Rumah Kepiting di Panteraja

·
Rumah Kepiting di Panteraja
Muhammad Riza, 38 tahun, menjual aneka kepiting di depan rumahnya di Gampong Mesjid Panteraja, Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Muhammad Riza, 38 tahun, lebih merawat kepiting daripada merawat rumah. Rumahnya di Gampong Mesjid Panteraja, Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya, berkerangka beton tapi berdinding batako. Aroma laut menyeruak di teras rumah. Lantai teras rumah itu dilapisi ubin keramik. Rumah itu hanya dicat di bagian depan, sementara susunan batako di sisi kiri dan kanan rumah yang berukuran 5 kali 7 meter itu dibiarkan telanjang. Cat di bagian depan rumahnya itu saling bertabrakkan: ungu, putih, biru, dan hitam.

Di depan teras tersebut, bangunan dengan kerangka kayu dan berlantaikan semen kasar berdiri agak doyong. Satu-satunya pertanda bahwa rumah tersebut bukan loket karcis tong setan atau loket karcis komedi putar adalah plang nama yang terpancang di depan sebuah parabola di atas atap seng: JUAL KEPITING. Ada gambar kepiting di sebelah dua kata tersebut. Di bawah gambar kepiting, ada tulisan: SEGAR.

Rumah itu menghadap jalan Banda Aceh-Medan. Di sebelah kanan rumah tersebut, nyamuk-nyamuk di rawa-rawa berdengung.

Di sepanjang ruas Jalan Banda Aceh-Medan di Gampong Mesjid Panteraja, rumah atau kedai papan ditakdirkan berubah menjadi tempat menjual kepiting. “Saya punya lima kedai kayu tempat menjual kepiting di sini,” kata Muhammad Riza, Senin, 10 Mei 2021.

Kepiting tak bisa bertahan lebih dari tiga hari, tapi Muhammad Riza memiliki kulkas khusus kepiting, tong kepiting, dan kolam terpal plastik hitam dengan air asin untuk kepiting. Tak semua kepiting, di tangan para penjual kepiting di Gampong Mesjid Panteraja, memiliki kemewahan sebagaimana yang dimiliki kepiting-kepiting Muhammad Riza. “Kepiting-kepiting yang saya suruh jual di lima kedai saya yang lain akan dibawa pulang kembali ke sini kalau tidak laku,” sebut ayah dua anak itu, sambil mengikat kepiting dengan tali plastik.

Untuk menjaga kepiting-kepitingnya di dalam tong tidak dicuri, ia juga memasang terali besi di teras rumahnya.

Muhammad Riza tak percaya bahwa ada kepiting yang jinak, dan ia sendiri pun belum pernah mencoba, apalagi berhasil, membudidayakan kepiting meski ia telah menjual kepiting sejak 2007 silam. Itu sebabnya ia menolak memperagakan cara mengikat kepiting. “Tidak bisa diperagakan. Kalau kita ikat pelan-pelan, capit mereka akan menyambar salah satu jari kita,” katanya.

Katanya lagi, kepiting adalah hewan kanibal. “Mereka tidak bisa dibudiyakan karena mereka tak segan-segan memakan ibu mereka sekalipun saat proses pergantian cangkang,” tuturnya. “Kecuali untuk waktu sementara, dan itu pun kepiting-kepiting yang saya tempatkan di kolam di belakang rumah adalah kepiting-kepiting yang ukuran mereka sama, keras, dan capit mereka dalam keadaan terikat.”

Ban mobil berdecit. Muhammad Riza mendengar debum pintu mobil ditutup. Ia masih mengikat kepiting ketika pembeli yang turun dari mobil menanyakan harga kepiting. Kepiting-kepiting yang telah ia ikat ditempatkan di sebuah wadah yang mirip papan cor.

“Ada yang Rp 85 ribu satu kilogram, dan ada yang Rp 75 ribu satu kilogram,” kata Muhammad Riza.

Ia menarik jaring-jaring di atas wadah yang mirip papan cor. Ada tiga sekat pada wadah tersebut dan itu menandai harga kepiting. Dua sekat untuk kepiting yang harga mereka Rp 85 ribu, dan satu sekat untuk kepiting seharga Rp 75 ribu.

Kepiting kecil ia jual Rp 75 hingga Rp 85 ribu per kilogram. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Muhammad Riza menimbang kepiting di timbangan di dekat wadah yang mirip papan cor berjaring. “Apa kita genapkan menjadi Rp 100 ribu saja?”

Tidak ada satu pun kepiting, atau kumpulan kepiting, yang ketika ditimbang, benar-benar menjadi 1 kilogram di dalam plastik kresek. Selalu ada yang lebih meski hanya beberapa ons.

Setiap kali berbicara dengan calon pembeli kepiting, Muhammad Riza harus menelengkan kepala karena suara deru mesin kendaraan yang tak putus-putus di sana bisa membuat seekor gajah yang sedang tertidur terkejut.

Kepiting-kepiting yang dijual Muhammad Riza berasal dari Panteraja, Simpang Tiga, Kembang Tanjong, bahkan dari Panton Labu, Aceh Utara. “Kepiting tambak. Di tambak ikan dan sungai,” tuturnya, seraya membuang kepiting yang mati dan telah lembek ke rawa-rawa di samping rumahnya.

Pria bertubuh gelap dan berambut bergelombang tersebut mengatakan dirinya merogoh kocek Rp 5 hingga Rp 6 juta untuk modal sekali membeli kepiting. “Laba bersihnya sekitar Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu,” katanya.

Dengan nada bicara yang agak mengejek, Muhammad Riza berkata bahwa kepiting adalah makanan yang mewah. Bagi warga Panteraja kemewahan itu bisa dibeli dengan mencari sendiri kepiting-kepiting di sungai atau di tambak ikan.

“Tentu apa yang kita makan sehari-hari harus sesuai dengan pendapatan kita. Harga kepiting Rp 85 ribu sekilogram, dan satu kilogram kadang hanya terdiri dari tiga atau empat kepiting kecil. Kalau harga kepiting jumbo Rp 430 ribu per kilogram,” kata Muhammad Riza. “Kepiting yang ada di dalam tong ini kepiting kecil dengan kategori A, B, dan C. A dan B dijual Rp 85 ribu, dan C dijual Rp 75 ribu.”

Itu semua adalah kepiting hidup. Untuk kepiting yang telah mati tapi masih keras, dimasukkan ke dalam kulkas khusus kepiting. Harga mereka per kilogram Rp 35 ribu.

“Pembeli umumnya pengguna jalan lintas kabupaten dan provinsi. Dan jika dihitung-hitung, pembeli paling banyak PNS,” tuturnya.

Kata Muhammad Riza, kedainya yang terletak di depan teras rumahnya itu buka hingga malam. “Jika lampu di dalam rumah masih menyala, jangan ragu untuk memanggil saya walau dengan sedikit berteriak sekalipun,” tutupnya. []

Loading...