RGE Langgar Komitmen Nol Deforestasi dan Eksploitasi

·
RGE Langgar Komitmen Nol Deforestasi dan Eksploitasi
Citra satelit Juli 2020 menunjukkan adanya pembukaan hutan di dalam konsesi PT Tualang Raya, Aceh Timur. Foto: RAN.

sinarpidie.co - Apical Group, salah satu perusahaan sawit group Royal Golden Eagle  (RGE), mendapatkan suplai minyak sawit dari pabrik sawit PT Syaukath Sejahtera yang menerima Tandan Buah Segar (TBS) dari PT Tualang Raya, produsen sawit yang terungkap secara aktif merusak hutan hujan dataran rendah Kawasan Ekosistem Leuser, habitat kritis gajah dan orangutan Sumatra yang terancam punah.

Hal itu terungkap dalam hasil investigasi Rainforest Action Network (RAN), LSM lingkungan yang berbasis di San Fransisco, Amerika Serikat.

“PT Syaukath Sejahtera dimiliki oleh Lukman Zam Zam atau Lukman Kande Agung, seorang pengusaha besar di Aceh yang bisnisnya mencakup bidang pertanian, kontraktor, ekspor & impor dan bahan makanan dengan beberapa perusahaan yang terdaftar seperti PT Syaukath Agro, PT Kande Agung dan PT Kaye Adang Ekspress. Lukman Zam Zam juga terdaftar di Panama Papers — hasil investigasi yang mengungkap penggunaan perusahaan lepas pantai dan perusahaan cangkang yang sering kali digunakan untuk mengaburkan pelanggaran finansial— melalui kepemilikan sahamnya di perusahaan Samyang International Ltd,” kata Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan RAN, dalam keterangan tertulis yang diterima sinarpidie.co, pekan lalu.

RAN juga mengungkapkan bahwa perusahaan merek dan bank dunia seperti Colgate-Palmolive, Nestlé, Mondelēz, Unilever, Kao dan bank raksasa Jepang MUFG, bank Belanda ABN AMRO dan bank Cina ICBC ikut terlibat dalam lingkaran perusakan hutan group perusahaan ini melalui rantai suplai dan pendanaan mereka.

“Kasus keterkaitan Apical dengan penghancuran Kawasan Ekosistem Leuser merupakan temuan terbaru dari kegagalan yang terus terjadi pada operasional grup  RGE untuk menegakkan praktik Nol Deforestasi, Nol Pembangunan di Lahan Gambut, dan Nol Eksploitasi (NDPE) dalam rantai pasokan globalnya. Skandal ini menunjukkan bahwa pihak-pihak yang terlibat ––konsumen, mitra usaha patungan, dan bank yang mendanai–– harus bisa ikut memastikan untuk menghentikan pembiayaan hingga RGE  bisa memperkuat kebijakan yang telah mereka terbitkan, mereformasi praktik produksi dan suplainya, menyelesaikan konflik sosial, melakukan perbaikan terkait pelanggaran HAM masa lalu terhadap masyarakat lokal/adat serta memperbaiki kerusakan lingkungan,” ungkap Gemma Tillack.

Gemma menambahkan bahwa reputasi Colgate-Palmolive, Nestlé, Mondelēz, Unilever, dan Kao akan terus menghadapi risiko kerusakan yang serius melalui hubungan mereka dengan RGE. “Merek-merek ini harus menangguhkan semua suplai dari grup RGE dan seluruh anak perusahaan serta perusahaan terkait hingga group perusahaan ini dapat membuktikan kepatuhannya terhadap kebijakan NDPE serta memulihkan kerugian yang ditimbulkan dari rusaknya hutan hujan dan lahan gambut Indonesia serta kesehatan masyarakat lokal," sebut Gemma.

Apical Group merupakan salah satu unit bisnis dibawah grup RGE yang mengelola dan mengekspor minyak sawit dan produk turunan sawit untuk keperluan domestik dan ekspor internasional terbesar di Indonesia. Didirikan oleh salah satu konglomerat terkaya Indonesia Sukanto Tanoto, RGE memiliki rekam jejak panjang terkait deforestasi dan konflik dengan masyarakat lokal/adat karena secara agresif telah membuka lahan perkebunan sawit dan bubur kertas yang sangat luas. Kasus ini menguatkan keterlibatan RGE dalam aktivitas deforestasi melalui pemasok pihak ketiga dan perusahaan afiliasinya yang terdaftar sebagai penerima manfaat (beneficial ownership) anak perusahaan RGE.

Pelanggaran terhadap komitmen Nol Eksploitasi juga dilakukan Perkebunan Asia Pacific Resources International (APRIL) anak perusahaan RGE yang sampai saat ini tengah berkonflik dengan lebih dari 500 kelompok masyarakat. “Di wilayah Danau Toba di Sumatera Utara, rumah leluhur masyarakat adat Batak, lebih dari 20 kelompok masyarakat adat, dengan lebih dari 3.000 keluarga terdampak operasional perusahaan bubur kertas Toba Pulp Lestari milik APRIL. Kelompok masyarakat adat ini terus melakukan aksi untuk merebut kembali hutan dan tanah adat mereka yang membentang di lebih dari 25.000 hektare,” tutup Gemma. []

 

Loading...