Sejarah

Said Abubakar, Madrasah di Keudah, dan Masabuchi Sahei

·
Said Abubakar, Madrasah di Keudah, dan Masabuchi Sahei
Pendudukan Jepang di Malaya. Sumber foto: The National Archives of Malaysia.

sinarpidie.co--Sebelum mendarat di Aceh pada Maret 1942, —dalam hitungan bulan setelah menduduki Malaya pada Desember 1941— intelijen Jepang ternyata telah mengumpulkan informasi tentang Aceh sejak 1920-an.

Nazaruddin Sjamsuddin dalam bukunya Revolusi di Serambi Mekah Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh 1945-1949, menyebutkan, upaya pengumpulan informasi tersebut dilakukan intel-intel Jepang dengan menyaru sebagai pedagang, pekerja studio foto, penjual kain, dan pemimpin perkebunan di Aceh.

Tak heran permintaan utusan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) agar Jepang di Penang, Malaysia, membantu PUSA mengusir Belanda dari Aceh disambut dengan tangan terbuka oleh Jepang.

Nazaruddin Sjamsuddin menuliskan, Said Abubakar, seorang anggota Pemuda PUSA yang lari dari incaran Belanda ke kampung Aceh atau kampung Yan di Keudah, Malaysia, “membuka hubungan dengan dinas intelijen Jepang, Fujiwara Kikan atau Barisan Fujiwara, yang dipimpin oleh Mayor Iwaichi Fujiwara”.

Fujiwara Kikan atau Barisan Fujiwara sendiri sebenarnya memiliki tugas utama: menaklukkan Inggris di Malaya dengan menggalang tentara-tentara India yang sebelumnya justru berada dalam barisan tentara Inggris.

Versi Anthony Reid sedikit berbeda dengan uraian yang disusun Nazaruddin Sjamsuddin untuk hal itu. Dalam Sumatera Revolusi dan Elite, Reid, yang mengutip hasil wawancara M Joenoes Djamil dengan Said Abubakar dalam Riwayat Barisan F (Fudjiwara Kikan) di Atjeh, menuliskan, Said Abubakar pergi ke Yan, Keudah, Malaysia, usai konferensi rahasia PUSA pada April 1940 digelar. “Tidak lama sesudah konferensi itu Abu Bakar pindah ke Malaya untuk menjadi guru agama masyarakat perantau Aceh yang bermukim di Yen, Keudah,” tulis Reid.

Dalam buku Teungku Muhammad Daud Beureueh: Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, Muhammad Nur el Ibrahimy, yang juga menantu Daud Beureueh, menuliskan, Said Abubakar melakukan serangkaian aksi tersebut bukan atas perintah PUSA. “Tetapi atas keinginannya sendiri karena hendak bekerja sebagai guru pada sebuah madrasah di Yan (termasuk dalam Kerajaan Kedah), dan di tempat itu banyak orang Aceh bermukim. Kepergiannya ini lama sebelum Jepang mendarat di Malaya,” tulis Muhammad Nur el Ibrahimy.

Kampung Yan

Meski Penang jauh-jauh hari telah menjadi pusat perdagangan para saudagar Aceh, keberadaan Kampung Aceh di Yan, Keudah, tak terlepas dari Perang Aceh-Belanda pada 1873.

Antje Missbach, dalam Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh, menguraikan, arus pengungsian kelompok elite Aceh yang kaya raya ke Malaya karena Perang Aceh-Belanda pada 1870-an. Kampung Aceh di Yan, Keudah, tulis Antje, dipelopori Teungku Ashad satu abad setelah migrasi tersebut.

“Menurut sejumlah narasumber dari Kampung Acheh di Yan, awalnya pengungsi Aceh menghimpun dana untuk membantu para pejuang di kampung halaman. Namun, karena Inggris tidak mau menjual senjata kepada mereka, uang yang sudah terkumpul akhirnya digunakan untuk membangun sebuah madrasah,” tulis Antje Missbach.

Di madrasah inilah, bertahun-tahun kemudian, Said Abubakar sempat menjadi guru agama, di samping menggemban misi rahasianya untuk menghubungkan Jepang dengan PUSA.

Said Abubakar bersama sejumlah pengikutnya, dengan menumpangi perahu motor, bertolak ke Selangor lalu bergerak menuju Tanjung Balai, Asahan. Saat-saat itu, ia telah memulai operasi kolom kelima atau kolone kelima. Said merupakan pemimpin kelompok ini, dan ia tunduk pada Masubuchi Sahei, agen intel Jepang yang pernah menjadi pengusaha perkebunan karet di Siak, Riau. Belakangan, Masabuchi Sahei, yang juga penulis kamus Melayu-Jepang, melakukan hara-kiri (bunuh diri) setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu. Masabuchi bersikeras tak mematuhi tuntutan sekutu yang mendesak Jepang menyerahkan senjata. Sebaliknya, ia menyarankan pemimpin militer Jepang di Aceh saat itu, Syozaburo Iino, untuk memberikan senjata Jepang pada para pemuda Aceh.

Petualangan Said Abubakar sempat terganjal. Rombongan Gerakan F itu tertangkap dan sempat ditahan di Idi. Pemimpin misi rahasia ini, Said Abubakar, juga ikut tertangkap, tapi ia kemudian dibebaskan setelah Mr TM Hasan dan Tuanku Mahmud menjadi jaminan.

Gerakan F berhasil menjalankan misinya dengan menciptakan pelbagai kekacauan selama empat hari berturut-turut hingga tentara Jepang mendarat di Aceh pada 12 Maret 1942. []

Komentar

Loading...