceritakan bahwa ayahnya, Teungku Mahyeddin di Tiro, memakai sepatu. Karena dibesarkan di dalam hutan, ia takjub ketika melihat sapi-sapi merumput dan terkesima melihat pohon-pohon kelapa di kampung-kampung. Saat ia disodorkan nasi, ia bertanya, “Mengapa bukan jagung?”

Oleh serdadu Belanda ditanyakan pula padanya di mana ladang jagung. Anak itu menjawab, di Alue Semi.

“Memang benarlah, sang ayah tewas tak jauh dari ladangnya pada tepi sungai Alue Simi, akan tetapi hal itu terjadi barulah beberapa bulan kemudian, setelah cukup waktunya,” tulis H.C Zentgraff.

Zentgraff tak menuliskan nama anak tersebut dan hanya menyebutkan anak itu dititipkan pada orang kampung.

Teungku Mahyeddin di Tiro memiliki tiga anak yaitu, Teungku Umar Tiro, Fathimah, dan Abdullah. Menurut Zentgraff, anak yang menceritakan tentang sepatu ayahnya dan kebun jagung di Alue Semi adalah anak bungsu Teungku Mahyeddin di Tiro.

sinarpidie.co pernah mewawancarai Zainal Abidin, 65 tahun, salah seorang putra Abdullah di Gampong Pante Garot, Kecamatan Indra Jaya, Pidie. Kata Zainal Abidin, ayahnya, Abdullah, merupakan putra satu-satunya Teungku Mahyiddin dan Cut Mirah Gambang. Sementara, Pocut Fatimah--ibu kandung Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Teungku Hasan Tiro-- dan Teungku Umar Tiro merupakan anak Teungku Mahyiddin dari pernikahannya dengan Cut Asiah.

“Cut Mirah Gambang adalah putri Cut Nyak Dhien dari pernikahannya dengan Teungku Ibrahim Lamnga. Pernikahan Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar tidak dikaruniai anak,” tutur Zainal Abdidin pada sinarpidie.co, pertengahan Agustus 2017 lalu.

Abdullah meninggal dunia pada 13 April 1970. Ia dimakamkan di kompleks kuburan Teungku Abdullah di Tiro, ayah kandung Teungku Muhammad Saman atau yang lebih dikenal dengan panggilan Teungku Chik di Tiro, di Gampong Pante Garot, Kecamatan Indra Jaya, Pidie.

Paul Van’t Veer, dalam bukunya Perang Aceh Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje, menuliskan pasukan marsose Letnan H.J. Schmidt yang terlibat dalam operasi ini “memperoleh: dua Militaire Willemsorde kelas tiga, sebilah Pedang Kehormatan, tiga Militaire Willemsorde kelas 4, dua Bintang Perunggu, dan sepuluh Pernyataan Kehormatan dalam perintah-perintah harian” pada 1912, satu tahun setelah operasi tersebut selesai. []

Komentar

Loading...