Kawula Muda

Ras Taufik dan Panggung Stand Up di antara Penggalan Perjalanan Hidupnya

·
Ras Taufik dan Panggung Stand Up di antara Penggalan Perjalanan Hidupnya
Muhammad Taufik atau yang lebih dikenal dengan nama Ras Taufik. Foto Ist.

sinarpidie.co--Senin, 16 Agustus 2017, di sebuah warung kopi yang tidak jauh dari lampu lalu-lintas Simpang Kochin, Kota Sigli, Muhammad Taufik atau yang akrab disapa Ras Taufik, tengah duduk dan menyeruput segelas kopi. Saat disinggung mengenai sapaan nama akrabnya—yang kemudian menjadi nama panggungnya—ia mengaku terinspirasi dari seorang penyanyi Reggae Indonesia, yaitu Ras Muhammad. “Dari dulu saya suka sekali dengan Ras Muhammad, jadi saya ubah aja nama facebook saya jadi Ras Taufik, dan akhirnya nama itu sudah melekat,” kata dia.

Hari itu pria berkulit sawo matang, dengan kumis ala-ala Rockabilly itu, mengenakan kaus berkerah abu-abu dan celana ponggol. Setengah bercanda, ia mengatakan kumisnya itu merupakan ciri khas sekaligus pembawa keberuntungan.

Ia menamatkan sekolah dasar di SD N 1 Busu. Selain bersekolah, Taufik kecil juga mengisi waktunya dengan belajar agama di salah satu pondok pesantren yang ada di kampungnya, yakni di Gampong Lingkok Busu, Kecamatan Mutiara Barat. “Sejak kecil saya sudah di pesantren,” ungkapnya.

Setelah menamatkan sekolah dasar, ia memilih bersekolah di luar daerah, yaitu MTsN Samalanga. Ia rela bersekolah jauh hanya untuk memperdalam ilmu agamanya. Namun, itu hanya berlangsung selama satu semester. Ia lalu pindah sekolah ke MTsN yang ada di Bereunuen. “Tapi di situ cuma satu tahun setengah. Setelah itu saya pindah lagi, dan tamat di MTsS Lampoh Saka,” katanya.

Kemudian ia melanjutkan sekolahnya di SMA N 1 Bereunuen. Dan sejak saat itu, ia mulai menekuni dakwah. “Saat itu saya bercita-cita menjadi pendakwah,” katanya lagi.

Bahkan, pria kelahiran 15 November 1995 itu mengaku pernah beberapakali memenangkan perlombaan dakwah. “Pernah dapat juara pertama tingkat santri. Kemudian pernah dapat juara harapan tingkat kecamatan,” ungkapnya.

Namun, ia lagi-lagi tidak bisa menamatkan sekolah tingkat menengah atasnya di SMA N 1 Bereunuen. Dengan alasan yang tidak ingin disebutkannya, ia kemudian pindah dan menamatkan sekolahnya di SMK Mutiara, Beureunuen.

Setelah itu, putra ketiga dari pasangan Muhammad Sufi dan Suriani, ini, ditawari beasiswa untuk melanjutkan studinya. Namun kesempatan itu ia lewatkan begitu saja. Ia mengaku tidak memiliki keinginan sedikitpun untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.

“Kuliah itu nggak ada dalam pikiran saya. Daripada nantinya sia-sia, lebih baik saya enggak kuliah,” kata dia.

***

Pada tahun 2015, Taufik mulai terjun ke dunia Stand up Comedy. Langkah pertamanya dimulai saat ia menghadiri acara acara yudisium STIKES Medika Nurul Islam. “Disuruh stand up, padahal belum ngerti caranya. Langsung aja bicara, dan rupanya ada yang ketawa,” tuturnya.

Ras Taufik dalam salah satu panggung Stand Up Comedy. Foto Ist.
Ras Taufik dalam salah satu panggung Stand Up Comedy. Foto Ist.

Pengalaman pertamanya itu kemudian menjadi modal untuk mengasah bakatnya menjadi komika profesional. Ia mulai mempelajari cara membuat materi dan teknik-teknik ber-stand up secara otodidak. “Saya lihat-lihat YouTube, kemudian mulai menulis materi berdasarkan sudut pandang sendiri,” kata dia.

Selama ber-stand up, ia menyajikan materi tentang kondisi sosial di Aceh. Namun, untuk setiap penampilannya, ia mengatakan, sudah lebih dahulu menyaring dan mencocokkan materi-materinya. Hal itu diupayakannya untuk menghidari isu-isu SARA. “Dalam stand up harus ada penyesuaian materi. Kalau audiennya anak sekolah, ya, tentang sekolahan, kalau di depan pejabat lain lagi. Saya sangat menghindari materi-materi yang melecehkan ras, suku, dan agama,” tuturnya.

Selama ia berkiprah sebagai komika Aceh, ia sudah pernah tampil hampir di seluruh kota yang ada di Aceh. “Yang belum cuma Sabang,” kata dia. Dan ia juga sudah pernah memenangkan sejumlah perlombaan stand up, di antaranya: juara II di SMKN 1 Al-Mubarkeya Banda Aceh, awal tahun 2016; juara I di Bireun, yang di selenggarakan di Hotel Purnama oleh komunitas stand up Bireun pada awal 2017.

“Terakhir itu, di Star Black Coffe di Bireun. Dapat juara tiga. Selain itu ya, menghadiri undangan,” tambahnya.

Ia juga mendirikan sebuah komunitas yang kini vakum. Menurutnya, salah satu penyebab vakumnya komunitas tersebut karena minimnya dukungan dari pemerintah.

“Kemarin kita sempat masukin proposal ke kantor-kantor, yang keluar cuma dua ratus ribu,” ungkapnya.

Ia juga menuturkan, “Selama ini kita itu enggak punya alat. Jadi kalau mau latihan susah, padahal cuma butuh sound system sama pengeras suara. Komunitas stand up di tempat lain, kayak di Banda itu didukung sama pemerintahnya.”

Selain dikenal sebagai seorang komika, Taufik juga aktif sebagai relawan di PMI Pidie. Di samping itu, untuk mengisi waktu luangnya, ia kerap membuat video-video komedi dan mempostingnya di akun instagram miliknya: @ras.taufik.

Sebelum beranjak pulang, ia meraih telepon pintar miliknya seraya memperlihatkan sesuatu lalu berujar, “Saya itu juga main sebagai bintang video clip lagu Apache 13 yang baru, judulnya, Utang Jelamee.” []

Reporter: Wahyu Puasana

Loading...