Laporan Mendalam

Pustu ala Dinkes Pidie di Tengah Pandemi Corona

·
Pustu ala Dinkes Pidie di Tengah Pandemi Corona
Kondisi bangunan Pustu Putoh, Kecamatan Batee, Pidie, sementara. Bangunan Pustu Putoh yang dibangun pada tahun anggaran 2019 belum rampung dan tidak dilanjutkan pembangunannya pada tahun anggaran 2020. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Dari empat Pustu yang dibangun Dinkes Pidie pada 2019, hanya satu Pustu yang rampung dibangun pada 2019 dan telah difungsikan pada Januari 2020, yaitu Pustu Bungie, Kecamatan Simpang Tiga. Di tengah pandemi Corona, bagaimana Pustu yang menumpang pada bangunan rumah konstruksi kayu warga dan kantor keuchik memenuhi standar pelayanan kesehatan?

sinarpidie.co—Mariani, 55 tahun, warga Gampong Kareung, Kecamatan Batee, Pidie, baru saja keluar dari sebuah rumah tua di Gampong Rungkom, Kecamatan Batee, Pidie, yang dipergunakan sementara sebagai Puskesmas Pembantu (Pustu) Putoh, Senin, 23 Maret 2020. Dia sudah beberapa tahun terakhir harus berobat jalan karena mengidap radang paru-paru. Menurutnya, tak ada perbedaan pelayanan yang ia terima saat Pustu Putoh masih bertempat di gedung Pustu lama dan di Pustu sementara yang terletak di seberang jalan MIN 46 Pidie itu.

“Saya kadang ke Pustu Putoh, kadang ke Pukesmas Batee. Namun saya lebih sering ke Pustu Putoh karena dekat. Bisa jalan kaki. Untuk ke Pukesmas Batee harus naik ojek dengan biaya Rp 10 ribu pulang-pergi,” kata Mariani.

Beberapa perempuan berpakaian serba putih sedang sibuk membersihkan halaman rumah tua itu. Ada yang sedang menyapu, dan ada juga yang sedang menggali tanah untuk mengubur bangkai kucing yang diperkirakan mati pada Jumat pekan lalu di bawah kursi panjang di teras rumah tua tersebut.

Mereka adalah para staff di Pustu Putoh. Sejak Juli 2019, mereka bekerja di rumah tua tersebut karena bangunan Pustu lama dibongkar untuk pembangunan Pustu baru.

Vera Rahma Fidiah AMd Kep, Kepala Pustu Putoh, mengatakan dalam melaksanakan tugas sehari-hari, dirinya dibantu oleh 17 staff. Dalam sehari, pihaknya biasanya melayani 25 hingga 30 warga yang berobat di Pustu tersebut.

“Ruang lingkup Pustu ini sebenarnya untuk sepuluh gampong di Kecamatan Batee. Cuma yang berobat hanya delapan gampong,” kata Vera.

Rumah berkonstruksi kayu yang sudah dimakan usia itu memiliki tiga kamar seukuran 2 x 2 meter, dapur 1 x 3 meter, ruang depan 1 x 6 meter, serta satu kamar mandi yang terletak di bagian depan rumah. Kamar mandi itu adalah kamar mandi darurat. Dindingnya terbuat dari plastik hitam. Jarak rumah itu dengan Pustu Putoh sekitar 25 meter.

Kata Vera, rumah itu dipinjam pakai untuk sementara. “Rumah milik warga Gampong Crueng yang sudah lama kosong. kami pinjam beberapa bulan saja sebenarnya sampai pembangunan Pustu selesai,” tuturnya.

Vera berharap, pihaknya dapat kembali menghuni Gedung Pustu Putoh yang dibangun tahun 2019 lalu meski kondisinya belum 100 persen selesai.

“Kita menumpang di rumah orang apalagi sampai 2021 merasa tidak enak,” kata Vera. “Kami sudah tujuh bulan di rumah ini. Janjinya sama pemilik hanya beberapa bulan saja.”

Berdasarkan shoop drawing yang didesain CV Bedeng Design Construction, gedung ini memiliki ruang gudang obat, ruang pendaftaran ADM, dua ruang tunggu, dua teras, ruang periksa umum, selasar, dapur atau ruang makan, dapur utama, ruang tunggu keluarga, ruang KIA/KB, dua kamar mandi, dan dua taman.

Gedung Pukesmas Pembantu (Pustu) Putoh Gampong Rungkom Kecamatan Batee, Pidie, pada tahun 2019 belum rampung dan tidak dilanjutkan tahun ini. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Konstruksi atas bangunan, berdasarkan shoop drawing, terdiri dari atap seng spandek 0,30 mm, reng baja ringan 0,45 mm, kuda-kuda canal C-100 t = 0,75 mm, lipstank papan 2,5/20 cm, canopy beton t= 7 cm, plavon PVC 8 mm, balok latal 13/15.

Konstrusi bawah bangunan terdiri dari lantai granit 60 x 60 cm, beton cor t= 7 cm, pasir urug t= 10 cm, dan tanah urug. Kolom pondasi tapak 25 x 25, sloof 18/25, dan kolom pedestal 25 x 25.

Pintu dan kusen jendela yang digunakan, berdasarkan shoop drawing, ialah UPVG. Ketebalan kaca 5 mm.

Pembangunan Pustu ini dikerjakan CV Bedeng Design dengan nilai kontrak Rp 490 juta. Kepala Dinas Kesehatan Efendi SSos MKes mengatakan realisasi pembangunan Pustu tersebut sudah sesuai kontrak. "Kontrak pembangunan memang tak selesai sepenuhnya tahun lalu dan akan dilanjutkan tahun 2021,” kata Efendi, Selasa, 10 Maret 2020.

Pustu Reubat bernasib serupa

Nasib serupa terjadi pada Pustu Reubat, Kecamatan Mutiara Timur. Pustu yang direvitalisasi pada 2019 lalu senilai Rp 500 juta juga belum rampung dan tidak dilanjutkan tahun ini. Kontraktor pelaksana proyek ini adalah CV Adan Prakarsa.

Pelayanan kesehatan masyarakat Pustu Reubat dipindahkan ke Kantor Keuchik Reubat. Safriyanti, bidan Gampong Reubat, yang juga pegawai pada Pustu tersebut, mengatakan sudah sedari awal 2019 mereka menumpang di kantor keuchik tersebut. “Yang berobat ke sini kebanyakan dari Gampong Simbe, Reubat dan Tiba Raya. Hanya sesekali warga Gampong Tiba Mesjid yang berobat ke sini. Setiap hari pasien tak mencapai 10 orang dan hanya kami beri obat saja. Kalau yang perlu penanganan lebih lanjut, kami segera rujuk ke Pukesmas Mutiara Timur,” kata Safriyanti, Senin, 23 Maret 2020.

Pustu Reubat. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

Keuchik Gampong Reubat, Kecamatan Mutiara Timur, Sulaiman, mengatakan pihaknya tak keberatan kantornya digunakan sebagai Pustu sementara. “Demi kelangsungan proses berobat masyarakat, saya mengizinkan Pustu sementara menggunakan kantor geuchik, walaupun sampai Pustu selesai dibangun,” kata Sulaiman, Senin, 23 Maret 2020.

Bangun empat Pustu pada 2019

Pada tahun anggaran 2019, Dinas Kesehatan membangun empat puskesmas pembantu atau Pustu, yaitu Pustu Reubat, Kecamatan Mutiara Timur, dengan anggaran Rp 500 juta; Pustu Putoh, Kecamatan Batee, dengan anggaran Rp 490 juta, Pustu Bungie, Kecamatan Simpang Tiga Rp 700 juta; dan Pustu Blang Dhot, Kecamatan Tangse Rp 797 juta.

Dari empat Pustu tersebut, hanya satu Pustu yang rampung dibangun pada 2019 dan telah difungsikan pada Januari 2020, yaitu Pustu Bungie, Kecamatan Simpang Tiga.

Kepala Dinas Kesehatan Pidie Efendi SSos MKes mengatakan status Pustu Putoh bukan disewa tapi pinjam pakai. "Jika memang tidak layak, dalam APBK-P 2020, kita naikkan anggaran untuk kita sewa gedung Pustu Putoh baru yang layak," kata dia, Senin, 23 Maret 2020. "Kalau layak berarti rumah itu kita sewa."

Kata Efendi, Pustu Blang Dhot, Tangse, dengan anggaran Rp 797 juta, tidak dirampung karena lahan tempat bangunan tersebut berdiri membutuhkan penimbunan. "Materialnya banyak habis," katanya. 

Alih-alih melanjutkan pembangunan Pustu Reubat, Kecamatan Mutiara Timur, Pustu Blang Dhot Tangse, dan melanjutkan pembangunan Pustu Putoh, Kecamatan Batee, Dinas Kesehatan Pidie justru mengalokasikan anggaran untuk pembangunan Pustu lainnya pada tahun anggaran 2020.

Efendi menjelaskan tidak dilanjutkannya pembangunan tiga Pustu tersebut karena kekurangan-kekurangan tersebut baru terlihat setelah perencanaan anggaran 2020 rampung sehingga lanjutan tiga Pustu tersebut akan dianggarkan pada tahun anggaran 2021 nanti.

15 M untuk belanja gedung

Pengadaan bangunan gedung tempat kerja atau belanja modal gedung dan bangunan Dinkes pada tahun anggaran 2020 senilai Rp 15.299.417.000: Pembangunan Puskesmas Pembantu Mesjid Peudaya (DOKA 2020) Rp 1.054.501.560, pembangunan Puskesmas Pembantu Lueng Mesjid Bambi (DOKA 2020) Rp 971.443.200, pengembangan gedung Puskesmas Pidie (DOKA 2020) Rp 2.449.816.740, pengembangan Gedung Rawat Inap Puskesmas Kembang Tanjong (DOKA 2020) Rp 2.381.566.600, pembangunan Rumah Dinas Tenaga Kesehatan Puskesmas Mutiara Timur (DOKA 2020) Rp 584.892.750, penambahan gedung/ruang baru Puskesmas Tangse (DAK) Rp 6.002.320.000, pembangunan rumah dinas Puskesmas Mane (DAK) Rp 705.590.000, dan pembangunan rumah dinas Puskesmas Ujong Rimba (DAK) Rp 989.260.000.

Selain itu, Dinkes Pidie juga mengalokasikan anggaran Rp 1 miliar untuk pengadaan tanah perluasan Puskesmas Grong-Grong (DOKA 2020)  2.000 meter x Rp 500.000. []

Loading...