Rantai Panjang Distribusi Cabai di Pidie

·
Rantai Panjang Distribusi Cabai di Pidie
Aktivitas jual beli cabai dalam skala besar di Pasar Grong-Grong, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

Rantai distribusi cabai merah di Pidie termasuk panjang: dari petani ke pengepul kecil lalu pengepul kecil ke pengepul besar. Selanjutnya, pengepul besar menjual cabai petani lokal ke penampung di sejumlah daerah lainnya di Aceh, termasuk hingga ke Medan, Sumatera Utara. Harga cabai di tingkat petani di Pidie ditentukan oleh penampung cabai di Medan, Sumatera Utara.

sinarpidie.co--Sejumlah sentra cabai merah di Pidie memasuki masa panen raya. Hal ini salah satunya ditandai dengan aktivitas pengepul cabai merah setiap harinya di Pasar Grong-Grong, Pidie. Umumnya, para pengepul tersebut membeli cabai merah dari petani yang berasal dari Kecamatan Batee, Kecamatan Pidie, Kecamatan Muara Tiga, dan Kecamatan Padang Tiji.

Nurdin, 60 tahun, salah seorang pengepul cabai merah dalam skala besar di Pasar Grong-Grong mengatakan, sejak Oktober 2019, dalam sehari, ia mendapat pasokan 12 ton lebih cabai merah dari para pengepul.

"Harga yang dibeli oleh pengepul pada petani Rp 27 ribu hingga 30 ribu per kilogram. Lalu, dari pengepul ke saya Rp 30 ribu hingga Rp 33 ribu per kilogram. Kami menjual cabai tersebut ke sejumlah daerah hingga sejumlah daerah di Sumatera Utara," kata Nurdin, Minggu, 13 Oktober 2019. “Keuntungan yang kami ambil biasanya hanya Rp 2000 per kilogram.”

Salah seorang distributor cabai merah dalam skala besar lainnya di Pasar Grong-Grong, Pidie, Mustafa, 55 tahun, mengatakan, masa panen cabai merah di beberapa kecamatan di Pidie diperkirakan akan berlangsung hingga Desember 2019.

"Di sini kita membeli dari pengepul. Setelah itu kita kirim ke sejumlah wilayah seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, Tamiang hingga ke sejumlah daerah di Sumatera Utara. Saat ini, dalam sehari sejumlah 12 ton cabai merah kita kirim ke wilayah-wilayah tersebut," kata Mustafa.

Kata Mustafa lagi, Pasar di Medan, Sumatera Utara, berperan besar dalam menentukan tinggi atau rendahnya harga cabai di Pidie, karena Pasar di Medan mampu menampung cabai dalam jumlah besar dari beberapa Provinsi di Pulau Sumatera.

"Kalau soal harga kita selalu berkoordinasi dengan penampung di Medan. Setelah itu baru kita tentukan berapa harga yang kita beli dari pengepul dan pengepul menentukan berapa harga yang harus dibeli dari petani," kata dia lagi.

Menurut Mustafa, Pasar di Medan yang berperan besar dalam menentukan harga cabai, karena banyaknya industri pengolah cabai di sana.

“Jadi, mereka tidak takut menampung cabai dalam jumlah banyak. Cabai asal Pidie banyak kita kirim ke Medan. Mencapai 6 ton per hari, karena permintaan di sana lebih tinggi. Kemudian harganya pun bisa meningkat lagi saat kita jual. Medan selalu menentukan harga, patokan harga di sana. Di tempat kita belum ada industri pengolah cabai," kata Mustafa.

Tak semua petani cabai di Pidie sepakat dengan mekanisme pasar atau rantai distribusi seperti itu. Fakhurrazi, 30 tahun, petani cabai merah di Gampong Cot Glumpang, Kemukiman Utue, Pidie, salah satunya.

Ia memilih menjual langsung cabai-cabainya ke pasar lokal di Pasar Pante Teungoh, Sigli. “Saya jual ke pedagang eceran di Pasar Pante Teungoh dengan harga Rp 35 ribu per kilogram. Lebih untung seperti itu,” kata dia, Minggu, 13 Oktober 2019.

Harga cabai merah di tingkat konsumen di Pasar Pante Teungoh Sigli dan Pasar Beureunuen berkisar antara Rp 42 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram, Minggu, 13 Oktober 2019. []

Komentar

Loading...