Rumah-Rumah Warga yang Berubah Jadi Laut

·
Rumah-Rumah Warga yang Berubah Jadi Laut
Rumah-rumah warga di Gampong Geunteng Barat disapu gelombang purnama pada Juni 2020. Dok. sinarpidie.co.

Selama 11 bulan, bilah-bilah bambu serta karung berisikan pasir teronggok di halaman belakang rumah Yuspina, yang ia harapkan akan mampu menahan laju gelombang purnama. Namun, pada Juni 2020, Yuspina harus merelakan rumahnya itu hancur disapu ombak.

sinarpidie.co - Tempat pendaratan ikan (TPI) di Gampong Geunteng Barat mendadak doyong karena abrasi pada tahun 2009 silam. Hal itu membuat nelayan di sana terpaksa harus mendaratkan ikan di sebuah kebun milik warga setempat selama 10 tahun lamanya, hingga pada akhir 2019, sebuah TPI  dibangun di dekat sebuah tambak ikan di sana dengan pagu anggaran Rp 200 juta.

Pada tahun 2009 pula, lima unit rumah warga di sana-- milik Joni, Hasyem, Hasanudin, Mustafa dan M Amin-- juga kena hantaman gelombang purnama. Mendadak rumah dan tanah mereka berubah menjadi laut. Tak hanya itu, jalan sepanjang 350 meter yang baru selesai diaspal saat itu juga menjadi laut.

Seiring berjalannya waktu, satu per satu rumah warga lainnya berubah menjadi laut. Rumah milik Hasballah, M Yamin Yahya, Muluddin, Nurdin, Refail dan Adnan juga dihantam gelombang purnama pada 2017 lalu. 

***

Pada 9 Agustus 2019, bertepatan dengan meugang Hari Raya Idul Adha, Yuspina, 26 tahun, warga Gampong Geunteng Barat, mendapati halaman belakang rumahnya telah terkikis air laut. Sejak saat itu, ia lantas meletakkan ratusan karung berisikan tanah urug di halaman belakang rumahnya tersebut. Selain itu, ia juga menancapkan bilah-bilah bambu di sana.

11 bulan sudah bilah-bilah bambu serta karung berisikan pasir teronggok di halaman belakang rumahnya, yang ia harapkan akan mampu menahan laju gelombang purnama. Namun, pada Juni 2020, Yuspina harus merelakan rumahnya itu hancur disapu ombak. Selain rumah Yuspina, tiga rumah lainnya-- milik Ainsyah Puasa, Mahdi M saleh dan Aisyah Puasa-- juga bernasib serupa. Kini, mereka menumpang tinggal di rumah sanak keluarga.

Sejak 2009 hingga Juni 2020, satu TPI dan 13 rumah warga Gampong Geunteng Barat lenyap disapu abrasi.  Setidaknya, 11 rumah warga diperkirakan akan bernasib serupa. Namun hal itu seakan menjadi angin lalu bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie dan Pemerintah Aceh.

Baca juga:

Keuchik Gampong Geunteng Barat Saiful Azmi mengatakan terdapat 352 KK di gampong yang ia pimpin. "Total penduduk 1.501 jiwa," kata dia, Rabu, 15 Juli 2020.

Terkesan, perlakuan pada warga Gampong Geunteng Barat agak berbeda dengan perlakuan pada warga-warga lainnya di gampong-gampong di Kecamatan Tangse, Geumpang, dan Mane, yang setiap tahun juga dirudung bencana alam yang berpunca pada aktivitas ilegal logging dan ilegal mining, tapi setiap tahun pula diguyur miliaran anggaran rehab-rekon pascabencana. Selain diguyur miliaran anggaran rehab-rekon, warga di tiga kecamatan ini juga tak pernah alpa memperoleh bantuan rumah layak huni baik dari Pemerintah Kabupaten Pidie maupun Pemerintah Aceh setiap tahun.

Tahun ini, misalnya, terdapat gelontoran anggaran untuk bantuan pembangunan baru rumah layak huni secara swadaya bagi rumah-rumah terdampak bencana di Kecamatan Tangse: Gampong Pulo Mesjid I (Rp 525.000.000), Gampong Layan (Rp 525.000.000), Gampong Pulo Mesjid II (Rp 525.000.000), Gampong Peunalom I (Rp 437.500.000), Gampong Peunalom II (455.000.000), Gampong Keude Tangse (Rp 262.500.000), Gampong Blang Jeurat (Rp 437.500.000), dan Gampong Lhok Keutapang (Rp 437.500.000). []

 

Loading...