Polusi Udara: Penyakit yang Ditimbulkan dan Upaya Mengatasinya

·
Polusi Udara: Penyakit yang Ditimbulkan dan Upaya Mengatasinya
Sungai di Gampong Arusan, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, diduga tercemar limbah pabrik sagu pada Januari 2020 lalu. Dok. sinarpidie.co

Oleh

Nur Azmi dan Sofia*

Permasalahan polusi udara sampai saat ini belum teratasi dengan baik. Badan kesehatan dunia, WHO, mencatat lebih dari 90 persen populasi penduduk dunia bernapas dengan udara yang terpolusi tingkat tinggi. Polusi udara merupakan risiko kesehatan lingkungan terbesar yang menyebabkan 7 juta kematian dini secara global per tahun. Angka ini tiga kali lebih besar dari jumlah kematian akibat paparan COVID-19, seperti dilansir dari data Johns Hopkins Coronavirus Resource Centre sebanyak 2 juta orang mengalami kematian akibat pandemi COVID 19. 

Polusi udara adalah kondisi dimana udara tercampur dengan zat atau unsur lainnya di udara yang mengakibatkan udara tidak layak atau membahayakan makhluk hidup. Zat-zat penyebab polusi ini dikenal dengan sebutan polutan. Banyak polutan berada dibawah ambang batas penciuman. Dengan kata lain, kita bahkan mungkin tidak merasa sedang menghirup udara yang tercemar. Polutan udara ini tidak hanya berasal dari hasil kegiatan manusia, tapi bisa timbul sebagai faktor penyebab polusi secara alamiah.

Secara umum, sumber terjadinya polusi udara dibagi menjadi dua. Pertama, faktor alam. Contohnya adalah letusan atau aktivitas gunung berapi yang mengeluarkan abu dan gas vulkanik serta dari buangan kotoran hewan yang menghasilkan gas metana. Kedua, faktor buatan manusia. Contohnya pembakaran bahan bakar fosil seperti bensin, solar, batu bara, dari kegiatan pertanian seperti penggunaan pestisida dan insektisida, dari kegiatan industri seperti  industri manufaktur dan kilang minyak, dari kegiatan pertambanganseperti proses ekstraksi yang menimbulkan debu dan bahan kimia yang dilepaskan ke udara, dari produk rumah tangga seperti pembersih rumah tangga yang mengandung bahan kimia, dan dari kegiatan militer seperti persenjataan nuklir dan persenjataan kimia.

Environmental Protection Agency (EPA) telah mendata polutan yang menjadi penyebab polusi udara, yaitu timbal, ozon, particulate matter (PM), dan gas berbahaya (nitrogen dioksida, karbon monoksida, karbon dioksida, dan sulfur dioksida). Polutan ini telah terbukti sebagai salah satu agen pemicu dan penyebab penyakit berbahaya seperti yang dikutip dari penelitian National Institute of Environmental Health Sciences, yang menyebutkan polusi udara dapat mempengaruhi kesehatan dan memicu penyakit. Penyakit-penyakti tersebut, di antaranya penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, peningkatan risiko stroke hemoragik akibat paparan harian jangka pendek dengan zat nitrogen oksida pada wanita paska menopause, dan leukemia. 

Pada ibu hamil gangguan tekanan darah yang menyebabkan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah serta kematian ibu dan janin akibat paparan asap (emisi) kendaraan bermotor bisa terjadi tanpa disadari. Di samping itu, polutan ini juga dapat memicu penyakit kanker.

Mengamati kondisi kemajuan perkotaan di berbagai negara saat ini, hampir seluruh penduduk di seluruh dunia terpapar polusi udara, dan sayangnya kondisi ini menjadi buruk bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua. Penyakit-penyakit yang muncul akibat polusi udara menyebabkan umur kehidupan yang lebih pendek. Fenomena ini menjadikan kita harus bisa berupaya untuk mengurangi jumlah polutan di udara agar kesehatan manusia terjaga dengan baik dan lingkungan tempat tinggal kita di bumi ini tetap sehat.

Sejak kejadian pandemi COVID-19 pada 2020 yang lalu, salah satu perusahaan teknologi di Swiss, IQ Air, mengeluarkan laporan kualitas udara di dunia tahun 2020, yang menyatakan bahwa kebijakan lockdown yang diberlakukan secara global untuk menurunkan penyebaran COVID-19 telah menghasilkan kondisi udara yang lebih sehat di seluruh dunia pada tahun 2020.

Laporan ini dianalisis dari data jumlah bahan partikulat (particulate matter) PM 2,5 secara real time dari ground-based sensors selama tahun 2020.  PM 2,5 ini adalah bahan padatan mikroskopis yang ada di udara. Rendahnya polusi udara diamati terjadi selama awal diberlakukannya lockdown saat banyak orang melakukan aktivitas di rumah, kegiatan di sekolah dan bisnis ditutup, penurunan jumlah kendaraan bermotor serta pesawat yang beroperasi, serta berkurangnya aktivitas industri dan konstruksi. Hal ini membuat kita berpikir bahwa tindakan untuk membuat jumlah karbon di udara bisa mencapai netral akan membuat udara menjadi sehat.

Untuk mengurangi kondisi udara yang semakin memburuk, kita dapat berperan melalui upaya-upaya untuk mengendalikan polusi udara, diantaranya adalah dengan memilih berjalan kaki, bersepeda atau naik angkutan umum daripada memakai kendaraan pribadi untuk meminimalkan emisi.Membeli barang yang memiliki persyaratan danpenggunaan energi rendah (AC diganti dengan kipas angin) atau menggunakan barang yang dapat didaur ulang, tidak lagi menggunakan kantong plastik. Selain itu, lingkungan  tempat tinggal kita juga dilakukan desain dan perencanaan kota dengan lebih bersih dan hijau melalui program penanaman pohon sebanyak mungkin.

Di dunia kesehatan, peran tenaga kesehatan sangat dibutuhkan untuk melakukan promosi kesehatan khusunya mengenai pencegahan polusi udaradan bersama-sama dengan masyarakat melaksanakan kegiatan-kegiatan yang membantu perbaikan kondisi udara untuk lebih bersih.  Semua upaya ini dapat dimulai dari diri sendiri untuk senantiasa menjaga keseimbanganalam disekitar kita. Kita perlu membuat langkah kecil untuk menghasilkan langkah besaragar terbebas dari polusi udara. Ayobersama-sama kita mulai hidup bebas dari polusi udara dari langkah paling mudah dengan menanam banyak pepohonan.Kita harus mau berubah untuk lingkungan dan masa depan yang lebih sehat.

Drg. Nur Azmi adalah Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas syiah kuala dan Pegawai negeri sipil di RSUD Teungku Chik Ditiro Sigli. Dr. Sofia, S.Si., M.Sc adalah Dosen di Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.

Loading...