Pustu yang Tak Rampung

·
Pustu yang Tak Rampung
Petugas di Pustu Putoh, Gampong Rungkom, Kecamatan Batee, Pidie, di meja pelayanan. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co- Verarama Vidiyah AMd Kep, Kepala Puskesmas Pembantu (Pustu) Putoh, dan Nurhakimah, staf Bagian Kartu pada pustu tersebut, sedang melayani warga yang datang berobat, Kamis, 16 Juli 2020. Hingga pukul 11.00 WIB, sedikitnya  18 warga datang ke pustu yang terletak di Gampong Rungkom, Kecamatan Batee, itu, untuk berobat dengan keluhan, rata-rata, batuk ringan dan gatal-gatal.

Vera dan stafnya sudah tidak lagi menggunakan rumah berkonstruksi kayu yang sudah lapuk dimakan usia, yang sebelumnya mereka huni saat Pustu Putoh dibangun pada 2019 lalu, sebagai tempat sementara. Hingga Maret 2020, karena Pustu tersebut belum sepenuhnya rampung, mereka juga sebenarnya masih menghuni rumah tersebut.

Meski pustu, dengan ukuran dua kali lebih besar dari ukuran rumah dhuafa, yang dibangun CV Bedeng Design dengan nilai kontrak Rp 490 juta, belum rampung, Vera dan stafnya memilih untuk menempati gedung Pustu Putoh pada April 2020 demi keselamatan pasien. "Ada loteng yang sudah hampir jatuh pada rumah yang sebelumnya kami huni. Takut akan menimpa pasien dan staf. Makanya kami kembali ke sini," kata Kepala Pustu Putoh Verarama Vidiyah AMd Kep.

Menjelang siang, pustu itu agak lenggang. Warga yang datang berobat hanya empat-lima orang. Gundukan  pasir masih menumpuk di depan pintu masuk ke pustu tersebut. Tak ada wastafel di sana sebagai tempat mencuci tangan di masa pandemi Covid-19 ini. "Kalau ada wastafel pun mau diisi air dari mana? Mau buang air kecil saja kami harus pulang ke rumah atau ke masjid," kata salah seorang staf di sana, Nurhakimah.

Bangunan itu masih belum dicat, loteng belum terpasang, dan tak ada lampu. Pustu tersebut hanya mempunyai satu pintu masuk di bagian depan. Ada empat ruangan di sana, selain ruang utama, yaitu dua ruang seluas 2 x 3 meter yang masing-masing digunakan sebagai tempat pemeriksaan umum dan tempat pemberian obat. Satu ruang 1 x 2 meter digunakan sebagai musala. Dan satu ruang lagi berukuran 1 x 1 meter yang rancananya akan dijadikan toilet, tapi tak ada kloset, tak ada bak air di dalamnya. Bahkan lantai toilet tersebut masih lantai pasir.

Lantai seluruh ruangan di pustu itu, kecuali toilet yang masih berlantai pasir, ditutupi dengan karpet hijau untuk menutupi semen yang kasar. "Ini karpet pemberian Kepala Puskesmas Batee. Kepala pukesmas juga memberikan dua kipas angin dan beberapa wayer listrik," tutur Kepala Pustu Putoh Verarama Vidiyah AMd Kep.

Kepala Puskesmas Batee Fakhrizal Burhan SKM mengatakan dirinya mengizinkan staf Pustu Putoh menggunakan gedung tersebut walaupun gedung tersebut belum rampung, demi keselamatan pasien dan staf di sana. "Saya sudah minta izin pada kepala dinas untuk menggunakan gedung tersebut karena staf di sana juga meminta," katanya, Kamis, 16 Juli 2020.

Dirinya hanya dapat memberikan peralatan seadanya pada pustu tersebut. "Dari dinas tidak ada di berikan apa-apa," katanya. "Biaya pemindahan barang dan listrik juga saya yang tanggung."

Kepala Dinas Kesehatan Pidie Efendi SSos Mkes mengatakan realisasi fisik pembangunan Pustu Putoh sudah sesuai kontrak. "Pengerjaan tersebut telah sesuai kontrak, tidak sampai fungsional. Akan diselesaikan pada tahun 2021," katanya, Jumat, 17 Juli 2020.

Panitia Khusus (Pansus) XIV DPRK Pidie mengemukakan bahwa pembangunan Pustu Putoh di Gampong Rungkom belum sempurna.

Pada tahun anggaran 2019, Dinas Kesehatan membangun empat puskesmas pembantu atau Pustu, yaitu Pustu Reubat, Kecamatan Mutiara Timur, dengan anggaran Rp 500 juta; Pustu Putoh, Kecamatan Batee, dengan anggaran Rp 490 juta, Pustu Bungie, Kecamatan Simpang Tiga Rp 700 juta; dan Pustu Blang Dhot, Kecamatan Tangse Rp 797 juta.

Baca juga:

Dari empat pustu tersebut, hanya satu pustu yang rampung dibangun pada 2019 dan telah difungsikan pada Januari 2020, yaitu Pustu Bungie, Kecamatan Simpang Tiga.

Kepala Dinas Kesehatan Pidie Efendi SSos MKes sebelumnya mengatakan pembangunan Pustu Blang Dhot, Tangse, dengan anggaran Rp 797 juta, tidak dirampung karena lahan tempat bangunan tersebut berdiri membutuhkan penimbunan. "Materialnya banyak habis," katanya, Senin, 23 Maret 2020

Di samping itu, Dinas Kesehatan pada 2019 juga membangun Puskesmas Mila (lanjutan) dengan pagu anggaran Rp 4,4 miliar, pembangunan baru Gedung Rawat Inap Puskesmas Padang Tiji dengan pagu anggaran Rp 3,8 miliar, dan pembangunan baru Gedung Rawat Inap Puskesmas Sakti dengan pagu anggaran Rp 3,1 miliar.

Panitia Khusus (Pansus) XIV DPRK Pidie menemukan bahwa atap Puskesmas Mila bocor. "Kami berharap kepala dinas terkait untuk segera merehab atap-atap bocor tersebut," demikian laporan tertulis Panitia Khusus (Pansus) XIV DPRK Pidie. []

Loading...