Sejarah

Pertarungan Wacana yang Berdarah  

·
Pertarungan Wacana yang Berdarah  
Madrasah Sa`adah Abadiyah al-Jamiatul Diniyah di Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. (sinarpidie.co/Firdaus).

sinarpidie.co--SUATU HARI tatkala Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Hasan Tiro, masih duduk di bangku sekolah dasar, seorang pria paruh baya menyela kelas yang sedang diikutinya. Pria baruh baya tersebut meminta guru yang saat itu mengajar di dalam kelas membawanya ke tempat duduk Hasan Tiro.

Pria yang belakangan diketahuinya bernama Teungku Hadji Muhammad Tahir, seorang ulama dari Aceh Utara, menyalaminya seraya berkata, “O Teungku, saya datang menemuimu untuk mengingatkan agar tidak lupa pada hutang sejarah dan persiapkan dirimu untuk memimpin rakyat dan bangsa kita berjaya kembali sebagaimana leluhur kita lakukan sebelumnya.”

Nukilan itu tertera dalam buku The Price of Freedom: the Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro (1984). Sekolah tempat adegan itu berlangsung: Madrasah Sa`adah Abadiyah al-Jamiatul Diniyah di Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie.

Anthony Reid, dalam bukunya Sumatera dan Elite Tradisional menyimpulkan, keberadaan sekolah di tahun-tahun 1930-an yang didirikan ulama lokal di Aceh yang progresif adalah peralihan dari gerakan bersenjata rakyat Aceh—dalam melawan pendudukan Belanda—ke gerakan politik.  

Peralihan dari gerakan bersenjata ke politik kala itu, menurut Anthony Reid, setelah titik puncak frustasi perlawanan rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda dengan kekerasan hingga “dua pusat pemberontakan Aceh yang telah dipatahkan Belanda, yaitu yang dipimpin oleh para Teungku di Tiro di daerah Pidie dan Teungku di Mata Ie di Keureutoe” benar-benar klimaks.

Belanda, yang semula mengira akan mampu “mendisiplinkan” pikiran orang-orang Aceh setelah Teungku Chik di Tiro dan putra-putranya meninggal dunia dalam medan perang, ternyata tetap digayuti kecemasan karena pembunuhan-pembunuhan khas Aceh atau Atjeh-moord kerap terjadi. Biasanya, serangan itu dilakukan seorang diri terhadap Belanda di manapun mereka bisa  ditemui.

“Pada 1920, orang-orang Belanda memberi perhatian khusus terhadap masalah-masalah ini dengan mendirikan rumah sakit jiwa terbesar di daerah itu, di Sabang, untuk mengatasi apa yang tampak seperti suatu krisis yang luar biasa. Salah satu jalan keluar dari tekanan rasa kalah ini adalah kembali melawan yang mulanya disebabkan timbulnya harapan baru bahwa mereka mungkin menang. Perlawanan ini kemudian semakin berkembang karena adanya tekad yang nekat dalam diri perorangan maupun kelompok untuk mempertaruhkan nyawanya demi membunuh Belanda dengan keyakinan bahwa jika mereka mati maka mereka mati syahid dan masuk surga,” tulis Anthony Reid dalam bukunya Sumatera dan Elite Tradisional.

Pendekatakan kekerasan dalam melawan Belanda di Aceh hilang pada lima tahun terakhir pendudukannya di Aceh, karena sebagaimana dituliskan Anthony Reid, “Kaum muda dan kaum terpelajar telah mulai mengukur kebesaran martabat Aceh bukan dengan kenekatan perlawanan muslimin terhadap penjajah melainkan dengan kemampuan menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan baru yang mengubah wajah Islam dan Indonesia”.

“Perubahan itu tidak saja ditandai dengan adanya sekolah-sekolah dan kehidupan keorganisasian yang modern tapi juga dengan terbitnya suratkabar, dibangunnya irigasi dan adanya toko-toko dan perdagangan yang berada di tangan putera-puteri Aceh sendiri,” tulis Anthony Reid.

Pendiri sekolah tersebut adalah Teungku Daud Beureueh. Jamiatul Diniyah, tulis Reid, merupakan gerakan pendidikan di mana ia mendirikan sekolah pertamanya di Blang Paseh. Lalu disusul di Pineung dan Ie Leubeu.

Sekolah tersebut merupakan tandingan atau sekolah alternatif dari kekuasaan Belanda yang hegemonik. Belanda membangun delapan Hollands Inlandse School (HIS) di Aceh hingga 1938. Itu adalah sekolah dasar. Untuk lanjutannya ada sekolah menengah, MULO. Sekolah ini dibuka untuk anak-anak uleebalang. Sementara, untuk rakyat biasa, dibangun sekolah tiga tahun yang bertujuan mengajarkan baca-tulis bahasa Melayu dan abjad latin, yakni Volkschool. 

***

TEUKU NOEKMAN, 73 tahun, duduk di atas kursi besi di bawah pohon manga yang rindang di salah satu sudut pekarangan rumahnya di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie, yang menghadap ke jalan raya, Kamis, 14 November 2019. Rumah itu memiliki pekarangan yang cukup luas dengan sejumlah tanaman di dalamnya. Rumah itu tak hanya sekadar rumah baginya, sebab beberapa tahun belakangan, rumah tersebut juga menjadi semacam wisma penginapan. Ia duduk dengan tatapan kosong ke depan. Di depannya, terdapat sebuah meja bundar.

Teuku Noekman merupakan adik Teuku Muhammad Hasan atau lebih dikenal dengan panggilan Mr Hasan, Gubernur Sumatera pertama saat Indonesia baru merdeka, yang ibukotanya saat itu berada di Kota Medan.

Sore itu, Teuku Noekman, yang mengenakan kaus putih dan kain sarung, memutar ingatannya tentang penggalan-penggalan peristiwa penting yang menyertai hidupnya.

Abu (ayah-red) kami, Teuku Bentara Pineung, punya empat istri. Rumoh Geudong (Lampoh Saka), Rumoh Sagoe, Rumah Bambi di Mamplam, dan Rumoh Blang Paseh. Rumoh Geudong, anak yang tua: Teuku Ismail. Lalu Teuku Thayeb, dan Pocut Mawardi. Di Rumoh Sagoe Cut Bang Mr (Teuku Muhammad Hasan-red), Teuku Husen, Teuku Ghazali, Teuku Hamid, dan Cut Nuraini. Di Rumoh Bambi di Mamplam, Teuku Mahmud, Cut Mariam, dan Cut Aisyah. Di Rumoh Blang Paseh, dari ibu saya, ayah saya memiliki dua anak: saya dan Cut Rahmaniar,” tutur Teuku Noekman, menceritakan riwayat singkat keluarga besarnya.

Menurut Teuku Noekman, Daud Beureueh bukanlah pendiri sekolah Jamiatul Diniyah. Daud Beureuh, kata dia, hanya salah seorang guru agama di sekolah yang ia sebut didirikan oleh ayahnya, Teuku Bentara Pineung.

“Sekolah itu didirikan dengan uang uleebalang. Yang koordinir abu (ayah) saya. Sekolah di Blang Paseh berdiri pada 1933. Teuku Bentara Pineung yang bangun. Pada saat itu, abu ke Padang Sumatera Barat untuk mencari guru. Pak Muktar Hamzah dan Pak Salman. Mereka orang-orang Muhammaddiyah. Mereka membawa keluarga mereka ke Pidie, menetap di sini, sampai meninggal dunia. Tinggal di Keuramat Dalam,” kata Teuku Noekman. “Tanah sekolah itu tanah Bentara Pineung.”

Kata Teuku Noekman, Madrasah Sa`adah Abadiyah al-Jamiatul Diniyah di Blang Paseh pada awal-awal pendiriannya memiliki satu ruangan guru dan tiga ruang belajar. “Dan satu ruangan di lantai dua adalah tempat main sandiwara, seperti ruang kesenianlah,” kata Teuku Noekman.

Anthony Reid menuliskan, beberapa uleebalang memang terlibat dalam pendirian Jamiatul Diniyah. “Khususnya T Bentara (Pineung), yang menjadi penguasa di daerah tempat dibangunnya sekolah pertama…,” tulis Reid.

Hal itu, menurut Reid, lebih cenderung disebabkan persaingan antar uleebalang di Pidie yang terlalu sengit dan yang terkaya dari mereka adalah Teuku Umar Keumangan, uleebalang yang pada satu waktu pernah membuat Daud Beureueh meninggalkan kampungnya karena percekcokkan antar keduanya. Oleh sebab itu, Daud Beureueh membutuhkan perlindungan dari uleebalang lainnya, terlebih Teuku Umar Keumangan “bersikap bermusuhan dengan perguruan ini”.

Terlebih lagi, sesama uleebalang di Pidie kerap tak pernah akur satu sama lainnya.

Hal ini bisa dirujuk dari platform sekolah itu sendiri, di mana Daud Beureuh yang lahir di Beureueh, Keumangan, pada 1899 dan hanya berpendidikan dayah tradisional di Pidie, terbuka pada materi pendidikan dan kurikulum sekolah Diniyah yang modern. “Salah satu dukungan paling berharga yang diterimanya adalah surat-surat dari ulama terkemuka Aceh yang lain, Tengku Syech Abdul Hamid, yang dibuang Belanda ke Mekah karena keterlibatannya dalam gerakan Sarekat Islam. Surat-surat itu berisi saran-saran pembaruan dalam pendidikan Islam dengan mengambil contoh-contoh pendidikan Islam di Mesir dan Negeri Arab di bawah Raja Ibnu Saud,” tulis Anthony Reid.

Pengaruh Syarikat Islam

Uleebalang di Pidie bukanlah uleebalang yang sepenuhnya patuh pada kehendak Belanda. Dan, sebagaimana dituliskan Anthony Reid, “Uleebalang Aceh ini tidak pernah menjadi raja-raja feudal. Memang mereka senantiasa dihormati rakyatnya, tetapi posisinya dalam perekonomian sama sekali tidak memiliki hubungan feudal antara raja dan hamba”.

Anthony Reid, yang mengutip James Siegel dalam buku The Rope of God, menuliskan, “posisi uleebalang pada pokoknya didasarkan pada penguasaan atas perdagangan dan kegiatan-kegiatan ekonominya sendiri, bukan pada prinsip hak atas tanah atau penguasaan irigasi”.

Hanya saja, peran uleebalang di bawah pemerintahan Kolonial Hindia Belanda telah membikin mereka dibenci oleh rakyatnya sendiri.  Hal itu lebih disebabkan karena mereka menggunakan kekuasaan adiministratif yang diperoleh dari legitimasi Belanda untuk meningkatkan kegiatan ekonomi mereka.

“Tanah-tanah tidak terpakai biasanya dianggap sebagai hadiah untuk penguasa, sehingga banyak kesempatan bagi uleebalang yang ambisius untuk membuka perkebunan baru di daerah-daerah berpenduduk sedikit seperti Tangse dan pantai barat. Situasi ini berbeda dengan di dataran Pidie yang sudah mempunyai irigasi. Di sana hampir semua tanah yang bisa digarap dianggap sebagai milik perseorangan, baik milik uleebalang sebagai pribadi atau milik rakyat secara perseorangan. […] kepemilikan uleebalang atas tanah di Pidie meningkat pesat selama masa pemerintahan kolonial Belanda,” tulis Anthony Reid.

Di lain pihak, gerakan modernisasi pendidikan yang dilakukan Daud Beureueh disusul dengan modernisasi dan reformasi organisasi politik di masanya: Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Daud Beureueh memimpin organisasi ini. PUSA kelak juga punya Sekolah Pendidikan Guru di Bireun yang berdiri pada 1939 dan memiliki majalah bulanan Penjoeloeh.

Organisasi Syarikat Islam (SI) yang nasionalis dan anti-kolonial Hindia-Belanda di Jawa membawa pengaruhnya hingga ke Aceh. SI di Aceh pada awal-awalnya justru digerakkan oleh uleebalang. Namun, pengaruhnya hanya sebatas di Lhokseumawe dan Aceh Utara dan tidak berlangsung lama karena pemimpin-pemimpin gerakan tersebut dihukum dan diasingkan oleh Belanda.

Gerakan perlawanan modern di masanya lewat organisasi Muhammaddiyah juga sampai ke Aceh. Namun, gerakan ini sulit membumi di Aceh karena memperoleh stigma Minangkabau.

“Untuk mengatasi hambatan ini Muhammdiyah menempatkan diri di bawah perlindungan uleebalang terpelajar Aceh […] Tokoh tersebut dijadikan sebagai konsul daerah,” tulis Reid.

Dan tokoh tersebut atau Konsul Muhammadiyah di Aceh adalah Teuku Muhammad Hasan Glumpang Payong atau Hasan Dek. Muhammaddiyah dicap sebagai organisasi berbahaya oleh Belanda. Kendati demikian, organisasi ini berjarak dengan massa rakyat Aceh. Tak hanya Muhammadiyah, yang juga ikut mendirikan sekolah-sekolah, untuk menggalang nasionalisme Indonesia melawan Belanda, Taman Siswa juga masuk ke Aceh. Keduanya tak mengakar di Aceh karena lebel Minang dan Jawa.

Dengan kata lain, PUSA-lah pemenang di tanahnya sendiri, karena ia mengakar di akar rumput. Perlu dicatat, PUSA juga memperoleh pengaruh Syarikat Islam dalam gerakannya.

Selain itu, perlu juga dilihat konteks "zaman bergerak" saat itu: Syarikat Islam juga pecah menjadi dua, yaitu SI Merah dan SI Putih. Kecenderungan PUSA lewat Pemuda PUSA-nya (Husen Al Mujahid/Nathar Zainuddin) condong pada SI Merah, sementara Taman Siswa di Aceh (organisasi yang didirikan Haji Agus Salim) dan Muhammadiyah (Hamka): SI Putih.

***

H TEUKU HUSEN masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Medan saat ia menziarahi kuburan pamannya, Teuku Muhammad Hasan Glumpang Payong atau Hasan Dek di Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara pada 1953. “Ayahwa saya kemungkinan ditembak Kempetai Jepang,” kata Teuku Husen, Jumat, 15 November 2019 di kediamannya di Gampong Benteng, Kecamatan Kota Sigli, Pidie.

Pria yang kini berumur 82 tahun itu berkisah, saat penembakan tersebut, Pengadilan Jepang di Medan sebenarnya telah memutus Teuku Muhammad Hasan Glumpang Payong, kerabat Buya Hamka,  itu, yang juga pentolan Muhammadiyah di Aceh, tidak bersalah atas tuduhan sebagai antek Belanda. Kala itu, Hasan Dek hendak kembali ke Aceh dengan kereta api di Lapangan Merdeka Medan, Sumatera Utara. “Di stasiun kereta api ia kembali ditangkap oleh Kempetai (Polisi Militer Jepang-red). Ada telegram dari Kuta Raja ke Medan. Jasadnya dikuburkan satu liang bersama 4 mayat lainnya, termasuk seorang Belanda,” ujar Teuku Husen.

TM Hasan Glumpang Payong adalah seorang Guncho di Sigli dan juga pernah menjadi Guncho di Kuta Raja (Banda Aceh). Ia menentang kebijakan Jepang yang menerapkan kerja paksa pada masyarakat Aceh. Ia dihukum mati Kempetai pada Agustus 1944.

“Saya heran, mengapa Muhamaddiyah aktivitasnya dilarang oleh Belanda, sementara PUSA tidak. Taman Siswa juga didekte. Tidak boleh menyeleweng sedikitpun. Mengapa PUSA bebas? Saya mengira dan menduga PUSA memang dibentuk oleh Belanda agar bisa diadu dengan uleebalang, agar uleebalang tidak dominan,” kata Teuku Husen, dalam nada bicara agak tinggi. “Sengaja diadu domba oleh Pemerintah Kolonial.”

Namun, menurut Anthony Reid, PUSA, melalui Said Abubakar, yang mengundang Jepang ke Aceh untuk mengusir Belanda. Usai memfasilitasi Jepang memasuki Aceh, Jepang rupanya memulihkan peranan uleebalang pada pemerintahan seperti sediakala di zaman Belanda. “Said Abu Bakar dikabarkan mencoba bunuh diri pada Desember 1942,” tulis Anthony Reid.

BABAK KEDUA pembantaian uleebalang di Pidie terjadi pada 1953, bertahun-tahun usai Perang Cumbok berlalu pada 1946.

“Sisa-sisa 45 jangan ada lagi,” kata H Teuku Husen, menirukan ucapan pentolan DI/TII saat itu.

Anthoy Reid menuliskan, pasca-Perang Cumbok pada Januari 1946, “Hanya ada dua dari 25 penguasa di Pidie ini yang diketahui selamat dari pembunuhan, yaitu uleebalang Pineung yang merupakan ayah Gubernur Hasan dan uleebalang Trienggadeng yang dilindungi oleh Hasballah Trienggadeng. Anggota-anggota keluarga uleebalang yang tidak penting secara politis dibunuh oleh rakyat setempat dan bukan oleh pasukan persenjata. Beberapa keluarga musnah sama sekali, misalnya keluarga Njong dan Meurudu. Jumlah korban jiwa mencapai ratusan.”

Teuku Noekman mengenang suatu hari pada 1953, saat ayahnya, Teuku Bentara Pineung, diambil paksa di rumah mereka di Gampong Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie.

Itu adalah tahun ketika Daud Beureueh mendeklarasikan diri sebagai bagian dari DI/TII.

“Umur abu sudah 80 tahun ke atas saat itu. Dia tak tak lagi melakukan aktivitas politik. Di rumah saja. Cuma, ada satu uleebalang, Teuku Abdurrahman Muli, asal Geudong Aceh Utara, yang mengkoordinir, untuk menuntut harta-harta uleebalang yang dirampas oleh Markas,” kata Teuku Noekman.

Raut wajahnya datar saat ia menceritakan kisah tersebut. Nada bicaranya lancar. Tak tersendat sedikitpun.

Pada 1957, Teuku Noekman didatangi seorang supir, Usman, yang bertahun-tahun silam, membawa Teuku Bentara Pineung ke Krueng Meriam, Tangse. Di sana Teuku Bentara Pineung dieksekusi mati.

“Sopir itu menunjukkan tempat abu saya dikubur. Kami pindahkan jasadnya yang sudah jadi tulang belulang ke bhom (makam) pribadi keluarga kami di Lampoh Saka,” kenang Teuku Noekman. “Di Medan, sebelumnya, adik Cut Bang Mr (Teuku Hasan-red) juga meninggal dibunuh. Teuku Hamid. Ia menikah dengan putri Sultan Langkat.”

SEJAK 2014, Teuku Noekman menjabat sebagai Ketua Yayasan Madrasah Sa`adah Abadiyah al-Jamiatul Diniyah di Blang Paseh, Kecamatan Kota Sigli, Pidie. Jumlah santri yang belajar di sana: 500 santri. Kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum dayah (Tasawuf, Tauhid, dan Fiqih).

“Fasilitas delapan ruangan belajar. Jumlah guru 20 orang. Kelas, termasuk kelas Iqraq untuk anak-anak,” kata Hatimul Ahdal, pimpinan Madrasah Sa`adah Abadiyah al-Jamiatul Diniyah, Jumat, 15 November 2019. []

Komentar

Loading...