Perang Aceh Maret 1873

Rel Kereta Api, Hasil Penelitian Snouck, dan Perburuan para Gerilyawan Aceh

·
Rel Kereta Api, Hasil Penelitian Snouck, dan Perburuan para Gerilyawan Aceh
Bengkel kereta api di Gampong Drien Paloh, Kecamatan Padang Tiji, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Di stasiun kereta api di Kota Sigli, ada tiga baris rel kereta. Rel pertama adalah rel kereta cepat ke Banda Aceh. Sebaliknya, rel yang kedua adalah rel kereta api ke stasiun Lameulo atau Kota Bakti. Terakhir, rel yang ketiga adalah rel untuk kereta yang baru tiba dari stasiun Padang Tiji. Kereta yang hendak berangkat ditandai dengan bunyi lonceng sebanyak tiga kali.

Kereta api yang menuju ke Banda Aceh melewati Gampong Kramat dan Peukan Pidie hingga ke Padang Tiji. Setibanya kereta di stasiun Padang Tiji, sebagian penumpang turun di stasiun tersebut, sedangkan penumpang yang menuju ke Seulimum dan Banda Aceh menunggu kereta berhenti selama 10 menit di Padang Tiji untuk menukar lokomotif yang lebih besar, karena rute yang akan dilalui dari Padang Tiji ke Seulimum adalah rute tanjakan dan turunan pegunungan yang terjal dan melewati Krueng Peuët Ploh Peuët. Tanjakan ini dikenal paling curam di seluruh Hindia-Belanda saat itu.

Bekas stasiun kereta api di Kota Sigli di Alun-Alun Kota Sigli. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Di stasiun Selimum, kereta juga berhenti. Ada penumpang yang turun, dan ada penumpang yang naik. Lonceng kembali berbunyi tiga kali pertanda kereta akan melanjutkan perjalanan. Kereta melaju melalui Indra Puri lalu Lambaro. Setiba di stasiun Kutaraja atau Banda Aceh, di Kampung Baru dekat Masjid Raya Baiturrahman, penumpang dengan tujuan Banda Aceh turun di stasiun ini.

Gambaran tersebut tergurat di dalam novel Djeumpa Atjeh karya H. M. Zainoe'ddin, yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1928.

Kurang lebih 50 tahun setelah kereta api uap ini tak beroperasi lagi, bangunan bengkel dan stasiun kereta api di Padang Tiji telah berubah menjadi kios-kios dan rumah warga. Rel kereta api pun tak lagi terlihat di sana. Rel-rel tersebut dijual sebagai besi rongsokan oleh masyarakat pada 1997-1998.

Loket penjualan karcis Kereta Api di Gampong Pasar Paloh, Padang Tiji. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Yusuf, 71 tahun, warga Gampong Drien Paloh, Kecamatan Padang Tiji, Pidie, mengenang pada 1974 terjadi kecelakaan kereta api di stasiun Padang Tiji. Banyak penumpang yang terjepit saat gerbong-gerbong penumpang kereta api terbalik. “Tapi tidak ada korban jiwa saat itu. Penumpang yang naik  di stasiun Padang Tiji kebanyakan membawa ternak dan sayuran menuju Banda Aceh,” kata Yusuf, Sabtu, 27 Maret 2021.

Kereta api dari Padang Tiji, kata Yusuf, berangkat setiap hari pada pukul 08.00 WIB. Ada empat gerbong penumpang, satu gerobak hewan ternak, dan satu gerobak barang dan sayuran. “Harga tiket kurang lebih lima geutep untuk menuju Banda Aceh. Saat itu masih menggunakan uang koin yang tengahnya berlubang,” kenang Yusuf. “Berangkat jam 8 pagi sampai jam 2 siang di Banda Aceh.”

Kereta api melewati Krueng Peuët Ploh Peuët di Seulawah (Padang Tiji-Seulimum). Repro dari Novel Djeumpa Atjeh.

Kecepatan kereta api ini hanya 25 kilometer per jam. Bahan bakar yang digunakan kereta api ini semula adalah batubara ombilin. Pada akhir 1908, bahan bakar yang digunakan adalah kayu. “Selain memerlukan bahan bakar, kereta api dan kendaraan lainnya juga memerlukan minyak untuk pelumas. Sebagai minyak pelumas dipakai jenis minyak mineral Indian Axle Oil dari Vacum Oil Company,” tulis Rusdi Sufi dkk dalam buku Sejarah Perkeretaapian di Aceh (Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2001).

Usman, dalam disertasinya Kereta Api Aceh-Deli (Kajian Historis, Politik dan Ekonomi pada Tahun 1876-1942) menuliskan pembangunan rute atau jalan rel kerta api di Aceh dirintis pada tahun 1874, “di masa Gubernur Aceh Pel yang berawal dari Ulee Lheue-Kutaraja”.

Pada 12 November 1876, Pemerintah Kolonial Belanda membuka stasiun kereta api Kutaraja atau Banda Aceh.

Sebelum Snouck Hurgronje merampungkan penelitiannya De Atjehhers, Aceh adalah kuburan massal bagi Belanda setelah lebih dari 20 tahun berperang tanpa diberengi pengetahuan yang bersifat akademis dan mendalam tentang Aceh.

Penelitian Snouck di Aceh, yang ia dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, —16 Juli 1891 hingga 4 Februari 1892— terdiri dari “sistem politik, administrasi, budaya, mata pencaharian, hukum, pendidikan, kesenian, dan agama”.

Lewat hasil penelitiannya ini, Snouck memberikan rekomendasi-rekomendasi pada Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.

Snouck menyarankan pada Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda untuk memisahkan antara Islam sebagai sistem budaya dan Islam politis. “Islam sebagai sistem budaya lebih merepresentasikan struktur masyarakat pribumi yang terbelakang dan feodal sehingga tidak akan menyulitkan pemerintah kolonial. Namun di tangan para aktivis dan pejuang politik, Islam memiliki dua sisi potensial untuk dieksploitasi dan akan menghasilkan kekuatan sebuah gerakan,” tulis Ahmad Norma-Permata, Dosen Sosiologi Politik UIN Sunan Kalijaga dalam artikelnya yang berjudul Snouck Hurgronje, De Atjehers, dan Nestapa Moral Kaum Intelektual.

Artikel ini merupakan pengantar dalam buku Orang Aceh (IRCisoD, 2019). Buku ini merupakan terjemahan dari De Atjehhers dalam bahasa Inggris: The Acehnese.

Hal itu, tulis Ahmad-Norma Permata, karena doktrin tentang Islam sebagai agama yang terakhir di muka bumi dan paling sempurna dan doktrin jihad.

Taufik Abdullah, sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam pengantar buku Perang di Jalan Allah, yang ditulis Ibrahim Alfian, menuliskan Snouck Hurgronje merumuskan Islam di Aceh menjadi tiga bagian, yaitu ibadah, muamalah, dan politik. "Ibadah dalam Islam harus didukung Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, tetapi Islam sebagai dokrin politik harus dibasmi hingga ke akar-akarnya," tulisnya.

Oleh sebab itu, rekomendasi Snouck pada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda adalah memilah elite politik pribumi menjadi dua: elite yang berbasis adat dan elite yang berbasis agama. Elite berbasis agama sendiri dibagi ke dalam dua bagian, yaitu elite agama berbasis ritual dan elite agama bertendensi politik. Pemerintah kolonial mesti menggalang elite adat dan elite agama berbasis ritual, sementara elite agama bertendensi politik harus dilenyapkan.

Baca juga:

Menurut Snouck, kebijakan defensif sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi Belanda. Kebijakan yang harus diterapkan adalah kebijakan ofensif. “Sebaliknya, selama kita sendiri tidak mengambil langkah ofensif melawan negeri-negeri di wilayah pantai, pos-pos militer di Aceh-Raya akan terus menjadi sasaran penyerangan oleh orang-orang Aceh,” tulis Snouck.

Untuk itu, rute pertama kereta api dibuka sepanjang 5 kilometer dari Ulee Lheue-Kutaraja di bawah Departemen Peperangan (DVO) untuk keperluan mobilisasi logistik militer dan sarana perang—Atjeh Tram— perlahan-lahan diperpanjang hingga ke Gle Kameng Indrapuri, Seulimum, Sigli, hingga ke Lhokseumawe.

Rekomendasi Snouck tidak benar-benar dipenuhi Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda hingga Gubernur Sipil/Militer Aceh dijabat JB Van Heutz. Sejak 1896, Van Heutz mulai memburu gerilyawan Aceh hingga ke pelosok.

Dua tahun kemudian, setelah "sapu bersih" dilakukan Van Heutz, pada Januari 1898, kereta api ini dimanfaatkan untuk umum. “Hingga tahun 1919, kereta api ini tuntas dan telah melayani transportasi dari Aceh sampai ke Deli,” tulis Essi Hermaliza dalam Atjeh Tram Kereta Api di Aceh.

Setelah beralih ke sipil, kereta api ini, tulis Essi, bersalin nama menjadi Atjeh Staatspoorwegen. “Akhirnya, pada tahun 1982, kereta api di Aceh resmi tidak beroperasi lagi dikarenakan terus menerus merugi,” tulis Essi.

Lenyapnya kereta api di Aceh setelah Pemerintah Indonesia menasionalisasi aset Atjeh Staatspoorwegen lalu menyerahkannya untuk dikelola Djawatan Kereta Api (DKA).

Menara air di pinggir Krueng Paloh di Gampong Drien Paloh, Kecamatan Padang Tiji, Pidie. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Beberapa bangunan “perkeretaapian” yang masih tersisa di Padang Tiji adalah stasiun, loket penjualan karcis, menara air, gudang, dan pondasi-pondasi bekas tapak rel di Gampong Pasar Paloh dan Gampong Drien Paloh. []

Loading...