Perempuan dan Pohon Sagu di Gampong Ulee Tutue

·
Perempuan dan Pohon Sagu di Gampong Ulee Tutue
Usaha pengolahan tepung sagu di Gampong Ulee Tutue, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. (sinarpidie.co/Diky Zulkarnen).

sinarpidie.co — Pohon-pohon sagu tumbuh rapat di sebagian besar lahan di Gampong Ulee Tutue, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. Atap-atap yang terbuat dari daun sagu atau rumbia yang tersusun rapi di sebagian besar rumah warga di gampong setempat juga tampak kentara. Harga atap daun rumbia berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per lembar. Selain menganyam atap daun rumbia, warga gampong setempat juga mengolah sagu menjadi tepung.

Saat sinarpidie.co menyambangi tempat usaha pengolahan tepung sagu di gampong tersebut pekan lalu, dua pekerja di tempat itu, Murniati, 38 tahun, dan Alwani, 17 tahun, sedang memeras sagu hasil gilingan mesin. Di sebelah mereka, Eli Suriati, 40 tahun, pemilik usaha pengolahan sagu tersebut, sedang memperbaiki gerigi mesin penggilingan sagu yang rusak.

“Mesin giling sagu ini dirakit dari mesin perontok. Jadi, sagu yang telah dipotong-potong seukuran telapak tangan dimasukkan ke dalam mesin ini sampai hancur. Hasil gilingan itu dimasukkan ke dalam karung. Kemudian, sagu dalam karung itu dimasukkan lagi ke dalam ayakan atau saringan yang berada pada sebuah bak air ukuran 3 x 1 meter,” kata Eli Suriati. 

Kata Eli lagi, sagu di dalam bak air itu juga harus diperas lagi, kemudian hasil perasan tersebut disaring kembali dengan ayakan.

“Ayakan itu diletakkan di atas bak.  Setelah dilakukan proses pengayakan atau penyaringan, baru sagu tersebut menjadi bakal tepung. Sementara ampas yang tinggal di dalam ayakan itu akan dipakai untuk pakan ternak. Tepung di dalam bak air itu kemudian dimasukkan ke dalam karung. Keesokan harinya, baru dilakukan penjemuran selama satu hari. Baru kemudian tepung sagu siap dipasarkan,” kata Eli lagi.

Eli Suriati juga mengatakan untuk mengolah tepung sagu, pihaknya membeli pohon sagu dengan harga per batang antara Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu.

“Proses lainnya setelah mendapatkan pohon sagu adalah memotong pohon sagu tersebut menjadi beberapa bagian. Setelah pemotongan selesai, kemudian pohon sagu itu diangkut ke tempat pengolahan dengan menggunakan mobil,” kata Murniati, pekan lalu.

Dalam satu batang pohon sagu yang utuh, sebutnya, dapat menghasilkan sebanyak 14 potongan pohon sagu seukuran 60 sentimeter, lalu dalam 14 potongan itu akan menghasilkan 120 kilogram tepung sagu siap jual.

“Harga tepung sagu kita jual Rp 5.300 per kilogram. Kita mampu memproduksi tepung sagu dalam jumlah yang besar, namun permintaan pasar yang kurang. Tepung sagu di tempat ini diambil langsung oleh pengepul seminggu atau 10 hari sekali,” sebutnya.

 Dipasarkan ke Langsa dan Kuala Simpang

Pengepul tepung sagu, Fadli Harun, 40 tahun, mengatakan ia memasok delapan hingga sembilan ton tepung sagu hasil olahan perempuan-perempuan Gampong Ulee Tutue ke Langsa dan Kuala Simpang setiap bulan. “Tepung sagu dipakai untuk bahan pembuatan kue, bakso dan lain-lain. Kenapa dipasarkan ke Langsa dan ke Kuala Simpang? Karena permintaan tepung sagu di dua tempat itu lumayan tinggi,” kata Fadli pekan lalu.

Risiko kerja

Yuswika, 33 tahun, salah seorang pekerja di tempat usaha tersebut mengatakan proses pengolahan sagu dengan cara seperti yang mereka lakukan memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Salah satu jari kanannya harus diamputasi karena tergiling mesin penggilingan sagu saat dia memasukkan potongan sagu ke dalam mesin tersebut. Peristiwa naas itu terjadi pada tahun 2011. “Hingga sekarang saya masih bekerja di tempat pengolahan tepung sagu. Tapi saya tidak mau bekerja pada bagian memasukkan potongan sagu ke dalam mesin lagi karena saya trauma,” ungkap ibu dua anak ini. []

Loading...