RAN Soroti Pembangunan Pabrik Sawit PT ABN yang Berbatasan dengan KEL

·
RAN Soroti Pembangunan Pabrik Sawit PT ABN yang Berbatasan dengan KEL
Pabrik Kelapa Sawit milik PT. Agra Bumi Niaga di Peunaron, Aceh Timur berbatasan dengan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Koordinat GPS: N 4°34’32.59″ E 97°37’8.65″. Sumber foto: RAN.

sinarpidie.co--Rainforest Action Network (RAN), organisasi lingkungan yang berbasis di Amerika Serikat, menemukan PT Agra Bumi Niaga (PT ABN) sedang membangun pabrik kelapa sawit yang berbatasan langsung dengan Kawasan Ekosistem Leuser. “Pabrik ini menjadi perhatian khusus karena dibangun oleh perusahaan yang terungkap melakukan deforestasi di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Bukti drone yang dikumpulkan oleh tim investigasi lapangan RAN menunjukkan bahwa pabrik tersebut berada dekat dengan hutan hujan dataran rendah yang sangat penting. Pembangunan pabrik ini hampir selesai dan siap beroperasi dengan kolam limbah yang akan segera diisi dengan produk limbah beracun sisa produksi minyak sawit,” kata Leoni Rahmawati, Indonesia Communications Coordinator RAN, dalam keterangan tertulis yang diterima sinarpidie.co, Selasa, 21 Januari 2020.

Pabrik yang beroperasi di perbatasan Kawasan Ekosistem Leuser memiliki risiko mensuplai TBS dari sumber deforestasi yang ditanam di dalam kawasan lindung.  Temuan RAN, kata Leoni, mengungkap adanya dua pabrik kelapa sawit yang beroperasi di sekitar Kawasan Suaka Marga Satwa Rawa Singkil yang telah menerima TBS dari dalam kawasan.

“Pembangunan pabrik semacam ini akan mendorong deforestasi lebih masif dan menjadikan perusahaan pembeli minyak kelapa sawit dunia berisiko melanggar komitmen nol deforestasi yang diterbitkan secara publik,” sebutnya.

Pada 22 Juni 2016, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Siti Nurbaya menutup konsesi kelapa sawit PT ABN karena perusahaan tersebut tidak memiliki izin yang sesuai untuk pembukaan lahan.

“Namun pada bulan Februari 2017, laporan RAN menunjukkan deforestasi besar-besaran di perkebunan PT ABN meskipun moratorium pembukaan hutan di dalam KEL telah diedarkan melalui radiogram Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan ditindaklanjuti oleh mantan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Aceh Husaini Syamaun yang memerintahkan kepada seluruh pemegang Hak Guna Usaha atau Izin Usaha Perkebunan dengan konsesi di KEL, untuk menghentikan pembukaan lahan pada 17 Juni 2016 sebagai upaya pemerintah untuk meninjau kembali izin-izin perusahaan sawit yang beroperasi di kawasan ekosistem itu,” kata Leoni lagi.

Tidak hanya berisiko pada kerusakan hutan, kata Leoni, pembangunan pabrik kelapa sawit PT ABN ini juga kurang memperhatikan keselamatan pekerja hingga timbul korban kecelakaan kerja. “Pada 22 Juli 2018 terjadi kecelakaan kerja yang menyebabkan dua pekerja PKS PT. ABN terjatuh saat mengelas besi untuk pembangunan PKS,” tuturnya.

Merek dunia seperti Nestlé, Mondelēz, dan Mars serta perusahaan minyak kelapa sawit besar seperti Wilmar dan Golden Agri Resources (GAR), tetap berisiko menyuplai minyak sawit yang bersumber dari TBS yang diproduksi oleh PT ABN.

“RAN meminta agar perusahaan-perusahaan ini mengeluarkan komitmen untuk tidak membeli dari pabrik baru PT ABN sampai perusahaan ini menerbitkan komitmen untuk melindungi hutan yang tersisa di konsesinya, memulihkan hutan yang telah dibuka, serta membuktikan bahwa pabrik PT ABN memiliki sistem untuk melacak sumber TBS dari perkebunan di luar KEL yang bebas deforestasi, tidak menanam di lahan gambut, dan bebas eksploitasi,” tutupnya.

PT Agra Bumi Niaga (PT ABN) memiliki catatan penghancuran hutan hujan dataran rendah yang menjadi koridor habitat penting gajah Sumatra dan benteng pertahanan perubahan iklim global di Aceh Timur.

Sementara, Kepala Seksi Bimbingan Usaha Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Saifullah SHut MSi menyebutkan lokasi pembangunan pabrik tersebut tidak berada di dalam kawasan hutan tapi berada di areal penggunaan lain (APL). Pada 2015, kata dia, hanya Kawasan Ekosistem Lauser (KEL) yang berada dalam kawasan hutan yang ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional. “Kalau di atas ketinggian 500 mdpl tidak mungkin lagi dibuka karena, selain sudah masuk ke dalam kawasan, juga lahan dengan ketinggian di atas 500 mdpl tidak cocok ditanami sawit,” kata Saifullah SHut MSi pada sinarpidie.co, Kamis, 31 Januari 2020. []

Komentar

Loading...