Sabtu Pagi di Pasar Beureunuen

·
Sabtu Pagi di Pasar Beureunuen
Penjual beureune (sagu) pada uroe peukan di Pasar Beureunuen. (sinarpidie.co/Firdaus).

Di Beureuneun, beureune (sagu), minyak kelapa, dan emping beras hanya bisa ditemukan pada uroe peukan.

sinarpidie.co--Terminal Bus Beureunuen masih lenggang. Di jalan, tak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Sabtu, 17 Maret 2018, adalah uroe peukan—hari khusus yang dipilih dalam sekali minggu dan ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas jual-beli di pasar—di Beureunuen. Dan itu berlaku untuk setiap Sabtu pada semua minggu, bulan dan tahun.  

Sekitar pukul 06.00 WIB, di salah satu sudut ruko menuju ke arah pasar ikan Beureunuen, Zainah Syamaun, 60 tahun, warga Bereueuh Ulee Tutue, bersama enam rekannya, berdiri di belakang 20 karung 50 kg. Mereka adalah penjual beureune (sagu).

“Kami beli pohon sagu, sekitar Rp. 100 ribu per batang. Setelah digiling, hasilnya 60 hingga 100 are. Kalau dibawa ke sini dan dijual di sini, Rp 7 ribu per are,” kata Zainah Syamaun pada sinarpidie.co.

Ia, sambil melayani satu-dua pembeli, menuturkan, dagangannya tersebut juga akan dibeli oleh para pengepul. “Mereka nanti jual eceran,” kata dia.

Saat ini, beureune (sagu) bisa dikatakan mulai sulit ditemui di pasaran. Dan di Beureunuen, ia hanya dijual pada uroe peukan.

Beberapa saat kemudian, Umi Salamah, 75 tahun, warga Gampong Tutong, Lueng Putu, menggelar beberapa potong karung bekas sebagai tempat duduk, sekaligus menjadi lapak tempat ia berjualan. Dia duduk bersebelahan dengan Zainab, 55 tahun, warga Blang Malo. Mereka menjual minyak kelapa, pliek u, dan asam sunti.

Umi Salamah, 75 tahun, warga Gampong Tutong, Lueng Putu (kanan) dan Zainab (kiri), 55 tahun, warga Blang Malo. Mereka menjual minyak kelapa, pliek u, dan asam sunti. (sinarpidie.co/Firdaus).

“Di Pasar Beureunuen, minyak kelapa hanya dijual pada uroe peukan,” kata Umi Salamah.

Minyak kelapa tersebut telah dikemas dalam botol minuman bekas. Harga per botol: Rp 25 ribu.

Hari mulai terang. Kendaran mulai keluar-masuk ke pasar ikan Beureunuen. Sebuah labi-labi, parkir tepat di sebelah Umi Salamah duduk melayani pembeli.

Nurhayati, 65 tahun, warga Gampong Blang Galang, Kecamatan Pidie, memperlihatkan emping beras dagangannya. (sinarpidie.co/Firdaus).

Perempuan itu menurunkan dagangannya dari dalam labi-labi. Ia adalah Nurhayati, 65 tahun, warga Gampong Blang Galang, Kecamatan Pidie. Selama tiga puluh tahun, setiap Sabtu, ia menyambangi Beureuneun untuk menjajakan emping beras dagangannya. “Rp 20 ribu per are,” kata dia.

Sama seperti beureune dan minyak kelapa, emping beras hanya bisa ditemukan di Pasar Beureunuen pada hari Sabtu.

Kata Nurhayati, aktivitas jual-beli mulai ramai pada pukul 09.00 WIB dan pembeli mulai menyusut pada pukul 12.00 WIB. []

Catatan: 1 are sama dengan 2 liter.

Loading...