Puluhan Cleaning Service RSUD TCD yang Dipecat Sepihak Berunjuk Rasa di Kantor Bupati dan Gedung DPRK Pidie

·
Puluhan Cleaning Service RSUD TCD yang Dipecat Sepihak Berunjuk Rasa di Kantor Bupati dan Gedung DPRK Pidie
Puluhan tenaga cleaning service atau CS di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teungku Chik Di Tiro Sigli melancarkan aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Pidie dan di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie, Senin, 19 April 2021. (sinarpidie.co/Diky Zulakrnen).

sinarpidie.co - Puluhan tenaga cleaning service atau CS di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teungku Chik Ditiro (TCD) Sigli melancarkan aksi unjuk rasa di Kantor Bupati Pidie dan di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie, Senin, 19 April 2021.

Koordinator Aksi, Rusli, mengatakan mereka menuntut adanya kepastian status mereka sebagai tenaga cleaning service di RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli, karena baru-baru ini mereka dipecat secara sepihak oleh Direktur RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli, dr Muhammad Yassir Sp An.

Pihaknya juga menuntut Bupati Pidie, Roni Ahmad,  memberikan kepastian atas hak-hak mereka sebagai tenaga kerja yang belum dipenuhi oleh RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli, karena RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli merupakan rumah sakit milik Pemkab Pidie yang berstatus sebagai BLUD.

“Kami juga mempertanyakan apa alasan pihak manajemen RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli memberhentikan 41 orang tenaga kebersihan secara sewenang-wenang atau secara sepihak,” katanya dalam orasinya.

41 tenaga CS di di RSUD TCD sebelumnya melakukan aksi mogok kerja selama tiga hari sejak 10 April hingga 12 April 2021. “Alasan kami mogok adalah menuntut gaji bulan Februari serta Maret 2021 dibayarkan oleh manajemen rumah sakit saat meugang Ramadhan. Karena kami mogok, gaji bulan Februari 2021 dibayar pada 12 April,” tuturnya. “Saat kami masuk kerja keesokan harinya, kami diminta untuk pulang karena telah dipecat secara sepihak.”

Ia juga mengatakan gaji pihaknya pada bulan Maret 2021 dan uang jasa pelayanan sejak bulan November 2020 belum dibayarkan. “Kami semua orang susah. Saya sudah bekerja sebagai tenaga kebersihan di sana sejak 2011,” ungkap Rusli.

Para pengunjuk rasa ini juga menegaskan pada aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan korupsi dalam pengelolaan pendapatan yang bersumber dari jasa pelayanan medis dan APBK Pidie pada RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli.

Para pengunjuk rasa ini didampingi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sigli. Mereka juga telah menunjuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh sebagai kuasa hukum.

Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sigli, Mahzal Abdullah, meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie untuk memperjuangkan nasib para tenaga kebersihan tersebut, yang saat ini sedang mengalami ketidakadilan. “Saya hadir di sini selaku mahasiswa untuk berjuang bersama-sama dengan mereka dan untuk menyuarakan ketidakadilan yang sedang terjadi pada kaum kecil,” kata Mahzal.

Direktur LBH Banda Aceh, Syahrul, yang hadir di tengah-tengah massa, mempertegas bahwa pihaknya telah diberi mandat untuk bertindak sebagai kuasa hukum para tenaga kebersihan yang dipecat secara sepihak oleh manajemen RSUD TCD.

“Dalam undang-undang ketenagakerjaan, setiap pekerja, setiap buruh  wajib diberikan upah kerja. Tapi sayang, saudara-saudara kita hari ini tidak diberikan upah kerja. Padahal, mereka bekerja melayani kebersihan di tiap-tiap ruangan di RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli. Kami hadir di sini untuk membuktikan bahwa ada yang salah saat ini, yang sedang dilakukan oleh aparatur negara sebagai pelayan publik, sehingga ada hak-hak konstitusional warga yang dirampas,” kata Syahrul dalam orasinya.

Beberapa saat kemudian, Sekretaris Daerah (Sekda) Pidie, Idhami SSos MSi, muncul di tengah-tengah personel polisi yang mengamankan jalannya aksi tersebut. Ia meminta massa untuk berdialog di ruang Oproom Kantor Bupati Pidie. Dalam dialog itu, Idhami didampingi oleh Asisten I Setdakab Pidie, Samsul Azhar dan Asisten III, Sayuti Mukhtar.

Idhami memastikan bahwa gaji tenaga CS dan uang jasa pelayanan yang belum dibayar akan dituntaskan oleh manajemen RSUD TCD. Namun Idhami tak menjamin bahwa 41 tenaga CS, yang telah dipecat tersebut, dapat dipekerjakan kembali di rumah sakit plat merah tersebut.

“Kami juga akan memanggil pihak RSUD TCD terlebih dulu agar dalam mengambil kesimpulan nantinya tidak ada pihak yang dirugikan,” kata Idhami.

Setelah meninggalkan Kantor Bupati Pidie, massa melanjutkan aksi unjuk rasa ke Kantor DPRK Pidie. Para pengunjuk rasa tiba di kantor DPRK Pidie pukul 12.00 WIB. Massa berorasi secara bergantian di depan Gedung DPRK Pidie. 

Situasi sempat memanas karena, setelah sekitar 30 menit berorasi, tidak ada satu pun anggota DPRK Pidie yang keluar menjumpai para pengunjuk rasa. Beberapa menit kemudian, Ketua DPRK Pidie, Mahfuddin Ismail SPdI MAP, meminta para pengunjuk rasa untuk masuk ke dalam ruang Badan Musyawarah (Bamus) DPRK Pidie untuk beraudiensi.

Dalam audiensi dengan Ketua DPRK Pidie, Koordinator Aksi, Rusli, berbicara dengan suara yang terbata-bata. “Sehari sebelum megang puasa, saya telepon kepala cleaning service untuk menanyakan kapan gaji kami dibayar, sementara besok hari meugang. Anak-anak saya masih kecil-kecil, jadi saya sangat sedih pada hari meugang tidak bisa membeli daging untuk anak-anak saya,” ujar Rusli di depan Ketua DPRK Pidie, Mahfuddin Ismail.

Ketua DPRK Pidie, Mahfuddin Ismail, mengatakan sudah sepatutnya aspirasi warga disalurkan ke gedung tersebut. “Dalam waktu dekat, kami akan memanggil pihak manajemen RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli terlebih dahulu untuk mendengar keterangan dari pihak tersebut. Hasil dari keterangan pihak manajemen nantinya akan disampaikan kembali ke pihak tenaga kebersihan. Kami tampung aspirasi tenaga kebersihan. Tolong diberikan kesempatan pada kami untuk duduk terlebih dahulu dengan pihak manajemen RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli. Bila perlu, nanti kita panggil bupati dan duduk bersama lagi untuk membicarakan solusi terhadap persoalan ini,” kata Mahfudin Ismail. []

Loading...