[Bagian I] Rapat Settingan ala Komisi IV DPRK Pidie

·
[Bagian I] Rapat Settingan ala Komisi IV DPRK Pidie
Rapat kerja Komisi IV DPRK Pidie dengan manajemen RSUD TCD dan Sekretaris Daerah, Idhami SSos MSi, di ruang Badan Musyawarah (Banmus) kantor DPRK Pidie, Senin, 26 April 2021. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Jika tuan dan puan ingin melihat dan mendengar bagaimana praktik perbudakan di sebuah perusahaan Negara berlangsung, datanglah ke Kota Sigli, Pidie. Di sebuah rumah sakit yang berstatus sebagai Badan Layanan Umum Daerah atau BLUD, tuan dan puan juga akan terkejut saat mendapati pelaku praktik perbudakan ini dibela dan didukung habis-habisan oleh institusi Negara lainnya, seperti lembaga legislatif dan yudikatif.


sinarpidie.co — Hujan mengguyur Kota Sigli, Senin, 26 April 2021 siang. Belasan tenaga cleaning service di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli, dengan mengendarai sepeda motor, tiba di Gedung DPRK Pidie dalam keadaan basah kuyup. Mereka hadir ke gedung tersebut untuk melihat dan mendengar langsung rapat antara Komisi IV DPRK Pidie dan manajemen RSUD TCD.

Mereka terlihat sedikit gugup. Beberapa jam kemudian, belasan tenaga CS ini sedikit lega, karena 41 petugas cleaning service Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli, yang sebelumnya melancarkan mogok kerja lalu dipecat sepihak, kini dapat bekerja kembali di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie itu setelah sebelumnya belasan CS tersebut melancarkan demonstrasi di Kantor Bupati Pidie dan Gedung DPRK Pidie, pada Senin, 19 April 2021.

Penerimaan kembali para CS tersebut telah ditegaskan dalam rapat kerja Komisi IV DPRK Pidie dengan manajemen RSUD TCD dan Sekretaris Daerah, Idhami SSos MSi, di ruang Badan Musyawarah (Banmus) DPRK Pidie. Para pekerja kebersihaan ini diberikan waktu tujuh hari untuk menghadap Wadir Umum RSUD TCD, Muhammad Nur SKM MKM. Hadir pula mendampingi Sekda Pidie, Idhami SSos MSi, Asisten I Setdakab Pidie, Samsul Azhar.

Dalam rapat tersebut, semula, tiga dari 17 tenaga cleaning service, yang diizinkan masuk untuk mengikuti rapat tersebut. Belakangan, semua CS yang hadir dan berada di lobi Gedung DPRK Pidie diizinkan mendengarkan hasil rapat tersebut. 17 tenaga CS ini didampingi Ketua HMI Cabang Sigli, Mahzal Abdullah.

Rapat yang dipimpin Ketua Komisi IV, Teuku Mirza Jamil, ini, hanya menjadi forum untuk menyudutkan para tenaga cleaning service. Alih-alih memposisikan diri secara institusi dan kelembagaan sebagai wakil rakyat yang memiliki fungsi pengawasan, legislasi, dan budgeting, Komisi IV DPRK Pidie ini justru menjadi alat untuk mengaburkan kebobrokkan RSUD Teungku Chik Ditiro dan menjadi perpanjangan tangan Pemkab Pidie untuk membungkam para tenaga kerja yang diberi upah yang sama sekali tidak manusiawi ini.

Celakanya lagi, entah sadar atau tidak, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan anggota Komisi IV DPRK Pidie ini justru mewakili DPRK Pidie secara kelembagaan. Tentu akan jadi lain hal jika pernyataan-pernyataan picik tersebut hanya sekadar mewakili pribadi mereka masing-masing di radius pekarangan rumah mereka sendiri.

Maklum, Rabu, 21 April 2021 malam, anggota Komisi IV DPRK Pidie telah menggelar rapat dengan manajemen RSUD TCD di RSUD tersebut. Rapat itu diduga untuk mengkondisikan bagaimana jalannya rapat pada Senin, 26 April 2021 kemarin.

Direktur RSUD TCD, dr Muhammad Yassir Sp An, berdalih bahwa dirinya tidak memecat para CS yang melancarkan mogok kerja, satu hari setelah pengambilan gaji bulan Februari senilai Rp 600 ribu pada Senin, 12 April 2021 sore, tepatnya pada Selasa, 13 April 2021, di mana para CS yang masuk kerja ini diperintahkan untuk pulang. “Kami tidak pernah mengatakan pemutusan hubungan kerja. Tetapi dari teman-teman sendiri yang mengatakan bahwa kalau gaji kami tidak dibayar bulan dua dan bulan tiga, maka kami tidak masuk kerja,” kata dr Muhammad Yassir dalam rapat tersebut. “Maka, kami pertanyakan: siapa yang memutuskan?”

Dalam rapat tersebut, dr Muhammad Yassir didampingi Wadir Umum M Nur SKM MKM, Wadir Pelayanan Arika Husnayanti Abubakar SpOG (K), dan Wadir SDM dr Ikhsan Sp OT.

Salah seorang tenaga cleaning service RSUD TCD, Syamsimar, menguraikan kronologis pemecatan mereka. Koordinator CS, Baharuddin, kata Syamsimar, menunjukkan panggilan telepon dari Direktur RSUD TCD, dr Muhammad Yassir Sp An. Baharuddin lalu memerintahkan CS-CS yang melakukan mogok kerja untuk pulang dan tak lagi bekerja di rumah sakit tersebut. “Panggilan telepon dari dr Yassir sekitar pukul 13.00 WIB. Bang Bahar (Baharuddin) menunjukkan HP-nya dan data panggilan dari direktur pada kami,” kata Syamsimar, menjelaskan.

Janggalnya, manajemen RSUD TCD tidak menghadirkan Baharuddin dalam rapat tersebut.

Ketua Komisi IV, T Mirza Jamil, lantas bertanya siapa yang menelpon Koordinator CS pada Syamsimar. Berkali-kali, Syamsimar, yang duduk di belakang dr Muhammad Yassir, menunjuk ke arah bahu dr Muhammad Yassir.

Mendapati kenyataan yang tak diinginkannya, T Mirza Jamil lantas memotong ucapan Syamsimar, “Yang mogok berapa orang?”

“Pada mogok hari pertama, hanya delapan CS yang tidak mogok kerja,” ujar Syamsimar.

Para tenaga cleaning service atau CS di RSUD TCD Sigli melakukan aksi mogok kerja selama tiga hari, sejak Sabtu, 10 April hingga Senin, 12 April 2021. Mereka melakukan mogok kerja karena menuntut gaji mereka pada bulan Februari dan Maret 2021 dibayarkan rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie ini menjelang meugang Ramadhan tahun ini, yang jatuh pada Minggu, 11 April 2021 dan Senin, 12 April 2021.

Mirza kembali mencecar tiga CS tersebut soal mogok seolah mereka adalah pesakitan. Dengan nada bicara yang tinggi, Mirza bertanya dalam bahasa Aceh, “Siapa..., siapa..., yang memfasilitasi kalian mogok?”

Syamsimar menjelaskan hal itu merupakan inisiatif mereka sendiri. Punca masalah dimulai dengan terjun bebasnya dan penyamarataan gaji 70-an CS di RSUD TCD sejak 2021. Sebelumnya, gaji mereka bervariasi, tergantung besar-kecilnya ruangan-ruangan yang mereka bersihkan: dari Rp 850 ribu hingga Rp 1,1 juta.

Pada Senin, 18 Januari 2021 lalu, CS-CS ini juga memprotes kebijakan tersebut dengan melancarkan mogok kerja. Keesokan harinya, para CS ini menggelar rapat di ruang Direktur RSUD TCD.

“Kalau kalian tidak mau kerja lagi buat dan teken surat pengunduran diri,” kata Rusli, salah seorang tenaga cleaning service, menirukan ucapan Direktur RSUD TCD, dr Muhammad Yassir Sp An, padanya dan sejawatnya pada Selasa, 19 Januari 2021 lalu.

Seiring waktu berlalu, para CS ini menerima dengan lapang dada gaji yang tidak manusiawi tersebut--Rp 600 ribu-- dengan catatan jam kerja mereka dikurangi dan gaji mereka dibayarkan tepat waktu.

Para CS ini berkerja di dalam dua shift: pukul 06.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB lalu dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Tak ada hari libur bagi mereka.

Meski Syamsimar telah dengan tegas menyatakan mogok kerja yang mereka lakukan karena gaji mereka yang kecil, beban kerja yang berat tanpa hari libur, dan pembayaran gaji yang terlambat, Teuku Mirza Jamil masih mencecar para CS tersebut soal dalang di balik aksi mogok kerja mereka. “Apakah Anda masih ingin bekerja di rumah sakit ini? Jika, masih, maka Anda harus tunduk pada seluruh aturan yang ditetapkan direktur. Jangan kalian dengar bisikan-bisikan dan suntikan pihak ketiga. Setelah menyuntik Anda semua, dan setelah Anda dipecat, pihak ketiga tersebut tertawa,” ujar Miza lagi.

"Kami teken gaji pada bulan satu untuk tiga bulan sekaligus, tapi gaji kami yang keluar cuma satu bulan!" kata Syamsimar. []

Reporter: Diky Zulkarnen dan Firdaus

Bersambung Bagian II

Loading...