Sejarah

Petualangan de Houtman Bersaudara

·
Petualangan de Houtman Bersaudara
Ilustrasi. Sumber:news.okezone.com.

PADA 1592, dua bersaudara berkebangsaan Belanda, Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman, berlayar dari Amsterdam, ibukota Kerajaan Belanda, menuju ke Lisbon, ibu kota Kerajaan Portugis. Mereka ke sana bersama tujuh pengusaha Belanda lainnya. Konon, di sana mereka ditugaskan untuk mengorek informasi sebanyak mungkin tentang keberadaan tempat-tempat yang kaya akan rempah-rempah.

Dikutip dari makalah yang ditulis Anugerah Nontji, Jan Huygen Van Linschoten: Membuka Jalan bagi Masuknya Belanda ke Nusantara, pada abad ke-15, ada dua adidaya maritim di Eropa, yang berasal dari Semenanjung Iberia, yakni Spanyol dan Portugis.

“Kapal-kapal mereka telah mulai dapat melakukan pelayaran jarak jauh. Keduanya bersaing ketat untuk mengarungi samudera, mencari negeri yang diyakini sebagai negeri yang kaya raya akan rempah-rempah,” tulis Anugerah.

Tak heran jika dua bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman, serta tujuh pengusaha Belanda lainnya terlebih dahulu menyambangi Lisbon.

Namun nahas, Frederik de Houtman tertangkap tangan hendak mencuri peta rahasia: jalur laut menuju ke “Timur yang jauh”, tempat di mana rempah-rempah berasal.

“Adiknya dijebloskan ke dalam penjara oleh Portugis karena berupaya mencuri peta pelayaran rahasia Laut Merah dan Samudera India),” demikian dilansir dari britannica.com.

Dua de Houtman— Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman—merupakan simbol bagi kebangkitan dan tonggak sejarah dunia maritim kerajaan Belanda. Kebanggaan, lelucon, ironi, dan tragedi, bercampur-aduk jadi satu.

Anugerah Nontji menuliskan, pada akhir abad 16 kekuatan-kekuatan maritim baru dari negeri-negeri sebelah utara Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, mulai bangkit dan tampak mengancam hegemoni Portugis dan Spanyol.

THE FIRST Dutch fleet, four ships under the command of Cornelis de Houtman, set out to the Indonesian Archipelago April 2nd 1595 with a crew of 249 members. (Armada laut Belanda pertama yang berlayar ke Indonesia berada di bawah komando Cornelis de Houtman, yang berlayar pada 2 April 1595. Jumlah awak kapal: 249 orang, dan ada 4 kapal),” tulis drs Dirk Teeuwen MSc, dalam makalahnya yang berjudul The first Dutch shipping to the Indonesian archipelago 1595 – 1605.

Pada tahun yang sama (1595), sang adik, Frederik de Houtman, dibebaskan dari penjara.

Pelayaran yang dibiayai oleh sebuah perusahaan di Amsterdam, Compagnie van Verre, itu, tak berjalan mulus sejak awal. Wabah penyakit merebak di masa-masa layar baru berkembang.

… when the island of Madagascar was reached in October 1595 seventy men of the crew had died. They buried many of the dead on this island. […] kala sampai ke Pulau Madagaskar pada 1595, 70 awak kapal meninggal dunia. Mereka dikuburkan di pulau tersebut,” tulis drs Dirk Teeuwen MSc.

Dilansir dari indonesia.mongabay.com, Madagaskar merupakan sebuah pulau yang letaknya berseberangan dengan pantai timur Benua Afrika bagian selatan di Samudra Hindia.

Letak Madagaskar yang ditandai dengan garis merah. Sumber: indonesia.mongabay.com.
Letak Madagaskar yang ditandai dengan garis merah. Sumber: indonesia.mongabay.com.


“Pada masa setelah kedatangan para bajak laut sepanjang pantai timur Afrika, Madagaskar dijajah oleh bangsa Perancis pada akhir abad ke 19. Madagaskar memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1960 dan sekarang merupakan sebuah negara demokrasi,” demikian indonesia.mongabay.com.

Seberat apapun medannya, tak ada pilihan lain bagi Cornelis de Houtman dan awak kapal lainnya untuk tidak melewati Madagaskar sebab hanya jalur tersebut yang bisa dikatakan aman dari “pengawasan” Portugis.

Mereka akhirnya sampai ke Pulau Sumatera pada 1596 setelah mengarungi laut selama 14 bulan.

Pada tahun yang sama, tulis drs Dirk Teeuwen MSc, armada laut Belanda itu kemudian melanjutkan perjalanan ke Banten.

Mula-mula Cornelis de Houtman dan awak kapalnya diterima dengan baik oleh Sultan Banten.

Bahkan, mereka sempat kaget karena kapal-kapal mereka telah menjelma menjadi pasar-pasar rakyat. Dengan kata lain, mereka tidak dianggap “asing” di negeri orang.

Market places, on board, with local traders such as Javanese, Chinese. Everything was going perfect in June 1596. Nothing was stolen from the ships, but a lot was wrong with the Dutch themselves. (Pasar di atas kapal dengan para penjual Jawa, Cina. Semuanya berjalan mulus pada Juni 1595. Tak ada barang yang dicuri dari kapal. Namun, semua kesalahan berasal dari pihak Belanda sendiri),” kisah drs Dirk Teeuwen MSc.

Belakangan, kericuhaan terjadi di mana-mana. Sifat Cornelis de Houtman yang sombong, angkuh, dan kasar, adalah punca dari pertikaian dan perkelahian yang terjadi— dengan siapapun dan tanpa pandang bulu— di Banten. Akibat perkelahian-perkelahian yang sporadis itu, 138 awak kapalnya meninggal dunia. Otoritas Kerajaan Banten akhirnya mengusir Cornelis de Houtman dan kapal-kapalnya dari Banten.

Mereka lalu berlayar ke arah timur. Lagi-lagi nahas tak bisa dielak. Mereka dihajar bajak laut di dekat Surabaya. Setelah peristiwa tak terduga tersebut berlalu, mereka sampai ke Madura. Awalnya, mereka berteman baik dengan nelayan-nelayan Madura. Namun, Cornelis de Houtman Cs, belakangan, justru membunuh nelayan-nelayan tersebut tanpa ada alasan yang jelas.

Armada Cornelis de Houtman tersebut sempat singgah di Bali sebelum akhirnya, pada 1597, mereka kembali ke Belanda.

Out of the 249 crewmembers only 87 returned. (Dari 249 awak kapal, hanya 87 orang yang kembali hidup-hidup),” tulis drs Dirk Teeuwen MSc.

EKSPEDISI Cornelis de Houtman yang kedua ke Nusantara bisa dikatakan sebagai misi “pemulihan nama baik” atas ekspedisi pertama yang dianggap oleh khalayak di Belanda sebagai ekspedisi yang lebih banyak menghasilkan kemudaratan daripada manfaat. Kali ini, sang adik, Frederik de Houtman, ikut dalam ekspedisi tersebut.

Dikutip dari buku Kerajaan Aceh (1991), yang ditulis oleh Denys Lombard, “Armada Cornelis de Houtman, yang disewa oleh Balthasar de Moucheron, terdiri dari dua kapal (Leeuw dan Leeuwin). Cornelis de Houtman, bersama Frederik de Houtman dan pemandu Inggris John Davis, berangkat dari Zelandia tanggal 25 Maret 1598 dan tiba di Aceh tanggal 24 Juni 1599”.

Sultan Aceh yang berkuasa di masa itu, Alau’d-din Ri’ayat Shah (Kakek Sultan Iskandar Muda), ternyata lebih tertarik pada obrolan-obrolan tentang strategi perang ketimbang perdagangan rempah-rempah. Maklum, kala itu, perang antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Johor tengah berkobar.

A contract was signed by both Sultan Alau’d-din Ri’ayat Shah and Cornelis de Houtman […] It was agreed that De Houtman would receive 1000 bahar of pepper before the expedition to Johor and another 1000 bahar of pepper after returning in Aceh. (Perjanjian antara Sultan Alau’d-din Ri’ayat Shah dan Cornelis de Houtman ditandatangani oleh kedua belah pihak. Disepakati bahwa De Houtman akan menperoleh 100 bahar lada sebelum ekspedisi ke Johor, dan 100 bahar lainnya akan ia peroleh setelah kembali ke Aceh),” tulis Ingrid Saroda Mitrasing dalam buku the Age of Aceh and the Evolution of Kingship 1599 – 1641 (1947).

Hubungan Kerajaan Aceh dan Kerajaan Johor pada masa-masa itu bisa dikatakan tak menentu. Kadang, Kerajaan Aceh dan Kerajaan Johor berada dalam satu aliansi dalam memerangi Portugis. Namun, di lain waktu, Kerajaan Johor justru berkoalisi dengan Portugis untuk memerangi Kerajaan Aceh. Hal tersebut didasari oleh kehendak untuk menguasai Selat Malaka, yang merupakan lalu-lintas perdagangan dunia.

SATU HARI sebelum keberangkatan ke Johor, anak-anak buah Cornelis de Houtman, yang mencium gelagat aneh dari pihak Kerajaan Aceh, memasang batu yang besar-besar di depan kapal dan mempersiapkan senjata dalam kondisi siap tempur sejak masih berada di pelabuhan Aceh. Di lain pihak, Cornelis de Houtman memerintahkan anak-anak buahnya itu untuk tidak melakukan hal tersebut. Dengan kata lain, Cornelis de Houtman sendiri tidak menyadari bahwa pihaknya akan diserang oleh pihak Kerajaan Aceh. Di dalam kapal dan dari luar.


Shahbandar Abdalla, yang tak lain adalah saudara sultan, naik ke atas kapal Cornelis de Houtman bersama pasukan bersenjata lengkap. Mereka membawa daging-daging yang lezat dan arak. Namun, bagi awak kapal Cornelis de Houtman, makanan dan minuman tersebut dicurigai mengandung racun. Sebab, setelah mereka mencicipinya, perasaan senang, riang, dan semacamnya menyergah mereka.

If he had any reason to suspect the locals, he should not allow them aboard armed with weapons... (Jika dia [Cornelis de Houtman] menyadari dan mencurigai orang Aceh akan menyerangnya, ia takkan mengizinkan mereka berada di atas kapal dengan membawa senjata),” tulis Ingrid Saroda Mitrasing.

Singkat cerita, terjadilah penyerangan yang ngeri itu dan pertumpahan darah antara kedua belah pihak pun tak bisa dielakkan.

The Acehnese attack on the ships was swift and brutal; Cornelis de Houtman and twenty eight of his men were murdered and in the ensuing battle many locals too lost their lives, like the shahbandar Abdalla, a relative of the sultan. (Penyerangan pihak Aceh begitu cepat dan brutal. Cornelis de Houtman dan 28 awak kapalnya tewas terbunuh dan korban di pihak Aceh sendiri juga cukup banyak, termasuk tewasnya shahbandar Abdalla, si suadara sultan),” tulis Ingrid Saroda Mitrasing.

Motif penyerangan tersebut, menurut Ingrid Saroda Mitrasing, masih menyisakan tanda tanya.

Sementara itu, dilansir dari historia.id, Rabu, 11 Februari, 2015, rencana penyerangan Kerajaan Johor itu dikacaukan oleh intrik para saudagar Portugis.

“Pemimpin lain dari ekspedisi tersebut, Le Fort, berhasil meloloskan diri dengan dua kapalnya, tetapi 30 awak kapal termasuk Frederik de Houtman ditangkap. Frederik dibujuk masuk Islam dengan iming-iming jabatan tinggi dan dinikahkan dengan perempuan Aceh. Dia menolak.

Sumber: historia.id

Dia pun mendekam dipenjara Benteng Pidie selama 26 bulan (11 September 1599 sampai 25 Agustus 1601),” demikian historia.id. Di dalam penjara Benteng di Pidie, Frederik “menyusun kamus percakapan berbagai topik dalam bahasa Belanda dan Melayu, berjudul Spraeck ende Woordboek, Inde Maleysche ende Madagaskarsche Talen met vele Arabische ende Turcsche Woorden”.[]

Loading...