Sebuah Tradisi yang Membingungkan: Meledakkan Meriam Karbit di Tengah Pemukiman Penduduk

·
Sebuah Tradisi yang Membingungkan: Meledakkan Meriam Karbit di Tengah Pemukiman Penduduk
Meriam karbit. Dok. sinarpidie.co.

sinarpidie.co - Meledakkan meriam karbit pada malam-malam Idul Fitri di sejumlah titik di bantaran Krueng Baro, yang dekat dengan pemukiman penduduk, di Kecamatan Indrajaya dan Kecamatan Delima adalah sebuah tradisi yang paling membingungkan.

Tak satu pun warga di dua kecamatan di Pidie ini merasa takut dan dibuat terkejut di "malam perang meriam" digelar selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya, tetapi tahun-tahun setelah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia menandatangani kesepakatan damai di Helsinki, Finlandia, pada 2005 silam, beberapa warga di dua kecamatan tersebut telah melakukan kebiasaan yang tak lazim dilakukan di daerah yang telah selesai dengan amuk perang: mengungsi.

Safrijal, 47 tahun, warga Gampong Dayah Muara, Kecamatan Indrajaya, Pidie, masih bisa menerima tradisi perang meriam bambu, tapi dentuman meriam karbit membuatnya gemetar. “Meriam karbit dengan ukuran lima drum minyak baru dikenal setelah damai,” kata Safrizal Rabu, 12 Mei 2021. “Sebelumnya, secara turun-temurun, yang dibakar pada malam Idul Fitri adalah meriam bambu.”

Syamsari, 84 tahun, akan meninggalkan rumahnya di Gampong Dayah Muara, Kecamatan Indrajaya, dan menginap di rumah menantunya di Gampong Puloe Tunong, Kecamatan Delima, sore menjelang meriam karbit akan dibakar selepas Isya. Jantungnya sudah tak cukup kuat untuk mendengar dentuman meriam karbit. Syamsari tak perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tetap berada di rumahnya yang berjarak hanya beberapa langkah dari lokasi pembakaran meriam karbit.

Para pemilik rumah yang berdekatan dengan lokasi perang meriam karbit akan menurunkan semua jam dinding, bingkai foto, dan benda apa pun yang mereka pajang di dinding rumah. Jika itu tidak dilakukan, benda-benda tersebut akan jatuh akibat getaran lalu hancur.

"Cucu saya baru 20 hari. Kami akan mengungsi,” kata Rosna, Rabu, 12 Mei 2021. "Kita tidak bisa melarang tradisi yang hanya dilakukan sekali dalam setahun, apalagi anak lelaki saya juga ikut ambil bagian."

Rosna berharap lokasi perang meriam karbit tidak digelar di pinggir sungai yang berada di dekat pemukiman penduduk. "Lebih baik mereka membakar meriam di tengah sawah,” katanya.

Pada Idul Fitri tahun ini, para pemuda di Gampong Dayah Muara, Kecamatan Indrajaya, Pidie, telah membersihkan bantaran Krueng Baro, yang dijadikan tempat membakar meriam karbit, sejak pertengahan Ramadhan. Mereka saling membagi peran: ada memotong perdu bambu, dan ada yang bertugas untuk mencari sumbangan pada para pemilik kedai yang berjualan di gampong mereka.

Arena perang meriam di Gampong Dayah Tanoh, Kecamatan Pidie, yang disiapkan tahun ini. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Bantaran sungai yang mereka gunakan untuk meletakkan tujuh buah gabungan drum bekas minyak dan 30 batang perdu bambu seluas satu lapangan futsal.

Jamal Akbar, 29 tahun, Ketua Pemuda Gampong Dayah Muara, mengatakan uang yang mereka butuhkan untuk menggelar tradisi tersebut adalah Rp 7 juta. "Uang hasil patungan, sumbangan para pemilik kedai, dan uang dari para perantau,” katanya, Rabu, 12 Mei 2021.

Uang tersebut di antaranya digunakan untuk membeli 100 kilogram karbit seharga Rp 2,2 juta serta membeli campuran minyak tanah dan bensin Rp 500 ribu. "Karbit sudah kami pesan. Harga drum oli bekas atau drum minyak makan bekas Rp 150 ribu per drum. Untuk pengelasan drum-drum tersebut diganding tiga atau empat menelan biaya Rp 300 ribu,” katanya.

Perang meriam karbit dilakukan dengan mengarahkan beberapa meriam, yang terbuat dari tiga atau empat drum minyak bekas yang telah dilas, ke depan dan menengadah ke langit.

Di sebelah selatan, meriam karbit disusun dari Gampong Paloh, Kecamatan Pidie, hingga Gampong Kubang Kecamatan Indrajaya. Sementara, di sebelah utara, meriam serupa dijajarkan dari Dayah Baro, Gampong Ulee Tutue Raya, dan Gampong Pante Aree, Kecamatan Delima. Per gampong memiliki sedikitnya 8 meriam karbit. Ada juga satu-dua meriam karbit yang ditanam di dalam tanah.

Meriam karbit yang ditanam di Gampong Dayah Muara. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Dalam sekali bakar, jumlah karbit yang dimasukkan ke dalam meriam sebanyak 1 kilogram. Dalam waktu 20 menit, letusan meriam karbit ini bisa membahana sepanjang 10 kilometer. Selain meriam karbit, beberapa meriam bambu yang menggunakan bahan bakar minyak juga akan dibakar oleh anak-anak.

Tahun ini, tim gabungan yang terdiri dari personel Polres Pidie, TNI, dan Satpol PP-WH Pidie, menyita meriam-meriam tersebut.

Alasan mereka mengangkut meriam-meriam ini bukan karena meriam-meriam tersebut diledakkan di tengah pemukiman warga, melainkan untuk mencegah terjadinya kerumunan massa di tengah pandemi Covid-19. Kendati demikian, meski tidak semasif tahun-tahun sebelumnya, ledakan-ledakan meriam karbit tetap membahana dan menggantung di udara pada malam-malam Idul Fitri tahun ini.

Seperti yang terjadi pada malam-malam Idul Fitri sebelumnya dan pada malam-malam Idul Fitri di tahun-tahun yang akan datang, dentuman meriam karbit akan menjadi hal yang menakjubkan bagi sebagian orang, dan keadaan akan memburuk bagi sebagian lainnya. Terutama, keadaan akan menjadi aneh: meriam karbit diledakkan di tengah pemukiman penduduk dan beberapa langkah dari jalan kabupaten. []

Loading...