Sudut pandang

Pidie yang Terombang Ambing di Tengah Jargon Gle, Blang, dan Laot

·
Pidie yang Terombang Ambing di Tengah Jargon Gle, Blang, dan Laot

Oleh Muhammad Zaldi*

Pemimpin harus rela berkorban lebih dan, dalam beberapa contoh pemimpin yang menjadi panutan, mereka bahkan rela mengorbankan nyawa mereka. Pemimpin dituntut menjadi manusia yang unggul, yang dalam istilah Friedrich Nietzsche, seorang filsuf berkebangsaan Jerman, disebut: Übermensch.  Akan tetapi, menjadi manusia unggul atau Übermensch pun bukan berarti boleh berbuat semaunya tanpa mendengar saran dan masukan dari pihak lain. Dalam hal perumusan kebijakan, misalnya, hal itu tidak boleh absolut atas kehendak pemimpin semata.

Kamis, 24 September 2020, tepat saat peringatan Hari Tani Nasional, aksi damai yang digelar kalangan mahasiswa dan pemuda seperti menjadi titik balik kembalinya pergerakan di Pidie.

Pidie yang terombang-ambing

Hendak di bawa ke mana Pidie kini? Daerah yang terkenal dengan julukan daerah kerupuk mulieng ini kian terombang-ambing: maju ataupun mundur tak jelas arahnya, dan kiri atau kanan juga tak jelas belokannya. Terlepas dari segala interpretasi, arah Pidie ke depan memang tak jelas. Sepakat ataupun tidak, hal itu tak bisa dipungkiri. Tentu di sekeliling pendopo ada tim pembisik yang terus membenarkan apapun yang dilakukan pemimpinnya, dan selalu ada 'angin surga' terus diembuskan sehingga suara jeritan rakyat tak terdengar lagi oleh pemimpin.

Sebagai daerah agraris yang memiliki semboyan Pang ulee buet ibadat, pang ulee hareukat meugoe, bahkan dengan visi-misi glee, blang, laot yang diusung pasangan kepala daerah kali ini, mustahil angka kemiskinan masih tinggi di Pidie bila diurus dengan benar. Penulis berpendapat jika pemerintahan Pidie ingin lebih baik, maka yang harus pertama dituntaskan adalah posisi para oligarki di sekeliling pendopo.

Kedatangan mahasiswa ke kantor bupati tempo hari, jika dimaknai secara positif, ialah untuk membawa gagasan positif. Tetapi para pendengung terus mencari kesalahan dan membelokkan isu.

Para mahasiswa dalam demo tempo hari, salah satunya, menginginkan Bupati Roni Ahmad atau Abusyik datang dan menemui massa, lalu memberikan jawaban atas keresahan publik. Tapi Bupati Roni mengelak!

Baca juga:

Roni Ahmad alias Abusyik adalah pejabat publik. Dia harus menjawab pertanyaan publik tersebut, baik di hadapan para mahasiswa maupun di media massa. Meusigrak!

*Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Peserta aksi pada Kamis, 24 September 2020 di Kantor Bupati Pidie.

Loading...