Perempuan Penganyam Kawat Beronjong

·
Perempuan Penganyam Kawat Beronjong
Rahmania, 35 tahun, warga Dusun Blang, Gampong Seuke, Kecamatan Pidie, sedang menganyam kawat-kawat 0,1 mm di bawah rumah Aceh miliknya Sabtu, 19 Desember 2020 siang. (sinarpidie.co/Candra Saymima).

sinarpidie.co - Rahmania, 35 tahun, warga Dusun Blang, Gampong Seuke, Kecamatan Pidie, sedang menganyam kawat-kawat 0,1 mm di bawah rumah Aceh miliknya Sabtu, 19 Desember 2020 siang. Dengan menggunakan sarung tangan kain, kedua tangannya terlihat sangat cekatan dalam memuntir kawat. "Agar telapak tangan tidak kasar," katanya, menjelaskan tentang kegunaan sarung tangan.

Ibu dua anak ini sudah mulai menganyam kawat semenjak dia berumur 15 tahun. Kawat-kawat tersebut bukanlah miliknya. Dia hanya menerima upah untuk mengayam kawat tersebut menjadi kawat beronjong. "Kawat milik toke di Gorong-Gorong," sebutnya.

Upah yang dia terima untuk mengayam satu kilogram kawat adalah Rp 3000. Setiap harinya, dia mampu mengayam 10 kilogram kawat.

Setiap harinya, ia memperoleh sepuluh gulungan kawat di mana setiap gulungan. Kemudian gulungan kawat tersebut dipotong-potong menjadi 12 bagian. "Setiap ujung kawat dililitkan pada padok atau potongan bambu yang berbentuk huruf H dengan masing masing panjang yang seimbang," katanya, "Jadi untuk sekali menganyam harus ada 24 padok."

Baca juga:

Bagian tengah kawat-kawat yang telah dililitkan pada padok tersebut digantung pada jangkha, kayu tempat padok digantung.

Untuk anyaman kawat 5 kilogram akan menghasilkan kawat beronjong sepanjang 10 meter dengan lebar satu meter. "Kalau kawat 10 kilogram panjangnya dua kali lipat," sebutnya. []

Loading...