Perusahaan Merek Dunia dan Raksasa Agribisnis Jadikan Aceh sebagai Wilayah Implementasi Komitmen Nol Deforestasi

·
Perusahaan Merek Dunia dan Raksasa Agribisnis Jadikan Aceh sebagai Wilayah Implementasi Komitmen Nol Deforestasi
Truk pengangkut TBS di Konsesi PT Aloer Timur, Di Gampong Peunaron, Aceh Timur, Indonesia, (13/01/2017). Dok. Nanang Sujana / RAN.

sinarpidie.co - Rainforest Action Network (RAN), organisasi nirlaba yang bergerak di bidang lingkungan dan berbasis di San Fransisco Amerika Serikat, menyambut baik langkah Nestlé dan Musim Mas yang mengungkap jejak hutan mereka dan merilis strategi lima tahun untuk mencapai komitmen NDPE (no deforestation, no peat, no exploitation-red) oleh perusahaan-perusahaan pemasok di seluruh Aceh.

Nestlé ––perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia–– secara terbuka merilis “Jejak Hutan” rantai pasok minyak sawitnya untuk Aceh. Hal ini dilakukan untuk menanggapi tekanan publik yang kian meningkat terhadap komitmen Nol Deforestasi, Nol Pembangunan di Lahan Gambut, dan Nol Eksploitasi (NDPE) terhadap perusahaan-perusahaan merek dunia yang seharusnya direalisasikan pada 2020. Nestlé merupakan salah satu perusahaan merek dunia pertama yang  mau mempublikasikan jejak hutannya. 

“Pengungkapan jejak hutan Nestlé di Aceh menjadi preseden penting, tindakan ini juga harus diikuti oleh perusahaan lainnya termasuk Mars dan Mondel├ęz yang rantai pasokannya masih bermasalah karena terpapar minyak sawit, pulp dan kertas, serta kakao yang diproduksi dengan mengorbankan hutan hujan dan hak-hak Masyarakat Adat,” ungkap Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan RAN, dalam keterangan tertulis yang diterima sinarpidie.co, Rabu, 9 Desember 2020.

Jejak hutan untuk kelapa sawit Nestlé telah mengidentifikasikan setidaknya 89.667 hektare bank hutan dan sekitar 8.000 hektare lahan gambut masih berada di dalam konsesi kelapa sawit di wilayah ini dan berisiko untuk dibuka di masa, yang akan datang dengan tambahan luas 1,45 juta hektare lahan hutan yang berisiko untuk dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit karena masuk dalam radius 50 km dari pabrik yang terdaftar dalam rantai pasokan Nestlé. Hal ini menjadikan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser yang membentang dari Aceh dan Sumatera Utara masih terancam untuk dibuka.

Padahal, kata Gemma, kawasan ini merupakan hutan hujan terakhir tempat orangutan, gajah, badak, dan harimau Sumatra hidup bersama di alam liar dan menjadi kawasan ekosistem esensial penyedia air bersih serta mata pencaharian bagi lebih dari 4 juta penduduk lokal dan berperan penting sebagai penyerap karbon global.

Di samping itu, kata Gemma, Musim Mas, salah satu perusahaan pedagang minyak sawit terbesar di dunia juga mengeluarkan strategi lima tahun, yang dirancang untuk memastikan para pemasok Musim Mas di seluruh Aceh bisa memenuhi komitmen NDPE. Musim Mas juga menjadi satu-satunya raksasa agribisnis yang operasional perkebunan kelapa sawitnya telah diverifikasi sesuai dengan acuan Palm Oil Innovation Group’s (POIG), yaitu penerapan praktik produksi minyak sawit yang bertanggung jawab oleh para pemain utama dalam rantai pasok minyak sawit melalui pengembangan tolak ukur kredibel dan dapat diverifikasi yang dibangun di atas Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk memproduksi minyak sawit yang bertanggung jawab.

“Sekarang Nestlé dan Musim Mas harus ikut mendorong pengakuan atas hak-hak masyarakat adat dan lokal serta berinvestasi dengan cara-cara baru untuk melindungi dan memulihkan Kawasan Ekosistem Leuser dengan mempercepat perbaikan di sektor kelapa sawit di Aceh. Nestlé juga harus menindaklanjuti dengan penilaian lebih lanjut tentang jejak hutannya di seluruh dunia,” kata Gemma. “Mencapai pendekatan berbasis hak untuk mengatasi deforestasi dan produksi minyak sawit ilegal di kawasan lindung memang tidak mudah, tetapi akan menjadi preseden penting jika dilakukan dengan melibatkan multi pihak termasuk pemegang hak, organisasi masyarakat sipil, perusahaan sawit dan badan industri, serta pemerintah di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Ini bukan suatu hal yang tidak mungkin, dan perusahan dunia dengan keuntungan milyaran dollar harus mau berinvestasi untuk ini."

RAN juga menyerukan agar aksi nyata bisa segera dipercepat untuk mengakhiri deforestasi dan memajukan perlindungan dan restorasi berbasis hak atas Kawasan Ekosistem Leuser. 

RAN, sebut Gemma, akan terus mengungkap perusahaan-perusahaan yang bertanggung jawab atas perusakan Kawasan Ekosistem Leuser dan mengawasi Musim Mas atas implementasi strateginya, sembari terus menuntut perusahaan dan perbankan dunia paling berpengaruh yang mendorong perusakan hutan hujan dan pelanggaran hak asasi manusia untuk mengungkap jejak hutan mereka, termasuk di antaranya Colgate-Palmolive, Ferrero, Kao, Mars, Mondeléz, Nestlé, Nissin Foods, PepsiCo, Procter & Gamble, dan Unilever, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), Bank Negara Indonesia (BNI), CIMB, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), DBS, ABN Amro, dan JPMorgan Chase.

Sejak 2014, RAN telah mengungkap deforestasi, perusakan lahan gambut, dan suplai minyak sawit bermasalah dan konflik lahan yang belum terselesaikan dalam rantai pasok, dan mendokumentasikan kegagalan perusahaan-perusahaan ini dalam menerapkan kebijakan NDPE di Kawasan Ekosistem Leuser dan di seluruh provinsi Aceh. []

Loading...