Investigasi

Pungli Berujung Petaka

·
Pungli Berujung Petaka
HUT PGRI ke-72 PGRI dan Hari Guru Nasional 2018, Sabtu, 24 November 2018 lalu di SMPN 2 Sigli. Foto IST.

Kepala Sekolah SMPN 2 Sigli Muklis menampik adanya praktik pungutan liar (Pungli) yang dilakukan pihaknya pada siswa sebesar Rp 10 ribu per siswa dengan mengatasnamakan HUT PGRI ke-72 dan Hari Guru Nasional 2018—sebenarnya jatuh pada 25 November namun digelar di sekolah yang dipimpinnya pada 24 November 2018.

sinarpidie.co—Ratusan siswa SMP Negeri 2 Sigli tumpah ke halaman sekolah untuk melaksanakan upacara peringatan HUT PGRI ke-72 PGRI dan Hari Guru Nasional 2018, Sabtu, 24 November 2018 lalu.

Sudah berhari-hari sebelumnya, siswa yang menjadi pengurus OSIS SMP N 2 Sigli, sibuk menyiapkan upacara di hari itu.

“Kami beli balon yang belum diisi gas Rp 100 ribu. Kemudian kami mengisi gasnya di Gampong Pulo Pisang dengan harga per balon Rp 3 ribu. Jumlah biaya pengisian gas balon keseluruhannya sekitar Rp 390 ribu,” kata Andre, bukan nama sebenarnya, Sabtu, 9 Desember 2018.

Sumber uangnya, kata Andre, dikumpulkan dari seluruh siswa.

“Per siswa Rp 10 ribu. Uang itu kami gunakan untuk kebutuhan HUT PGRI. Ada terkumpul uang sekitar Rp 6 juta lebih pada Pembina Osis SMP 2 Sigli, Bu Nurhayati Adam,” kata Andre.

Apa yang dikatakan Andre berlaku sama pada guru—baik tenaga honorer dan guru praktik—di sekolah tersebut.

“Kami menyumbang Rp 10 ribu,” kata sumber terpercaya sinarpidie.co, yang identitasnya enggan dituliskan. “Sekolah diliburkan hari itu.”

Balon-balon gas tersebut kelak membawa petaka bagi delapan warga Gampong Teubeng Meucat, Kecamatan Pidie, Pidie.

Radak, 53 tahun, warga Teubeng Muecat, Kecamatan Pidie, Pidie, menceritakan, awalnya beberapa warga sudah melihat balon yang berisi gas itu beterbangan di langit gampong tersebut. Lalu balon-balon itu tersangkut di atas salah dahan pohon mangga yang berjarak sekitar 50 meter dari warung kopi miliknya.

Melihat pemandangan tersebut, anak-anak mendekati pohon mangga untuk melihat balon berwarna-warni yang tersangkut itu.

Sontak, M Nur, 39 tahun, salah seorang warga gampong setempat lainnya, memanjat pohon itu untuk mengambil balon tersebut.

Setelah itu, dia turun dan menyerahkan balon yang berjumlah ratusan itu kepada Arkam.

Tak tahu kandungan di dalam balon, Arkam melilit tali balon itu pada lengannya.

Ia hendak membagi balon-balon itu pada anak-anak, namun naas, balon itu meledak semua dan mengakibatkan delapan orang di sekitar tempat ledakan mengalami luka bakar.

Salah satu korban lainnya Hendra, 32 tahun, menuturkan, semula ia melihat kerumuman orang menyaksikan ratusan balon yang tersangkut di pohon mangga. "Saya pergi ke tempat keramaian itu. Tiba-tiba meledak balon gas tersebut, sehingga saya pun ikut menjadi korban luka bakar," kata Hendra, pada akhir November lalu.

Sulaiman Muddin, 55 tahun, sedang berada di dalam rumah saat ia mendengar suara letusan.

“Lalu saya keluar rumah melihat suara letusan apa itu. Ternyata suara ledakan balon, dan sesaat setelah meledak para anak-anak di situ pun tertawa, dan saya pun masuk lagi, saya pikir tidak apa-apa,” kata dia akhir November lalu.

Belakangan Sulaiman tahu, ledakan itu menyebabkan delapan warga gampong setempat harus dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teungku Chik di Tiro Sigli.

Dokter yang menangani para korban tersebut,  dr M Eka Agusfiansyah SpB mengatakan para korban terdiri dari tiga anak dan lima orang dewasa.

“Dua korban hanya dirawat satu hari saja: satu orang anak dan satu orang dewasa karena luka bakarnya ringan atau tidak parah. Sementara enam orang lagi harus dirawat selama seminggu lebih, bahkan dua anak dan dua orang dewasa harus dilakukan tiga kali operasi pembersihan luka, dan dua orang lagi hanya sekali dilakukan operasi pembersihan luka,” kata dr M Eka Agusfiansyah SpB, Sabtu, 24 November 2018 lalu.

Dia juga menambahkan, proses penanganan pasien berjalan dengan lancar meskipun tiga korban yang mengalami luka bakar yang parah harus dioperasi sebanyak tiga kali.

“Luka bakar yang dialami pasien merupakan luka bakar akibat percikan api biasa. Tidak ada perbedaan dengan luka bakar biasa bila dilihat secara kasat mata. Tidak meninggalkan residu atau bekas zat kimia. Mungkin kalau kita teliti di laboratorium akan nampak ada zat lain yang terkandung di dalamnya,” kata dia.

Ismail, 57 Tahun, warga Pulo Pisang, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, sehari-hari menjual balon gas di sekitar Pendopo Bupati Pidie. Pada Ismail, siswa SMP Negeri 2 Sigli mengisi gas ratusan balon itu.

Peralatan kerja Ismail di rumahnya. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

“Isinya adalah soda api, alumanium dan air seperlunya. Saya baru tahu peristiwa tersebut pada hari Senin. Saat itu, anak saya yang kasih tahu bahwa balon yang saya isi anginnya itu meledak. Saya terkejut, karena memang biasa tidak pernah meledak dan separah itu. Karena biasanya, kalau tidak ada sumber api balon tersebut tidak apa-apa, tidak akan membuat balon itu meledak. Saya menganggap itu musibah, karena banyak yang pesan balon sama saya saat peringatan-peringatan hari besar. Saya tidak bermaksud ingin mencelakai orang lain,” kata Ismail, Senin, 10 Desember 2018.

Kepala Sekolah SMPN 2 Sigli Muklis menampik adanya praktik pungutan liar (Pungli) yang dilakukan pihaknya pada siswa sebesar Rp 10 ribu per siswa dengan mengatasnamakan HUT PGRI ke-72 dan Hari Guru Nasional 2018—sebenarnya jatuh pada 25 November namun digelar di sekolah yang dipimpinnya pada 24 November.

"Itu murni inisiasi Osis dan siswa,” kata dia via telepon selular, Senin, 10 Desember 2018.

Disinggung mengenai uang yang diduga hasil Pungli terpusat pada Pembina Osis sekolah tersebut, Nurhayati Adam, Muklis juga menyangkal hal itu.

“Tidak ada,” tutupnya.

Catatan: identitas narasumber yang dikategorikan sebagai anak dirahasiakan karena merujuk pada pasal 19 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) yang menyebutkan identitas anak sebagai pelaku, korban, serta saksi wajib dirahasiakan dalam berita media cetak dan elektronik.

Reporter: Diky Zulkarnen dan Candra Saymima

Loading...